Jumat 10 Jul 2026 05:31 WIB

Ledakan di Iran Selatan, Israel Kembali Serang Iran

Serangan ke Iran melanggar perjanjian gencatan senjata sementara.

Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Warga berjalan di dekat mural anti-AS di sebuah jalan di Teheran, Iran, pada 9 Juli 2026. AS kembali menyerang Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata telah

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Sejumlah ledakan kembali terdengar di sejumlah wilayah di selatan Iran. Israel disebut mendalangi ledakan-ledakan itu setelah pihak Amerika Serikat menyangkal melakukan serangan.

Surat kabar lokal Mehr News melaporkan terjadinya tiga ledakan di Konarak, wilayah selatan Iran (provinsi Sistan-Baluchistan), yang merupakan lokasi pelabuhan strategis yang menghadap ke Teluk Oman. Ledakan-ledakan ini terjadi menyusul serangkaian serangan terkini yang menyasar sejumlah lokasi di Iran selatan, termasuk bandara, jaringan logistik, serta reaktor nuklir Bushehr. 

Infrastruktur sipil, seperti jalur kereta api, juga menjadi sasaran serangan di Iran bagian utara. Serangan-serangan ini terjadi setelah adanya ancaman dari Trump untuk meningkatkan tekanan terhadap para pejabat Iran guna memaksa mereka kembali ke meja perundingan. 

Namun, para pejabat Iran menyatakan bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan paksaan AS. Sebelumnya, serangan juga terjadi di Ahvaz, provinsi Khuzestan, Iran selatan. 

Serangan-serangan tersebut juga bertepatan dengan prosesi pemakaman mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas akibat tindakan AS dan Israel pada bulan Februari.

Menurut Gubernur Mohammad Younes Haqqani sebagaimana dilaporkan kantor berita IRNA, jet-jet tempur menyasar zona militer angkatan laut di kota Konarak, Iran selatan, dalam dua gelombang serangan. Dalam keterangannya kepada IRNA, Haqqani mengatakan bahwa dua ledakan terdengar di kawasan militer angkatan laut tersebut dan menyatakan bahwa "area ini disasar oleh jet tempur musuh dalam dua gelombang". 

Ia menambahkan bahwa tim penyelamat, aparat keamanan, dan instansi terkait lainnya segera dikerahkan ke lokasi kejadian, serta menyebutkan bahwa penyelidikan mengenai serangan dan rinciannya sedang berlangsung.

Belum ada kabar dari Gedung Putih maupun pernyataan dari Pentagon terkait pengumuman operasional mengenai ledakan yang dilaporkan terjadi di Iran. Laporan dari sejumlah media di Amerika Serikat—yang mengutip seorang pejabat AS—bahwa AS tidak terlibat.

Seorang pejabat pertahanan AS telah mengonfirmasi kepada Aljazirah bahwa militer tidak melancarkan serangan di Iran dalam beberapa jam terakhir. Pejabat AS tersebut tidak mengungkapkan kepada kami mengenai dugaan militer AS terkait penyebab ledakan-ledakan di Iran itu. Pihaknya hanya menegaskan bahwa AS tidak terlibat.

Mantan perwira Korps Marinir AS Dan Grazier mengatakan kepada Aljazirah bahwa "sangat mungkin" Israel pelaku serangan terkini di Iran. "Sangat mungkin Israel berada di balik tindakan militer apa pun yang sedang berlangsung saat ini," ujarnya. 

"Saya rasa kita harus menunggu konfirmasi dari mereka. Menurut saya, Amerika Serikat—khususnya Donald Trump—akan mengakui tanggung jawab jika pelakunya adalah Amerika Serikat. Namun sejauh ini, Israel dan Amerika Serikat telah bekerja sama erat sepanjang konflik ini, sejak akhir Februari lalu. Sangat mungkin pihak Israel bertanggung jawab atas apa yang terjadi hari ini." 

Saat membahas serangan terhadap Iran pekan ini, Grazier mengatakan  bahwa serangan tersebut tampaknya bertujuan membatasi kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. "Mereka tampaknya menyerang target-target yang dapat digunakan untuk pertahanan terhadap serangan udara lanjutan, jadi mereka menyasar aset pertahanan udara. Namun, mereka juga mengincar kapal-kapal cepat berukuran kecil dan lokasi peluncuran rudal yang selama ini digunakan untuk mengganggu lalu lintas pelayaran.”

Berita Lainnya

Rekomendasi