REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI — Pembelajaran numerasi di sekolah dasar tidak hanya membutuhkan penguasaan konsep matematika, tetapi juga pendekatan yang membuat materi lebih dekat dengan pengalaman siswa. Di Cimahi, 53 guru dari lima sekolah dasar mengikuti program pengembangan pembelajaran numerasi yang memadukan budaya Sunda, teknologi Augmented Reality (AR), dan pembelajaran mendalam.
Program tersebut dilaksanakan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat bersama KKG Gugus Tirto Adhi Suryo, Kota Cimahi, dengan dukungan Dinas Pendidikan Kota Cimahi. Program dipimpin Dian Anggraeni Maharbid bersama Sandi Budhi Iriawan dan Faridatul 'Ala serta mahasiswa pendamping Rifqah Nur Alvisyahri dan Michelle Miranda.
Pendekatan yang digunakan menggabungkan pembelajaran mendalam dengan etnomatematika Sunda dan teknologi AR. Sejumlah permainan dan objek budaya lokal, seperti congklak, engklek, galah asin, pola anyaman, serta arsitektur tradisional Sunda, digunakan untuk mengaitkan konsep matematika dengan lingkungan yang dikenal siswa.
Ketua Tim PkM Dian Anggraeni Maharbid menjelaskan, program tersebut disusun berdasarkan pemetaan kebutuhan guru di sekolah mitra. Hasil pemetaan awal menunjukkan rata-rata kompetensi pedagogis guru mencapai 76,8 persen berdasarkan lima indikator keterampilan mengajar, sementara kemampuan dalam asesmen formatif dan pemberian bantuan bertahap atau scaffolding masih perlu diperkuat.
Tim Ubhara Jaya telah menyiapkan modul pelatihan yang memuat konsep pembelajaran mendalam, integrasi etnomatematika, dan pengembangan media AR untuk pembelajaran numerasi. Modul tersebut telah memasuki proses penerbitan ISBN.
Selain modul, tim juga menyusun 30 rancangan awal pembelajaran berbasis etnomatematika dan menyiapkan 13 QR 3D marker sebagai bahan awal pengembangan media AR. Media tersebut ditujukan untuk memberikan visualisasi interaktif terhadap objek budaya Sunda sekaligus menghubungkannya dengan konsep matematika.
Rancangan pembelajaran mencakup penggunaan congklak atau dakon untuk operasi hitung, engklek atau sondah untuk geometri bangun datar, galah asin untuk pengukuran, serta pola anyaman untuk mengenalkan simetri dan pola. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan modul ajar dan media AR yang dapat digunakan di sekolah mitra.
Pengawas sekolah yang terlibat dalam program menilai pendekatan tersebut dapat membantu guru membuat pembelajaran matematika lebih dekat dengan kehidupan siswa. “Dengan adanya kegiatan ini, guru mendapatkan cara baru untuk mengemas pembelajaran matematika agar lebih dekat dengan kehidupan dan budaya yang ada di sekitar siswa. Apalagi ketika etnomatematika dipadukan dengan teknologi Augmented Reality, saya melihat ada potensi yang besar untuk membuat siswa lebih tertarik dan aktif dalam belajar," kata Dian dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026).
Kesiapan penerapan teknologi juga didukung oleh infrastruktur sekolah dan guru. Berdasarkan laporan kemajuan program, 89 persen guru memiliki smartphone yang mendukung aplikasi AR, sementara 73 persen sekolah mitra memiliki akses internet.
Pelaksanaan program menyesuaikan agenda Dinas Pendidikan Kota Cimahi dan kalender akademik lima sekolah mitra. Pelatihan Deep Learning Numerasi dan Workshop Pengembangan Media AR dengan Assemblr Edu dijadwalkan pada akhir Agustus 2026, sedangkan Workshop Desain Etnomatematika Sunda masih dikoordinasikan bersama mitra.
Setelah pelatihan, pendampingan diarahkan pada pengembangan modul ajar, media AR, dan penerapan desain pembelajaran numerasi di kelas. Evaluasi dilakukan melalui tes kemampuan numerasi siswa, angket minat belajar, evaluasi kualitas produk, serta forum refleksi bersama guru.
Program juga menyiapkan repositori digital, penerbitan ISBN, pengurusan hak cipta, publikasi ilmiah, dan pembentukan komunitas praktisi guru numerasi di lingkungan KKG Gugus Tirto Adhi Suryo. Keberlanjutan tersebut menjadi penting agar pendekatan yang diperkenalkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh guru di sekolah.




