REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketegangan geopolitik global yang dipicu konflik di Timur Tengah kembali menguji ketahanan energi negara-negara besar, termasuk China sebagai importir minyak mentah terbesar dunia.
Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi energi global, tidak hanya memicu volatilitas harga minyak, tetapi juga memperlihatkan bagaimana negara dengan ketergantungan impor tinggi berupaya mengamankan pasokannya di tengah ketidakpastian.
Dalam konteks yang lebih luas, respons Beijing menunjukkan bahwa krisis energi kini tidak lagi sekadar isu ekonomi, melainkan bagian dari strategi geopolitik jangka panjang. Ketahanan energi menjadi instrumen kekuatan nasional, sejajar dengan militer dan diplomasi, terutama ketika konflik regional berpotensi mengganggu rantai pasok global.
China selama ini mengandalkan strategi “asuransi ganda” untuk menjaga stabilitas pasokan energi domestik. Pendekatan ini menggabungkan diversifikasi sumber impor dengan pembangunan cadangan strategis dalam skala besar. Ketika aliran minyak dari Teluk Persia terganggu, Beijing dengan cepat mengalihkan pasokan ke Rusia, Brasil, Afrika, dan kawasan lain, sebagaimana diberitakan ABC.
Data menunjukkan, meskipun impor dari kawasan Teluk turun signifikan, total impor minyak China hanya mengalami penurunan terbatas. Bahkan, pasokan dari Rusia meningkat dua digit, sementara pembelian dari Amerika Latin mencapai rekor tertinggi. Hal ini menegaskan fleksibilitas jaringan energi China dalam merespons krisis secara cepat.
Namun demikian, ketahanan tersebut tidak sepenuhnya kebal terhadap tekanan. Para analis memperkirakan dampak penuh dari gangguan di Selat Hormuz baru akan terasa beberapa pekan setelah gangguan terjadi, mengingat waktu pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Asia Timur. Selain itu, langkah Amerika Serikat yang memperketat akses kapal ke pelabuhan Iran berpotensi memperdalam tekanan terhadap pasokan global.
Dalam jangka pendek, China masih mampu menyeimbangkan tekanan pasokan melalui kombinasi cadangan besar dan penurunan permintaan domestik. Dengan cadangan mencapai hampir 1,4 miliar barel, setara sekitar 120 hari impor, Beijing memiliki bantalan strategis yang relatif kuat dibandingkan standar internasional.
Langkah ini bukan respons spontan, melainkan hasil perencanaan selama beberapa dekade. Sejak awal 2000-an, China secara sistematis membangun cadangan energi dan memperluas jaringan impor untuk mengantisipasi kerentanan terhadap titik-titik sempit maritim seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka. Strategi tersebut diperkuat dengan peningkatan produksi domestik serta percepatan transisi menuju energi terbarukan.