REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto selama 1,5 tahun terakhir ini tidaklah sia-sia. Banyak hasil konkret dicapai melalaui lawatan Presiden ke berbagai negara serta event berskala internasional.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya mengatakan, kunjungan Kepala Negara salah satu tujuannya membangun hubungan dekat antarpemimpin dunia. Menjalin kedekatan dengan masing-masing negara.
Menurut Teddy, hal itu penting mengingat dinamika global saat ini, mulai dari konflik di Ukraina hingga krisis di Timur Tengah. Jika terjadi suatu krisis atau dampak krisis, tentu tidak secara tiba-tiba negara meminta bantuan kepada negara lainnya.
Untuk itu, perlu kedekatan emosional. ‘’Jadi salah besar kalau dibilang gagah-gagahan atau seremonial. Kita mesti lihat apa yang telah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,’’ katanya dalam unggahan resmi Sekretariat Kabinet, Senin (1/6/2026).
Dalam serangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo, ujar Teddy, jelas ada capaian konkretnya. Pertama, Pertama, Indonesia masuk BRICS. Blok ini mencakup Brasil, Rusia, India, Cina, Afrika Selatan, Arab Saudi, Mesir, UEA, Etiopia, Iran, dan Indonesia.
‘’Manfaatnya apa? Ya sekarang ini, di tengah konflik situasi negara terjamin, stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik, stok pangan juga aman,’’ ungkap Teddy.
Kedua, tarif nol persen di Uni Eropa. Ada 25 negara yang tergabung di dalamnya. Menurut dia, perjanjian tarif nol persen ini sudah diurus belasan tahun lalu tetapi kapan ini terwujud? ’’Yaitu di zaman Presiden Prabowo, tepatnya pada 2025 lalu.’’
Capaian ketiga dari kunjungan luar negeri Presiden, total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun ini, merujuk data BKPM, sekitar Rp 2.430 triliun. Contoh konkret lainnya, bulan lalu, Presiden ke Jepang dan Korea, kembali langsung ada investasi sekitar Rp 575 triliun.
Keempat, kata Teddy, sekarang Indonesia mempunyai alat pertahanan yang kuat. Itu dari banyak sekali negara. Di antaranya Prancis, AS, Rusia, Cina, Inggris, Eropa juga dari banyak negara lainnya.
Kemudian yang kelima, program ibadah haji 2025 dan khususnya tahun ini berjalan lancar. Nyaris tidak ada kendala-kendala signifikan. Di sisi lain, Indonesia satu-satunya negara yang punya perkampungan haji di arab Saudi.
Dalam hal ini, kata Teddy, Arab Saudi mengubah undang-undangnya agar suatu negara bisa mempunyai lahan di situ yang digunakan jamaah haji. Keenam, Presiden Prabowo betul-betul berperan aktif di isu palestina.
‘’Buktinya, kita ada drop off logistik dari udara yang sudah dilakukan beberapa kali. Tidak semua negara bisa sebab itu harus ada diplomasi dengan negara-negara yang wilayah udaranya dilewati pesawat pengangkut logistik tersebut,’’ jelas Teddy.
Indonesia juga mengirimkan kapal rumah sakit ke palestina. Lalu, Pemerintah pun menyekolahkan anak-anak palestina di universitas yang ada di Indonesia. Sekarang mungkin sudah sampai 100 orang yang sudah sekolah di Indonesia.
Capain ketujuh, kata Teddy, baru pekan lalu ada WNI diamankan pihak Israel di laut bebas. Melalui diplomasi dari menlu dan teman-teman Kemenlu, selang beberapa hari dikembalikan ke Indonesia. Jadi ini lewat diplomasi yang diberitakan maupun yang tertutup.
Ingat ya, kata Teddy, itu hasil konkret selama 1,5 tahun. ’’Semua itu hasil diplomasi yang Presiden Prabowo lewat berbagai macam cara baik yang dipublikasikan maupun tidak dipublikasikan. Karena yang terpenting bagi kami hasil konkretnya, Itu yang kita utamakan.’’
Kemudian yang terakhir, jelas Teddy, masalah pertemuan dengan kepala negara lain di event-event tertentu. Ini yang menentukan adalah Presiden serta saran dari menlu.
Merekalah yang mengetahui mana yang prioritas, mana pertemuan yang harus diutamakan, pertemuan yang bisa langsung atau cukup melalui sambungan telepon. Mana pertemuan yang perlu diberitakan dan tidak.
‘’Saya rasa semua diplomat hebat tahu itu. Jadi kurang elok kalau itu masih dipermasalahkan. Jadi ruang untuk setiap masukan kita terima tapi jangan sampai kita mengaburkan fakta tentang semua hasil yang telah kita capai,’’ kata Teddy menegaskan.