REPUBLIKA.CO.ID, GARUT -- Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) memulai rangkaian program Kerja Sama Kemitraan Kompetitif (KREATIF) Integrated Corporation of Agricultural Resources Empowerment (I-CARE) melalui kegiatan kunjungan lapangan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada 20-21 Agustus 2026.
Kegiatan bertajuk “Transformasi Pembenihan Kentang melalui Integrasi Bioreaktor, Teknologi Ex-Vitro dan Sistem Smart Agrologistik Korporasi I-CARE Garut” tersebut menjadi tahap awal untuk melihat secara langsung kondisi mitra, kebutuhan di lapangan, serta kesiapan sarana pendukung program.
Ketua tim peneliti dari UBSI, Dr Taufik Baidawi, mengatakan kunjungan lapangan dilakukan untuk memastikan program yang dirancang bersama BRIN dan BRMP dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan mitra.
“Visiting ini langkah awal untuk melihat kondisi mitra secara langsung, baik dari sisi pembibitan, screen house, maupun kebutuhan teknis lainnya,’’ katanya dalam keterangan, Rabu (26/8/2026).
Dari hasil kunjungan ini, kata dia, tim bisa menyusun tahapan program agar pelaksanaannya lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.
Pada hari pertama, Kamis (20/8/2026), tim mengunjungi PT Champ dan bertemu Direktur PT Champ Muhammad Khudori serta Ketua Koperasi H Iyep. Pertemuan membahas tujuan dan ruang lingkup program I-CARE sekaligus memperkenalkan tim yang terlibat.
Tim kemudian melakukan pembahasan terkait bibit kentang yang akan digunakan dalam program, termasuk survei laboratorium penyimpanan bibit G0. Selain itu, tim meninjau screen house milik PT Champ sebagai bagian dari persiapan teknis pelaksanaan program.
Menurut Dr Taufik, peninjauan langsung terhadap fasilitas mitra menjadi bagian penting karena pelaksanaan program tidak hanya berfokus pada teknologi yang dikembangkan, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan sarana dan kondisi mitra.
“Teknologi yang dikembangkan harus bisa diterapkan dan memberikan manfaat bagi mitra. Karena itu, kami perlu melihat kondisi fasilitas yang ada, termasuk screen house dan sistem pembibitan yang selama ini digunakan,” jelasnya.
Memasuki hari kedua, Jumat (21/8/2026), tim berkunjung ke ke Koperasi Produsen Sukaresmi Mulus Rahayu (SMR) pada pukul 09.00-11.00 WIB. Fokusnya, penyampaian rencana dan tujuan program kepada mitra serta survei kondisi screen house yang membutuhkan renovasi.
Tim juga berdiskusi mengenai kebutuhan teknis pelatihan yang nantinya diberikan kepada para petani. Pembahasan tersebut dilakukan agar materi pelatihan dapat disesuaikan dengan kondisi, kemampuan, dan kebutuhan petani di lapangan.
“Selain aspek teknologi, kami juga melihat kesiapan sumber daya manusianya. Pelatihan nantinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan petani agar teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi benar-benar dapat digunakan,” kata Dr Taufik.
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan ke PT Champ pada pukul 13.00-14.30 WIB. Tim membahas rencana pelaksanaan program, khususnya penyusunan timeline penanaman bibit kentang. Pada kesempatan tersebut, tim peneliti juga mengambil sampel planlet bibit kentang yang akan digunakan dalam tahapan penelitian.
Dr Taufik menjelaskan, pengambilan sampel dan penyusunan jadwal penanaman menjadi bagian penting dalam memastikan tahapan penelitian dapat berjalan secara terukur.
“Kami mengambil sampel planlet sekaligus membahas timeline penanaman. Ini penting supaya setiap tahapan dapat dipantau dan dikoordinasikan bersama mitra, mulai dari pembibitan hingga tahap berikutnya,” ungkapnya.
Kunjungan lapangan tersebut melibatkan tim peneliti dari UBSI yang terdiri atas Dr Taufik Baidawi, Jenie Sundari, Sifa Fauziah, dan Musriatun Napiah. Sementara itu, tim peneliti dari BRIN dan BRMP yang turut terlibat terdiri atas Ir Sulusi Prabawati, Kusmana, Abdul Latif, Dr Sari Intan Kailaku, Yayan Rudiyana, Dr Darojat Prawiranegara, Abdi Hudayya, serta Shinta Hartanto.
Kolaborasi lintas institusi tersebut menjadi bagian penting dalam mengintegrasikan kepakaran riset, teknologi pertanian, serta kebutuhan mitra. Melalui sinergi tersebut, program I-CARE diharapkan dapat memberikan dampak nyata bagi pengembangan pembenihan kentang di Garut.
Dr Taufik menambahkan, program I-CARE Garut tidak hanya diarahkan pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada penerapan teknologi agar dapat mendukung produktivitas dan keberlanjutan sektor pertanian.
“Harapannya, integrasi bioreaktor, teknologi ex-vitro, dan sistem smart agrologistik ini dapat menghasilkan model pembenihan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Yang paling penting, teknologi tersebut nantinya dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi mitra serta petani,” pungkasnya.
Melalui program I-CARE Garut, UBSI bersama BRIN dan BRMP berupaya memperkuat kolaborasi riset dan penerapan teknologi di sektor pertanian.
Kunjungan lapangan ini menjadi fondasi awal untuk memastikan setiap tahapan program berjalan sesuai kondisi mitra sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi menghasilkan penelitian yang dapat diimplementasikan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.




