Senin 13 Jul 2026 06:32 WIB

AS Terus Bombardir Iran

Serangan baru AS ke Iran dan balasan ke negara-negara Teluk masuki sepekan.

Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Senin (13/7/2026). Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya, CENTCOM menyebut serangan dilakukan atas perintah langsung Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga

"Panglima Tertinggi telah memerintahkan serangan ini untuk meminta pertanggungjawaban pasukan Iran," demikian pernyataan CENTCOM.

Serangan terbaru itu terjadi setelah beberapa hari terakhir kawasan Teluk memanas akibat meningkatnya konfrontasi militer yang dipicu upaya AS untuk melemahkan kendali maritim Iran di kawasan Selat Hormuz.

Media-media Iran melaporkan serangkaian ledakan mengguncang wilayah selatan negara itu tak lama setelah pengumuman dari CENTCOM.

Televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan terdengar di sekitar Desa Tahrovi, Kabupaten Sirik, di sebelah barat Bandar Abbas, serta di Kota Jask. Sedikitnya tiga ledakan dilaporkan terjadi di Jask sebelum disusul dentuman-dentuman lainnya.

Ledakan juga dilaporkan terjadi di Pulau Qeshm.

Berdasarkan laporan awal dari Iran, salah satu serangan menghantam menara telekomunikasi di dekat Tahrovi, Sirik. Lokasi tersebut sebelumnya juga dilaporkan menjadi sasaran dalam gelombang serangan AS terdahulu.

Koresponden Al Mayadeen di Teheran melaporkan, serangan terbaru AS menyasar jalur-jalur transportasi strategis, pelabuhan utama, infrastruktur komunikasi, serta berbagai fasilitas ekonomi di Iran.

Dua pelabuhan strategis yang dilaporkan menjadi sasaran ialah Pelabuhan Chabahar dan Pelabuhan Bandar Abbas. Keduanya merupakan pusat aktivitas maritim penting yang menopang perdagangan Iran. Pelabuhan Chabahar sendiri dalam beberapa tahun terakhir memiliki nilai strategis yang semakin besar karena menjadi penghubung perdagangan Iran dengan Pakistan dan China.

Selain itu, serangan juga dilaporkan menyasar fasilitas komunikasi di Provinsi Hormozgan yang menghadap langsung ke Selat Hormuz dan Laut Oman.

Laporan lain menyebut serangan udara AS turut menghantam Ahvaz dan Mahshahr di Provinsi Khuzestan, kawasan yang menjadi pusat industri petrokimia Iran, serta sejumlah lokasi industri dan ekonomi lainnya.

Serangan juga dilaporkan menyasar wilayah Provinsi Markazi, termasuk kawasan Khondab yang berada di dekat fasilitas nuklir Arak. Namun, hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai dampak serangan tersebut.

Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan akan terus membalas setiap aksi militer yang dilakukan terhadap negaranya.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Teheran tetap berpegang pada strategi memberikan respons tegas terhadap setiap bentuk agresi militer.

Ia juga mendesak parlemen Iran segera mengesahkan regulasi yang mengatur respons keras apabila terjadi serangan terhadap Pemimpin Revolusi Islam, para komandan militer senior, maupun tokoh nasional lainnya yang telah ditetapkan pemerintah.

"Tidak boleh ada tindakan terhadap Iran yang dibiarkan tanpa balasan," kata Gharibabadi.

Eskalasi terbaru ini terjadi setelah Iran sebelumnya melancarkan operasi balasan dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer yang dioperasikan Amerika Serikat di berbagai kawasan Timur Tengah.

Berita Lainnya

Rekomendasi