Rabu 06 May 2026 18:14 WIB

PSPPA FMIPA Unisba Kukuhkan 30 Apoteker Baru

Apoteker adalah bagian penting dalam pengendalian penggunaan obat yang rasional.

Pengambilan Sumpah Apoteker ke-IX yang digelar di Aula Unisba, Rabu (6/5/2026).
Foto: Unisba
Pengambilan Sumpah Apoteker ke-IX yang digelar di Aula Unisba, Rabu (6/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Islam Bandung (Unisba) kembali melahirkan tenaga kesehatan profesional melalui Pengambilan Sumpah Apoteker ke-IX yang digelar di Aula Unisba, Rabu (6/5/2026).

Sebanyak 30 apoteker baru resmi diambil sumpahnya setelah dinyatakan lulus berdasarkan hasil rapat yudisium FMIPA Unisba. Para lulusan telah menempuh seluruh rangkaian pendidikan, mulai dari pembelajaran akademik hingga Praktik Kerja Profesi Apoteker (PKPA) di berbagai wahana praktik, seperti rumah sakit, apotek, industri farmasi, puskesmas, hingga Pedagang Besar Farmasi (PBF) yang bekerja sama dengan Unisba. Seluruh peserta dinyatakan memenuhi standar kelulusan, baik dari aspek kompetensi, akademik, maupun administrasi.

Rektor Unisba, Harits Nu’man mengatakan momentum sumpah apoteker merupakan puncak dari perjalanan panjang pendidikan yang telah ditempuh para lulusan. Ia menegaskan capaian tersebut bukan hanya tentang gelar, tetapi juga tentang tanggung jawab moral dan profesional di tengah masyarakat.

“Menjadi apoteker bukanlah proses yang mudah. Ini adalah hasil dari perjuangan panjang, doa orang tua, serta kerja keras yang luar biasa. Karena itu, pegang teguh sumpah yang telah diucapkan, dan jalankan profesi dengan integritas, loyalitas, kemandirian, serta keunggulan,” ujarnya.

Rektor juga menekankan pentingnya nilai-nilai yang dirangkum dalam karakter “ILMU PADI”, yakni integritas, loyalitas, mandiri, unggul, profesional, amanah, adaptif, disiplin, dan ikhlas. Menurutnya, nilai keikhlasan menjadi fondasi penting dalam menjalankan profesi, terutama ketika pengabdian tidak selalu diiringi imbalan material.

Sementara itu, perwakilan apoteker baru, Apt. Selvi Kurnia, S.Farm., mengungkapkan rasa haru dan syukur atas pencapaian yang diraih bersama rekan-rekannya. Ia mengenang perjalanan panjang yang penuh tantangan, mulai dari rasa lelah hingga keraguan, yang akhirnya terbayar dengan keberhasilan hari ini.

“Hari ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal dari perjalanan baru. Kami menyadari bahwa sumpah ini adalah amanah besar yang harus kami jalankan dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada orang tua, dosen, dan seluruh pihak yang telah mendukung proses pendidikan hingga tuntas.

Perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Epy Yuginingsih Hastuti menegaskan profesi apoteker memiliki peran strategis dalam sistem kesehatan nasional. Ia mengingatkan bahwa praktik kefarmasian harus berlandaskan regulasi, seperti Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, serta berbagai aturan turunan lainnya.

“Apoteker bukan sekadar penyedia obat, tetapi juga penjamin mutu, edukator masyarakat, serta bagian penting dalam pengendalian penggunaan obat yang rasional,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap era digital, termasuk pemanfaatan telefarmasi dalam pelayanan kefarmasian.

Senada dengan itu, perwakilan Kolegium Farmasi Indonesia, Hidayat Setiadji menekankan kelulusan uji kompetensi merupakan langkah awal, bukan akhir dari proses pembelajaran. Ia mengingatkan bahwa dunia kerja akan menghadirkan tantangan yang lebih kompleks, sehingga integritas dan kemampuan adaptasi menjadi kunci utama.

“Jangan pernah berhenti belajar. Profesi ini bukan hanya tentang obat, tetapi tentang manusia dan kemanusiaan,” kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement