Sabtu 26 Sep 2026 02:15 WIB

Kajaolalido-Thamrin Jadi Proyek Percontohan Pedestrian Terintegrasi Makassar

Pemkot Makassar merevitalisasi pedestrian Jalan Kajaolalido dan MH Thamrin sepanjang 652,9 meter untuk integrasi kawasan dan transportasi publik yang inklusif.

Rep: antara/ Red: antara
Jalan Kajaolalido-Thamrin jadi proyek percontohan pedestrian Makassar.
Foto: antara
Jalan Kajaolalido-Thamrin jadi proyek percontohan pedestrian Makassar.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR, – Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) memulai proyek revitalisasi pedestrian di kawasan pusat kota. Proyek ini menyasar dua ruas jalan utama, yakni Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin, sebagai bagian dari upaya membangun kawasan percontohan integrasi pejalan kaki.

Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Kota Makassar, Muhammad Amin, mengungkapkan bahwa total panjang pekerjaan revitalisasi tahun ini mencapai sekitar 652,9 meter. Rinciannya, pengerjaan di Jalan Kajaolalido sepanjang 427,9 meter dan di Jalan MH Thamrin sekitar 225 meter.

"Yang kami revitalisasi tahun ini ada dua ruas jalan, yaitu Jalan Kajaolalido dan Jalan MH Thamrin. Panjang pekerjaan di Kajaolalido sekitar 427,9 meter, sedangkan di MH Thamrin sekitar 225 meter," ujar Amin di Makassar, Jumat.

Konsep Inklusif dan Ramah Lingkungan

Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada peremajaan dan peningkatan kualitas trotoar semata. Cakupan pekerjaan juga meliputi penataan utilitas, vegetasi, drainase permukaan, serta penyediaan ruang yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh pejalan kaki. Desainnya secara khusus memperhatikan kebutuhan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, sehingga akses pejalan kaki dapat digunakan secara lebih inklusif.

Proyek ini dirancang untuk memperkuat konektivitas kawasan perkotaan sekaligus mengembalikan fungsi pedestrian sebagai ruang publik yang aman dan nyaman bagi masyarakat. Lebih jauh, revitalisasi pedestrian diarahkan untuk mendukung integrasi dengan moda transportasi publik, sehingga masyarakat memiliki akses berjalan kaki yang lebih baik dari satu titik ke titik lainnya.

Teknologi Beton Berpori untuk Pengelolaan Air

Amin menjelaskan bahwa terdapat sejumlah pendekatan teknis yang membedakan pekerjaan revitalisasi pedestrian tahun ini dengan proyek-proyek sebelumnya. Salah satu inovasi utamanya adalah penggunaan stamp concrete dan beton berpori (porous concrete).

Penggunaan beton berpori memungkinkan air hujan lebih cepat meresap ke dalam tanah. Hal ini diharapkan dapat membantu pengelolaan air hujan di kawasan pedestrian secara lebih efektif. Konsep ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pedestrian yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur pergerakan manusia, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan pengelolaan air di kawasan perkotaan.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara
Berita Terkait
Berita Lainnya

Rekomendasi