
Oleh: Samodra Wibawa, FISIPOL UGM; Akademia Noto Negoro
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengenang G30S/PKI 1965 tentu saja adalah mengenang Partai Komunis Indonesia. Peristiwa itu menjadi salah satu tragedi politik paling menentukan dalam sejarah Indonesia sejauh ini.
Menarik memahami bagaimana komunisme tumbuh di Indonesia, dan kita perlu mundur jauh sebelum 1965, sebelum PKI berdiri. Pada novel yang ditulis seorang Belanda: Max Havelaar karya Multatuli.
Di sinilah terdapat sebuah ironi sejarah. Kritik terhadap kolonialisme Hindia Belanda tidak selalu datang dari kaum pribumi. Sebagian justru muncul dari kalangan Belanda sendiri. Multatuli menggugat eksploitasi kolonial melalui sastra. Beberapa dekade kemudian, Henk Sneevliet dan Adolf Baars membawa kritik sosial tersebut ke wilayah yang berbeda: gerakan buruh, sosialisme, pers dan organisasi politik.
Dari sana, gagasan-gagasan kiri bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan pribumi, berkembang menjadi gerakan politik, dan salah satu jalurnya kemudian bermuara pada lahirnya PKI.
Tentu saja, ini bukan garis lurus. Max Havelaar bukan buku komunis, Multatuli bukan pendiri PKI, dan Sneevliet maupun Baars bukan pendiri Indonesia. Tetapi sejarah gagasan sering kali bergerak melalui mata rantai yang panjang dan tidak selalu mengikuti kehendak orang yang pertama kali memulainya.
Multatuli dan Max Havelaar
Eduard Douwes Dekker, nama asli Multatuli, datang ke Hindia Belanda pada 1839 sebagai pegawai pemerintahan kolonial. Pengalamannya sebagai asisten residen di Lebak, Banten, mempertemukannya dengan fakta eksploitasi dan penyalahgunaan wewenang dalam sistem kolonial.
Pengalaman tersebut kemudian dituangkannya dalam Max Havelaar, yang terbit pada 1860.
Novel itu bukan manifesto politik Marxistis. Multatuli terutama menggugat ketidakadilan kolonial serta penderitaan penduduk pribumi. Ia mempertanyakan sebuah sistem yang memungkinkan negeri Belanda menikmati kemakmuran sementara rakyat di negeri jajahan menanggung beban.
Namun kekuatan Max Havelaar tidak berhenti pada sastra. Buku tersebut ikut membentuk tradisi kritik terhadap kolonialisme di Belanda. Bagi generasi setelah Multatuli, karya itu menjadi salah satu rujukan moral dan intelektual untuk menggugat kolonialisme.
Di kemudian hari, kritik terhadap kolonialisme tersebut bertemu dengan berbagai arus pemikiran baru di Eropa: sosialisme, gerakan buruh, dan Marxisme –kritik terhadap kapitalisme. Pembawanya adalah Henk Sneevliet.
Sneevliet bukan murid Multatuli. Multatuli meninggal pada 1887, ketika Sneevliet masih balita. Tapi hubungan keduanya adalah kesinambungan pemikiran. Sejumlah kajian tentang sosialisme Belanda menunjukkan bahwa Max Havelaar menjadi bagian dari tradisi bacaan dan kritik kolonial yang kemudian memengaruhi kalangan sosialis, termasuk lingkungan tempat Sneevliet bergerak.
Dengan kata lain, Multatuli membuka salah satu pintu kritik terhadap kolonialisme; generasi berikutnya memasuki pintu tersebut dengan bahasa politik yang berbeda.
Sneevliet tiba ke Hindia
Henk Sneevliet lahir di Rotterdam pada 13 Mei 1883. Ia bekerja di perusahaan kereta api sebelum aktif dalam gerakan buruh dan sosialisme radikal. Pekerjaannya memperkenalkannya pada persoalan ketimpangan sosial, eksploitasi tenaga kerja dan konflik antara modal dengan buruh.
Pada 1913–1914, Sneevliet datang ke Hindia Belanda. Bersama sejumlah sosialis Belanda, ia mendirikan Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) pada Mei 1914. Organisasi ini pada awalnya banyak beranggotakan orang Eropa, tetapi Sneevliet memahami bahwa gerakan politik tidak akan berkembang jika hanya bergerak di lingkungan orang Belanda.
