REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Militer Israel dilaporkan tengah bersiap mencegat armada Global Sumud Fleet, flotilla sipil yang membawa 426 peserta dengan 54 kapal dari perairan Antalya, Turki, menuju Jalur Gaza untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan. Media Israel melaporkan pasukan angkatan laut, termasuk unit komando elite, telah dikerahkan ke laut untuk mengantisipasi operasi intersepsi dalam beberapa jam ke depan.
Flotilla yang menurut penyelenggara telah memasuki perairan internasional itu menjadi misi terbaru Global Sumud dalam upaya menantang blokade Israel atas Jalur Gaza yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Peserta armada mengonfirmasi perkembangan tersebut kepada para wartawan. Mereka menyebut aktivitas drone tak dikenal dan pergerakan militer terdeteksi di sekitar konvoi kapal.
Menurut laporan harian Israel, Maariv, pengerahan militer mencakup kapal rudal, kapal patroli kelas Super Dvora, armada milik unit komando laut Shayetet 13, serta sedikitnya satu kapal pendarat.
Lokasi pasti yang direncanakan Israel untuk mencegat flotilla belum diungkapkan. Namun, persiapan operasi disebut telah berlangsung dan dapat dilakukan dalam hitungan jam.
Dari aplikasi pelacakan Global Sumud Flotilla, kapal Boralize yang disertai jurnalis Republika Bambang Noroyono berjarak sekitar 300 mil laut dari perairan Gaza, dan berlokasi di sebelah barat Siprus. Sementara kapal yang disertai jurnalis Republika, Thoudy Badai, Orzugluk, juga pada lokasi yang sama. Kedua kapal kemudian hilang sinyal pukul 05.44 WIB.
Seorang pejabat militer Israel yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Yedioth Ahronot bahwa tentara dapat menggunakan “senjata dingin” dalam operasi terhadap armada tersebut. Istilah itu merujuk pada penggunaan alat pemukul dan granat kejut non-senjata api, yang memicu kekhawatiran di kalangan penyelenggara flotilla.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menggelar rapat kabinet keamanan pada Ahad malam untuk membahas konvoi yang diperkirakan mencapai pesisir Gaza dalam 48 jam mendatang. Seorang pejabat politik Israel menyebut Netanyahu dijadwalkan kembali mengadakan pertemuan keamanan lanjutan pada Senin.
Di antara peserta flotilla kali ini terdapat Sayf Abu Kish dan Thiago Avila, dua aktivis yang sebelumnya dilaporkan ditahan pasukan Israel dalam misi Sumud musim semi 2026. Keduanya disebut dibawa secara paksa ke Israel setelah ditahan dan tidak langsung dibebaskan.
Keikutsertaan kembali kedua aktivis itu dinilai menunjukkan tekad penyelenggara flotilla untuk terus menekan blokade laut Israel atas Gaza meski menghadapi risiko prib adi yang besar.




