REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Delapan personel Marinir AS terluka ketika sebuah rudal jelajah antikapal milik Iran menghantam kapal yang mereka operasikan di Selat Hormuz pada 14 September. Angka ini menambah panjang daftar tentara AS yang terluka sejak mereka menyerang Iran.
NBC News mengutip tiga pejabat AS melaporkan para Marinir tersebut bertugas sebagai bagian dari tim pendaratan batalyon. Tujuh orang di antaranya adalah personel tamtama dan satu orang adalah perwira.
Menurut para pejabat tersebut, mereka mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis, dengan gejala yang meliputi sakit kepala dan dampak lain yang menyerupai gegar otak.
Tidak ada satupun dari kedelapan personel tersebut yang mengalami cedera serius, dan semuanya kembali bertugas tak lama setelah serangan itu terjadi, ungkap para pejabat tersebut kepada NBC News.
Para pejabat itu menggambarkan sasaran serangan sebagai sebuah kapal laut namun tidak merinci jenis kapalnya. Mereka menyatakan bahwa kapal tersebut bukan merupakan kapal milik Angkatan Laut AS.
Kabar mengenai serangan di Hormuz muncul beberapa hari setelah The Washington Post melaporkan bahwa Pentagon telah menambahkan 37 personel yang terluka ke dalam daftar resmi korban perang melawan Iran. Penambahan tersebut mencakup 29 pelaut Angkatan Laut dan delapan anggota Marinir.
The Post menemukan data peningkatan jumlah korban tersebut melalui Defense Casualty Analysis System (DCAS), yakni basis data publik milik Pentagon yang mencatat personel yang tewas atau terluka dalam perang dan operasi luar negeri. Per Rabu pekan lalu, sistem tersebut mencatat 861 tentara AS terluka sejak perang dimulai.
Basis data tersebut tidak merinci kapan atau bagaimana ke-37 personel itu terluka. Seorang pejabat Angkatan Laut mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa ke-29 pelaut itu telah kembali bertugas, namun tidak menjelaskan jenis cedera yang mereka alami.