Karena itu, ia berusaha mendekati organisasi pribumi yang sedang berkembang: Sarekat Islam. Untuk pertama kalinya gagasan sosialisme dan Marxisme berinteraksi intensif dengan gerakan massa pribumi yang memiliki akar sosial yang luas. Dari lingkungan inilah muncul Semaoen dan Darsono. Mereka menjadi tokoh penting dalam gerakan kiri Indonesia.
Strategi Sneevliet adalah block within, yakni memasuki organisasi massa yang telah ada dan membangun pengaruh dari dalam. Artinya gerakan kiri di Hindia bukan gerakan orang Eropa semata, melainkan diperdebatkan dan kemudian dipimpin oleh tokoh-tokoh pribumi.
Adolf Baars dan kekuatan pers
Tokoh kedua adalah Adolf Baars. Ia lahir di Amsterdam pada 20 April 1892 dari keluarga Yahudi Belanda. Setelah menempuh pendidikan teknik di Delft, ia datang ke Hindia Belanda pada akhir 1914, bekerja di Staatsspoorwegen dan kemudian menjadi guru di Koningin Emmaschool Surabaya. Di sekolah inilah dia mengajar Soekarno.
Baars tentu bukan satu-satunya orang yang memengaruhi pemikiran politik Soekarno. Namun, perjumpaan tersebut merupakan bagian dari lingkungan intelektual yang memperkenalkan generasi muda pribumi pada sosialisme dan kritik terhadap kapitalisme-kolonialisme.
Baars juga aktif menggunakan pers sebagai instrumen perjuangan. Ia terlibat dalam penerbitan Het Vrije Woord, kemudian Soeara Merdika dan Soeara Ra’jat. Melalui media ini isu buruh, upah, kemiskinan, kapitalisme, imperialisme dan persatuan kelas diperkenalkan kepada masyarakat pribumi.
Jika Multatuli menggunakan novel untuk menggugat moralitas kolonialisme, Sneevliet menggunakan organisasi politik, Baars memanfaatkan pendidikan dan pers.
Ketiganya bergerak dalam konteks berbeda dengan satu benang merah: kritik terhadap ketidakadilan kolonial.
Dari kritik kolonial ke gerakan politik
Perkembangan politik dunia meletupkan energi baru. Revolusi Rusia 1917 memperkuat daya tarik komunisme dan sosialisme revolusioner di berbagai negara, termasuk Hindia Belanda.
Di dalam Sarekat Islam, perbedaan orientasi politik semakin tajam. Kelompok kiri dan kelompok yang berorientasi pada Islam serta nasionalisme akhirnya mengalami perpecahan. Kelompok kiri yang dipimpin antara lain oleh Semaoen dan Darsono berkembang menjadi Sarekat Islam Merah dan selanjutnya Sarekat Rakyat.
Pada 1920, Perserikatan Komunis di Hindia dibentuk. Beberapa tahun kemudian, pada 1924, organisasi tersebut resmi menjadi Partai Komunis Indonesia.
Jadi, ditarik ke belakang, jejak sejarah PKI adalah ISDV dan jaringan politik yang dibangun Sneevliet bersama tokoh-tokoh Indonesia. Tetapi hubungan ini tidaklah sederhana. PKI bukan sekadar organisasi Belanda yang berganti nama menjadi organisasi Indonesia. Setelah berdiri, ia berkembang melalui dinamika politik Indonesia sendiri: konflik sosial, gerakan buruh, nasionalisme, hubungan dengan gerakan Islam, persoalan agraria, perebutan pengaruh politik dan perubahan situasi internasional.
Demikian pula, apa yang terjadi pada 1965 tidak dapat dianggap sebagai konsekuensi langsung dari aktivitas Sneevliet dan Baars pada awal abad ke-20. Rentang waktu lebih dari empat dekade itu dipenuhi perubahan organisasi, pergantian generasi, perubahan kepemimpinan, transformasi ideologi dan perubahan konstelasi politik, termasuk konflik internal elit organisasi.
