Jumat 08 May 2026 17:58 WIB

Tunggang Hilang, Berani Mati

Keteladanan Inyiak Rasul dalam Menjaga Martabat Umat

Sekolah Sumatera Thawalib.yang diampu Haji Abdul Karim Amrullah.
Foto: wikipedia
Sekolah Sumatera Thawalib.yang diampu Haji Abdul Karim Amrullah.

Oleh: Pramono, Guru Besar Kajian Manuskrip Unand Padang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada masa ketika perlawanan tidak dimulai dari teriakan, melainkan dari kesabaran duduk bersama, dari rapat-rapat panjang yang kadang berlangsung hingga larut malam. Di Minangkabau awal 1930-an, jejak itu masih dapat kita baca hari ini melalui manuskrip catatan rapat para ulama. Lembaran sederhana yang merekam bagaimana sebuah sikap besar dirumuskan dengan tenang, tetapi penuh keyakinan.

Di situlah kita melihat bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang keras. Ia bisa tumbuh dari musyawarah, dari tulisan, dari kesepakatan yang lahir dalam kesadaran bersama.

Semua bermula dari kebijakan kolonial yang dikenal sebagai Ordonansi Sekolah Liar. Bagi pemerintah Belanda, ini adalah upaya penertiban. Namun, bagi masyarakat Minangkabau, kebijakan ini terasa sebagai ancaman terhadap ruang pendidikan yang mereka bangun sendiri. Sekolah-sekolah yang tumbuh dari inisiatif umat—Sumatera Thawalib, Diniyah School—tiba-tiba ditempatkan dalam posisi yang harus tunduk atau dianggap melanggar.

Padahal dari ruang-ruang itulah lahir generasi yang mulai memahami agama sekaligus dunia, yang belajar bukan hanya membaca kitab, tetapi juga membaca zaman.

Tidak mengherankan jika kebijakan itu segera memantik reaksi. Namun yang menarik, reaksi itu tidak meledak menjadi amarah yang liar. Ia disusun. Ia dipikirkan. Ia dirumuskan dalam rapat-rapat ulama yang mempertemukan berbagai kalangan, termasuk mereka yang sebelumnya sering berbeda pandangan.

Dalam salah satu catatan manuskrip, disebutkan dengan rinci waktu dan tempat rapat: petang Kamis, malam Jumat, 10–11 Syakban 1351, di Surau Adam, Balai-Balai, Padang Panjang. Di sana, para ulama berkumpul, membicarakan ordonansi yang baru diberlakukan. Mereka tidak sekadar mengeluh, tetapi mulai menyusun langkah.

photo
Manuskrip rapat 10–11 Syakban 1351, di Surau Adam, Balai-Balai, Padang Panjang. - (Dok Pramono)

Rapat-rapat itu tidak singkat. Dalam satu catatan, pertemuan berlangsung hingga pukul dua malam, ditutup menjelang subuh, lalu dilanjutkan kembali keesokan paginya. Semua biaya ditanggung bersama. Tidak ada fasilitas mewah. Yang ada hanya kesadaran bahwa mereka sedang menjaga sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Yang lebih menarik lagi, dari catatan-catatan itu tidak ditemukan rencana perlawanan yang bersifat kekerasan. Justru sebaliknya, para ulama sepakat untuk melawan dengan tulisan. Mereka diwajibkan menyusun karangan yang berisi penolakan terhadap ordonansi, disertai argumentasi yang bersandar pada Alquran, Hadis, dan pertimbangan akal sehat. Tulisan-tulisan itu kemudian dibacakan, dinilai, dan disempurnakan bersama.

Di sinilah kita melihat wajah perlawanan yang khas: tenang, terukur, tetapi tidak goyah.

Namun, setiap gerakan tetap membutuhkan sosok yang berdiri di depan. Dan di titik itulah, Haji Abdul Karim Amrullah alias Inyiak Rasul mengambil peran yang tidak ringan. Ia bersedia menjadi Ketua Panitia Penolak Ordonansi Sekolah Liar—sebuah posisi yang sejak awal disadari sebagai tanggung jawab yang sarat risiko.

