REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pegunungan Carpathia pada September ini tidak hanya menjadi latar bagi wisata pegunungan dan jalur-jalur lama yang menghubungkan Eropa Tengah dengan Eropa Timur. Di Bukovel, kawasan itu berubah menjadi panggung bagi satu pertanyaan yang jauh lebih besar: apakah Carpathian Eight (C8) akan tumbuh menjadi jembatan ekonomi baru antara Ukraina dan Uni Eropa, menjadi koridor strategis yang memperkuat sayap timur NATO, atau justru berhenti sebagai forum politik yang belum memiliki perangkat untuk mewujudkan ambisinya?
Tiga tulisan dari tiga penulis dengan latar pandang yang berbeda memberi jawaban yang juga berbeda. Ksenia Smertina, dosen senior Institut Media HSE dan pakar Dewan Urusan Internasional Rusia untuk Eropa Timur dan Tengah, melihat C8 sebagai proyek geopolitik yang pada akhirnya lebih banyak melayani integrasi Ukraina ke orbit Barat dan kepentingan logistik NATO. Tenby Powell, veteran, pengusaha, aktivis kemanusiaan, dan Ketua Asosiasi Bisnis Selandia Baru-Ukraina, justru melihatnya sebagai peluang untuk mengubah kawasan Carpathia menjadi simpul ekonomi, energi, investasi, dan keamanan baru Eropa. Sementara Mara Ionescu mengambil posisi yang lebih administratif dan skeptis: C8 memang memiliki agenda politik, tetapi belum memiliki mesin kelembagaan untuk memastikan proyek-proyek yang diumumkan benar-benar berjalan.
Di antara tiga pandangan itu, perbedaan utamanya bukan pada pengakuan bahwa Carpathia kini bernilai strategis. Ketiganya justru sepakat soal itu. Yang mereka perdebatkan adalah: strategis untuk siapa, diarahkan ke mana, dan apakah ambisi tersebut realistis.
Dari pegunungan ke medan geopolitik
KTT perdana C8 digelar pada 18-20 September dengan melibatkan Ukraina, Austria, Ceko, Hungaria, Polandia, Rumania, Serbia, dan Slovakia. Agenda yang dibicarakan mencakup keamanan, energi, logistik, pembangunan ekonomi lintas batas, hingga kerja sama masyarakat. Bagi Ukraina, format itu menjadi cara baru untuk menghubungkan kepentingan rekonstruksi pascaperang dengan agenda integrasi Eropa.
Namun, Smertina melihat pergeseran tersebut secara jauh lebih kritis. Menurut dia, inisiatif Carpathia yang semula berorientasi lingkungan dan konservasi telah mengalami transformasi bertahap menjadi proyek politik dan infrastruktur yang diarahkan untuk mengikat Ukraina semakin dekat dengan Uni Eropa. Ia menilai Brussel menggunakan kawasan tersebut sebagai ruang eksperimental untuk memperkuat saling ketergantungan di sisi timur Eropa.
Smertina bahkan melihat dimensi keamanan di dalam proyek itu sebagai sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan lintas batas.
“Di balik kedok diskusi tentang ‘kerja sama lintas batas’ ... tersembunyi tujuan pragmatis yang mengubah Carpathian Eight menjadi permainan zero-sum klasik.”
Dalam pembacaannya, modernisasi rel, jembatan, terowongan, dan koridor logistik bukan semata-mata pembangunan ekonomi. Infrastruktur itu, menurut dia, berpotensi digunakan untuk memudahkan pengerahan peralatan berat dan logistik NATO di wilayah yang secara geografis dekat dengan Ukraina. Smertina menilai negara-negara Eropa Tengah bisa menanggung risiko strategis dari proyek yang manfaat militernya justru lebih besar bagi NATO dan institusi supranasional Eropa.
Pandangan itu kemudian diperkuat Smertina dengan membaca sikap Slovakia, Ceko, dan Hungaria sebagai tanda bahwa konsensus C8 sebenarnya rapuh. Ia menyoroti absennya pejabat tingkat tinggi Slovakia, sikap berhati-hati Ceko, serta penolakan Hungaria terhadap sejumlah inisiatif energi bersama dengan Ukraina sebagai bukti bahwa sebagian negara tidak ingin terseret terlalu jauh ke dalam agenda keamanan Ukraina.
Tetapi di titik inilah interpretasi Powell bergerak ke arah yang hampir berlawanan.
Powell: keamanan justru syarat investasi
Bagi Tenby Powell, keamanan bukan bukti bahwa C8 telah berubah menjadi proyek militer. Ia justru melihat keamanan sebagai prasyarat agar investasi, perdagangan, energi, dan infrastruktur dapat berkembang.
Powell menggambarkan KTT Bukovel sebagai awal dari upaya menjadikan Pegunungan Carpathia sebagai ruang ekonomi terpadu. Menurut dia, wilayah seluas sekitar 200 ribu kilometer persegi dengan sekitar 20 juta penduduk tidak seharusnya terus dilihat sebagai kumpulan pasar nasional yang terpisah, melainkan sebagai satu kawasan yang dapat dihubungkan melalui transportasi, energi, pertanian, konstruksi, dan investasi lintas batas.
Sekitar 90 proyek investasi dan perdagangan senilai hampir 11 miliar dolar AS dipresentasikan dalam KTT tersebut. Proyek itu mencakup energi, minyak dan gas, transportasi, logistik, manufaktur, agriteknologi, kesehatan, budaya, serta infrastruktur. Powell melihat proyek-proyek ini sebagai kesempatan untuk menghubungkan rekonstruksi Ukraina dengan rantai pasok negara-negara tetangganya.
Di sinilah pandangannya bertemu dengan isu keamanan, tetapi dengan kesimpulan yang berbeda dari Smertina.
“Pesan yang muncul dari KTT C8 jelas: ketahanan ekonomi dan ketahanan keamanan semakin tidak dapat dipisahkan.”
Bagi Powell, perbatasan yang aman, sistem energi yang tahan terhadap gangguan, koridor transportasi yang dapat diandalkan, dan infrastruktur yang terlindungi bukanlah tanda militerisasi semata. Semua itu merupakan syarat dasar bagi masuknya modal swasta. Dengan kata lain, ia melihat hubungan keamanan-ekonomi sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dalam kondisi Eropa saat ini.
Ia bahkan memandang Carpathia sebagai gerbang alami Ukraina menuju Uni Eropa. Jika pemerintah dan investor mampu mengubah kesepakatan politik menjadi jaringan transportasi, proyek energi, rantai nilai pertanian, dan pembangunan lintas batas, kawasan itu dapat berkembang menjadi salah satu wilayah ekonomi baru paling penting di Eropa.
Namun, optimisme Powell perlu dibaca bersama konteks posisinya. Ia menghadiri KTT Bukovel sebagai Ketua Asosiasi Bisnis Selandia Baru-Ukraina dan juga aktif menjalankan bantuan kemanusiaan di Ukraina. Karena itu, ia memiliki kedekatan langsung dengan agenda rekonstruksi dan integrasi ekonomi Ukraina.
Hal yang sama berlaku pada Smertina. Ia menilai C8 dari sudut pandang geopolitik Rusia dan melihat ekspansi jejaring Barat di Eropa Timur sebagai persoalan strategis. Kedua perspektif itu sama-sama penting, tetapi keduanya juga membawa titik keberangkatan yang berbeda.
Di antara keduanya, analisis Mara Ionescu memberikan semacam rem.