Jadi Sneevliet dan Baars bukanlah pendiri PKI, tapi “hanya” pencetus awal dari sosialisme dan komunisme di Hindia Belanda.
Ironi sejarah
Ada ironi dari keseluruhan perjalanan ini. Multatuli adalah orang Belanda yang menggugat sistem kolonial Belanda. Sneevliet adalah orang Belanda yang terlibat dalam gerakan sosialisme dan anti-imperialisme. Baars juga datang dari Belanda dan ikut menyebarkan gagasan kiri di Hindia.
Mereka berasal dari negeri penjajah, tetapi memilih berdiri berseberangan dengan sebagian kepentingan kolonial. Namun, mereka juga bukan pahlawan tunggal yang membebaskan Indonesia.
Indonesia merdeka bukan karena Multatuli, Sneevliet atau Baars. Kemerdekaan 1945 merupakan hasil pergulatan panjang berbagai kekuatan: nasionalisme, gerakan Islam, sosialisme, pendidikan, pers, pemuda, organisasi masyarakat dan perjuangan bersenjata melawan kolonialisme.
Gagasan kiri hanyalah salah satu arus dari gelombang kenegaraan. Bahkan Max Havelaar tidak hanya berpengaruh terhadap lingkungan kiri. Soekarno mengenal karya Multatuli dan menggunakannya dalam argumentasi antikolonialnya.
Kita perlu membedakan antara gagasan, organisasi dan akibat sejarah. Multatuli menulis tentang ketidakadilan. Sneevliet mengorganisasi gerakan politik. Baars menyebarkan gagasan melalui pendidikan dan pers. Tokoh-tokoh pribumi kemudian mengolah gagasan tersebut sesuai dengan pengalaman dan kepentingan politik mereka. Organisasi berubah, ideologi berkembang, dan generasi berganti.
Akhirnya lahirlah PKI, yang beberapa dekade kemudian menjadi salah satu kekuatan politik terbesar dalam sejarah Indonesia sebelum mengalami kehancuran setelah tragedi 1965.
Dengan demikian, hubungan antara Max Havelaar dan PKI bukan hubungan sebab-akibat yang sederhana. Lebih tepat dilihat sebagai sejarah perjalanan gagasan. Dari kritik moral terhadap kolonialisme, lahir tradisi kritik sosial. Dari kritik sosial berkembang sosialisme. Di Hindia Belanda, sosialisme berinteraksi dengan gerakan pribumi. Dari interaksi tersebut berkembang gerakan kiri dan kemudian komunisme Indonesia.
Setiap tahap memiliki aktor, konteks dan pilihan politiknya sendiri.
Melihat G30S dari jarak yang lebih jauh
Karena itu, ketika setiap tahun kita mengenang G30S 1965, kita perlu melihat sejarah tidak hanya pada ujungnya. G30S adalah tragedi besar dalam sejarah Indonesia, di mana PKI memainkan peran penting di dalamnya. Tetapi memahami PKI hanya dari 1965 membuat kita kehilangan proses panjang yang membentuknya.
Kita perlu menengok ke Hindia Belanda pada awal abad ke-20. Bahkan lebih jauh lagi, ke Lebak pada abad ke-19: buku Max Havelaar. Dari buku ini kita menemukan kritik terhadap kolonialisme. Beberapa dekade kemudian muncul Sneevliet dan Baars yang membawa gagasan sosialisme dan perjuangan buruh ke Hindia. Gagasan tersebut kemudian bertemu dengan Semaoen, Darsono dan tokoh-tokoh pribumi lainnya. Dari berbagai persimpangan itulah gerakan kiri Indonesia berkembang hingga akhirnya melahirkan PKI.
Sejarah gagasan sering bekerja seperti itu: Sebuah pertanyaan yang dilemparkan pada suatu zaman dapat menemukan jawaban yang sama sekali berbeda pada zaman berikutnya.
Multatuli bertanya: Bagaimana mungkin sebuah negeri menjadi makmur dengan mengorbankan manusia di negeri jajahan? Generasi berikutnya menjawab pertanyaan itu dengan bahasa yang berbeda —kelas, kapitalisme, imperialisme, eksploitasi, ketimpangan dan revolusi.
Begitulah sejarah bergerak.