Hamka dalam Ayahku mencatat dengan jernih bahwa jabatan itu bukan kemegahan, melainkan bahaya yang harus dipikul. Dalam situasi ketika pemerintah kolonial semakin waspada dan represif, tampil di depan berarti siap menghadapi konsekuensi.

Orang-orang dekatnya memahami hal itu. Mereka mengingatkan agar ia tidak terlalu menonjol. Akan tetapi, Haji Rasul tidak dibentuk oleh pertimbangan aman. Ia dibentuk oleh keyakinan bahwa menjaga kebenaran tidak bisa ditunda hanya karena risiko.

Dengan tegas ia menyatakan bahwa selama ulama masih memimpin umat kepada jalan yang benar, kekuasaan yang tidak sejalan dengan nilai itu tidak akan pernah merasa nyaman. Pernyataan ini bukan sekadar sikap pribadi, tetapi cerminan dari pandangan yang lebih dalam: bahwa tanggung jawab ulama bukan hanya mengajar, tetapi juga menjaga martabat umat.

Dari sinilah semboyan “Tunggang hilang, berani mati” menemukan maknanya. Ia bukan dorongan untuk nekat, melainkan pengingat bahwa ada saat ketika seseorang harus siap kehilangan demi mempertahankan yang lebih hakiki.

Keteladanan ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia merupakan hasil tempaan panjang. Inyiak Rasul pernah belajar di Mekkah kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang ulama besar yang dikenal teguh dalam prinsip. Dari sana ia membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi juga keberanian untuk bersikap.

Dan itu telah tampak sejak sebelumnya. Pada 1928, ketika Guru Ordonansi diberlakukan, ia juga berada di garis depan penolakan dan berhasil menyatukan ulama yang berbeda pandangan. Apa yang terjadi pada 1932 adalah kelanjutan dari sikap yang sama: menjaga ruang umat dari intervensi yang melemahkan.

Sejarah kemudian mencatat bahwa sikap ini tidak datang tanpa harga. Pada 1941, Inyiak Rasul ditangkap dan diasingkan. Namun peristiwa itu justru menegaskan satu hal: bahwa kekuasaan mungkin dapat membatasi gerak seseorang, tetapi tidak mudah memadamkan gagasan yang telah tumbuh di tengah masyarakat.

Hari ini, ketika kita melihat kembali manuskrip catatan rapat itu—dengan tulisan Jawi yang sederhana, dengan catatan agenda dan keputusan yang tampak biasa—kita sebenarnya sedang melihat sesuatu yang luar biasa. Kita melihat bagaimana sebuah perlawanan dirancang bukan dengan amarah, tetapi dengan ilmu, kesabaran, dan persatuan.

Di situlah keteladanan Inyiak Rasul menemukan maknanya yang paling dalam. Ia mengajarkan bahwa menjaga martabat umat tidak selalu berarti melawan dengan keras. Kadang ia berarti bertahan dengan sabar, berpikir dengan jernih, dan bertindak dengan terukur. Namun, ketika batas itu benar-benar terancam, ia juga menunjukkan bahwa keberanian tidak boleh ditawar.

Dalam kehidupan hari ini, mungkin kita tidak lagi berhadapan dengan ordonansi seperti masa kolonial. Akan tetapi, tantangan tetap ada, dalam bentuk yang lebih halus. Godaan untuk berkompromi, untuk memilih aman, untuk diam ketika seharusnya bersuara, sering datang tanpa kita sadari. Di situlah semboyan itu kembali menemukan relevansinya.

“Tunggang hilang, berani mati” bukan sekadar kenangan sejarah. Ia adalah cermin. Ia mengajak kita bertanya, sejauh mana kita bersedia menjaga nilai yang kita yakini. Sejauh mana kita berani mempertahankan martabat, meskipun harus kehilangan sesuatu.

Karena pada akhirnya, keteladanan tidak diukur dari kata-kata, tetapi dari pilihan. Dan, Inyiak Rasul telah menunjukkan bahwa dalam keadaan paling sulit sekalipun, memilih untuk tetap berdiri adalah bentuk keberanian yang paling jernih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement