REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Jutaan warga Iran dilaporkan memadati jalan-jalan di Ibu Kota Teheran untuk mengikuti prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Media pemerintah Iran menyebut prosesi tersebut sebagai salah satu pengerahan massa terbesar dalam sejarah modern negara itu.
Press TV melaporkan, para pejabat Iran menggambarkan prosesi tersebut sebagai "perkumpulan publik terbesar dalam sejarah modern Iran". Ribuan pelayat telah memadati Jalan Azadi sejak pagi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei.
Komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Jenderal Hassan Hassanzadeh, mengimbau masyarakat agar tetap tertib selama mengikuti prosesi.
"Kami meminta masyarakat bergerak dengan tenang menuju Lapangan Azadi," kata Hassanzadeh, seperti dikutip Press TV.
Pemerintah Iran berupaya menghindari insiden desak-desakan yang pernah terjadi saat pemakaman pendahulu Khamenei, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989. Dalam peristiwa tersebut, lebih dari 10 orang meninggal dunia dan lebih dari 10.000 lainnya mengalami luka-luka akibat berdesakan.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan iring-iringan truk yang membawa peti jenazah Khamenei melintasi lautan manusia di Jalan Azadi. Menurut laporan media Iran, dalam iring-iringan tersebut juga terdapat peti jenazah putri Khamenei, cucunya yang masih berusia tiga tahun, menantu laki-laki, dan menantu perempuan.
Seluruhnya syahid akibat serangan AS dan Israel ke Iran pada Februari lalu.
Jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa menuju Lapangan Azadi sebagai titik akhir prosesi pemakaman di Teheran. Setelah itu, jenazah akan diberangkatkan ke kota suci Karbala dan Najaf di Irak sebelum dimakamkan di Mashhad, Iran.
Selama prosesi berlangsung, para pelayat tampak membawa bendera dan spanduk merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan seruan untuk menuntut balas atas darah pemimpin yang gugur.
Di berbagai sudut kompleks Grand Mosalla Teheran, terlihat spanduk bertuliskan "Ya Latharat al-Hussein" (Wahai Penuntut Balas Hussein) dan slogan baru "Ya Latharat al-Khamenei" (Wahai Penuntut Balas Khamenei).
Lihat postingan ini di Instagram
Dalam tradisi Syiah, seruan "Ya Latharat al-Hussein" merujuk pada Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW, yang gugur dalam Pertempuran Karbala pada 680 M. Peristiwa tersebut menjadi simbol perjuangan melawan kezaliman dan diperingati setiap tahun oleh umat Syiah.
Penggunaan slogan "Ya Latharat al-Khamenei" dinilai sebagai simbol yang mengaitkan kematian Khamenei dengan narasi pengorbanan Imam Hussein, sekaligus menyerukan pembalasan terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran tersebut.




