Oleh: Diky Wardhani, Dosen Teknologi Informasi, Cyber University
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) membawa perubahan besar dalam berbagai bidang, termasuk dunia pemrograman.
Salah satu tren yang banyak dibicarakan adalah vibe coding, sebuah pendekatan di mana seseorang membuat program hanya dengan memberikan instruksi secara umum kepada AI tanpa memahami detail teknis atau logika pemrograman itu sendiri.
Meskipun terdengar praktis dan efisien, tren ini memunculkan kekhawatiran, terutama bagi para pengajar dan pembelajar pemula yang sedang membangun fondasi pengetahuan mereka.
Secara sederhana, vibe coding mengandalkan kemampuan AI untuk menghasilkan kode secara otomatis. Pengguna hanya perlu menjelaskan tujuan atau gambaran kasar dari aplikasi yang ingin dibuat.
AI kemudian menyusun struktur kode, memilih teknologi, hingga menuliskan baris-baris program lengkap. Sekilas, hal ini terlihat sangat menguntungkan, terutama bagi mereka yang merasa kesulitan memahami sintaks atau konsep dasar pemrograman.
Namun, di balik kemudahan tersebut tersimpan risiko besar jika tren ini digunakan tanpa pemahaman yang memadai.
Masalah utama dari vibe coding bukan pada teknologinya, melainkan pada cara orang memanfaatkannya. Banyak pemula yang menganggap belajar coding kini tidak lagi memerlukan proses panjang.
Mereka merasa cukup menjadi “pengarah” tanpa perlu menguasai dasar seperti variabel, fungsi, algoritma, atau struktur data. Padahal, kemampuan tersebut merupakan pondasi penting untuk menjadi seorang programmer yang kompeten.
Jika seseorang hanya berfokus pada hasil instan tanpa mempelajari konsep di baliknya, mereka akan kesulitan ketika menghadapi masalah nyata yang memerlukan penelusuran logika atau debugging.
Penggunaan AI dalam pemrograman seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses belajar. AI dapat membantu menjelaskan konsep, memberi contoh implementasi, atau menunjukkan alternatif penyelesaian masalah.
Namun, yang menulis dan mengerti kode tetaplah manusia. Jika AI menghasilkan kode yang salah atau kurang efisien, pengguna tanpa pemahaman dasar akan kesulitan memperbaikinya.
Ini dapat berujung pada frustrasi, proyek yang tidak berjalan, atau ketergantungan penuh pada AI tanpa keterampilan teknis yang memadai.
Dalam konteks pembelajaran, vibe coding mirip dengan seseorang yang langsung ingin mengangkat beban berat di gym tanpa latihan dasar. Hasilnya mungkin terlihat cepat, tetapi risiko cedera juga meningkat.
Begitu pula dalam pemrograman: jika fondasi tidak kuat, maka kemampuan berkembang akan terhambat. Sebaliknya, jika dasar diperkuat terlebih dahulu, AI justru bisa menjadi partner yang sangat berguna untuk mempercepat proses kerja dan meningkatkan produktivitas.
Karena itu, penting bagi pemula bersikap bijaksana menghadapi tren ini. Belajarlah memahami konsep inti pemrograman terlebih dahulu. Gunakan AI untuk membantu memperjelas hal-hal yang belum dipahami, bukan untuk mengerjakan semuanya.
Dengan cara ini, vibe coding dapat menjadi alat yang mendukung proses belajar, bukan menggantikannya. Teknologi hadir untuk mempermudah manusia, tetapi kontrol dan pemahaman tetap harus berada di tangan kita.




