Sabtu 26 Sep 2026 14:47 WIB

Fadli Zon: Teater Bisa Lawan Perdagangan Orang

Kemenbud mendukung pembangunan ekosistem seni dan budaya di Indonesia.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon.
Foto: Dok Republika
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menilai seni pertunjukan seperti teater tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga dapat menjadi tuntunan bagi masyarakat. Seni pertunjukan, menurut dia, mampu membawa pesan moral hingga mengangkat persoalan sosial dan kemanusiaan yang terkadang sulit disampaikan melalui medium lain.

“Dan kami berharap nanti makin banyak lagi tema-tema lain tentang sosial, kemanusiaan yang juga diangkat melalui seni pertunjukan, karena itu akan lebih cepat sampai, lebih mudah diterima. Selain menjadi tontonan, juga menjadi tuntunan,” ujar Fadli seusai menyaksikan pementasan monolog “Kalau Bukan Aku” di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (25/9/2026) malam.

Baca Juga

Fadli mengatakan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) mendukung pembangunan ekosistem seni dan budaya di Indonesia. Dukungan tersebut antara lain diarahkan kepada lima sektor, yakni film, musik, sastra, seni rupa, serta seni pertunjukan, termasuk teater.

Menurut Fadli, seni pertunjukan memiliki kekuatan tersendiri dalam menyampaikan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Pesan yang dikemas melalui cerita dan pengalaman manusia dinilainya dapat lebih mudah menyentuh kesadaran penonton dibandingkan sekadar menyampaikan informasi.

Karena itu, Fadli mengapresiasi monolog “Kalau Bukan Aku” karya aktris Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Pementasan tersebut mengangkat persoalan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan penderitaan keluarga yang ditinggalkan korban.

“Ditampilkan dalam bentuk teater, jadi pesan yang disampaikan melalui monoplay itu bisa menggugah kesadaran orang bahwa di Indonesia ini masih banyak terjadi human trafficking ke luar negeri,” ujar Fadli.

Ia mengatakan korban perdagangan orang berasal dari berbagai daerah, baik provinsi, desa, maupun kota. Sebagian korban, menurut Fadli, bahkan tidak memperoleh keadilan dan keberadaannya tak lagi diketahui sehingga persoalan tersebut membutuhkan perhatian serius.

Pementasan “Kalau Bukan Aku” menjadi bagian dari MonoPlay Festival 2026 yang digelar di Taman Ismail Marzuki pada 23–25 September 2026. Festival bertema “Lakon@cting” itu mempertemukan lakon dan akting melalui eksplorasi teks, tubuh, suara, imajinasi, dan kehadiran seorang aktor di atas panggung.

Dalam monolog tersebut, Sara, sapaan Rahayu Saraswati, membawa penonton melihat perdagangan orang bukan semata melalui angka atau proses hukum. Ia menghadirkan perspektif keluarga korban, yakni mereka yang harus menjalani kehidupan dengan ketidakpastian setelah orang terdekat mereka hilang tanpa kabar.

Sara mengatakan gagasan tersebut berangkat dari pengalamannya menjadi aktivis anti-perdagangan orang sejak 2009. Selama berkecimpung dalam advokasi persoalan tersebut, ia melihat perhatian publik sering kali terpusat pada kasus dan korban, sedangkan suara keluarga yang ditinggalkan tidak banyak terdengar.

“Saya menjadi aktivis anti-perdagangan orang, mengetahui bahwa banyak suara mereka tuh enggak didengar. Tahunya itu hanya dari berita yang istilahnya itu sudah disaring dan itu memang hanya soal kasusnya,” ujar Sara.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi