REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Peringatan Hari Literasi Internasional menjadi momentum penting bagi perguruan tinggi untuk merespons pergeseran makna literasi di era digital. Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis mendorong mahasiswa agar tidak sekadar menjadi konsumen informasi, tetapi juga memiliki kemampuan verifikasi dan analisis kritis terhadap berbagai sumber digital, termasuk teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Di tengah masifnya penggunaan internet, jurnal elektronik, hingga perangkat AI, literasi kini mencakup kemampuan memahami konteks dan menyaring kebenaran informasi. Perpustakaan perguruan tinggi pun bertransformasi dari sekadar tempat penyimpanan buku menjadi pusat layanan informasi digital yang mendukung riset akademis.
Pustakawan Universitas Nusa Mandiri, Ricky Sediawan, menjelaskan kemudahan akses teknologi harus diimbangi dengan etika dan kecerdasan berliterasi.
“Teknologi seperti AI dan mesin pencari memang memberikan kemudahan akses data dalam hitungan detik. Namun, mahasiswa harus bijak dengan tetap memverifikasi kebenaran informasi melalui sumber perpustakaan yang kredibel agar teknologi menjadi alat bantu belajar, bukan menggantikan proses berpikir mandiri,” katanya dalam rilis yang diterima, pada Rabu (30/9).
Penguatan budaya literasi di lingkungan kampus diharapkan mampu mencetak civitas akademika yang adaptif dan bertanggung jawab.
“Universitas Nusa Mandiri menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ekosistem pembelajaran digital yang seimbang guna melahirkan generasi muda yang kritis dan cerdas dalam menghadapi tantangan zaman,” katanya.




