REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi seseorang yang sedang mencari pekerjaan, waktu menunggu tidak selalu mudah. Lamaran bisa dikirim berkali-kali, tetapi panggilan kerja belum tentu segera datang. Di tengah masa tunggu itu, sebuah platform digital karya anak bangsa mencoba menawarkan pilihan lain: membuat waktu tetap produktif sekaligus bernilai ekonomi.
Gagasan tersebut dikembangkan melalui OpiniJob, platform yang memadukan layanan riset pasar dan bursa kerja dengan verifikasi identitas menggunakan e-KTP dan teknologi biometrik. Sistem tersebut menggabungkan pencocokan wajah (face match) dan deteksi kehadiran pengguna (liveness detection) untuk memastikan pengguna yang berada di balik sebuah akun merupakan individu nyata.
Pendekatan ini sekaligus menyasar persoalan yang berkembang seiring pesatnya aktivitas digital, seperti akun fiktif, penyalahgunaan identitas, pengisian survei secara berulang, hingga penggunaan bot. Founder dan CEO OpiniJob, Julizar, mengatakan platform tersebut sejak awal dirancang untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada penggunanya.
“Kami ingin membangun ekosistem digital yang bersih dan transparan. Dengan integrasi e-KTP dan verifikasi biometrik, kami berupaya meminimalkan celah bagi akun fiktif dan bot. Setiap pengguna harus merupakan individu nyata yang dapat dipertanggungjawabkan identitasnya,” ujar Julizar.
Menurut dia, verifikasi identitas bukan semata-mata ditempatkan sebagai fitur keamanan. Teknologi tersebut juga menjadi fondasi bagi pengembangan layanan yang mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan masyarakat.




