Jumat 02 Oct 2026 14:15 WIB

Ketika Rumah tak Lagi Sekadar Tempat Tinggal

Ada hubungan antargenerasi yang berlangsung di dalamnya.

LippoLand kini mencoba memperluas perannya dari pengembang kawasan menjadi property enabler.
Foto: Ist
LippoLand kini mencoba memperluas perannya dari pengembang kawasan menjadi property enabler.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi sebagian keluarga, rumah bukan sekadar bangunan untuk berteduh. Di dalamnya ada orang tua yang menua, anak-anak yang tumbuh, ruang untuk berkumpul, sekaligus ruang untuk memiliki kehidupan masing-masing.

Kebutuhan seperti itu membuat rumah terus berubah. Hunian kini tak hanya bicara soal luas dan lokasi, tetapi juga bagaimana sebuah rumah dapat mengikuti perjalanan penghuninya.

Persoalan hunian itu masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan rilis LippoLand, backlog kepemilikan rumah masih mencapai sekitar 9 juta keluarga. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap rumah masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan satu pihak untuk memenuhinya.

CEO LippoLand, David Iman Santosa, mengatakan persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pengembang, perbankan, pemerintah hingga berbagai unsur dalam ekosistem perumahan. “Angka backlog sekitar 9 juta keluarga menunjukkan bahwa kebutuhan perumahan di Indonesia masih sangat besar. Kami menyadari bahwa LippoLand tidak mungkin menjawab kebutuhan tersebut sendirian,” kata David.

Salah satu upaya yang disebutkan LippoLand adalah menghadirkan hunian dengan harga mulai sekitar Rp 100 juta, dengan skema cicilan sekitar Rp 600 ribu per bulan. Dalam segmen tersebut, sekitar 5.000 unit telah terjual.

Namun, angka itu masih kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Karena itu, pengalaman membangun kawasan selama puluhan tahun dipandang belum cukup. Pengembang juga dituntut untuk membaca perubahan kebutuhan masyarakat.

LippoLand, yang memasuki usia ke-39 tahun, menyebut pengalaman tersebut menjadi modal untuk melihat kembali seperti apa rumah yang dibutuhkan masyarakat. Perusahaan yang memulai perjalanan melalui pembangunan Lippo City dan kemudian Lippo Village pada 1987 itu kini mencoba memperluas perannya dari pengembang kawasan menjadi property enabler.

Perubahan kebutuhan itu salah satunya terlihat pada pasar hunian menengah. Segmen dengan harga sekitar Rp1 miliar hingga di bawah Rp2 miliar menjadi salah satu pasar yang banyak digarap pengembang.

Di tengah persaingan itu, rumah tidak cukup hanya menawarkan bangunan. Desain, fungsi, kualitas, harga, dan pilihan pembiayaan ikut menjadi pertimbangan.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi