Sabtu 21 Mar 2026 09:42 WIB

Khutbah Idulfitri, Ketua ICMI Serukan Umat Islam Membangun Peradaban Berkemajuan

Arif menyampaikan Wasatiyyat Islam yang mencakup tujuh nilai utama.

Sejumlah umat Muslim melaksanakan Shalat Idul Fitri di Reindwart Avenue Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Kebun Raya Bogor kembali digelar pasca vakum selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Sejumlah umat Muslim melaksanakan Shalat Idul Fitri di Reindwart Avenue Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/4/2023). Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Kebun Raya Bogor kembali digelar pasca vakum selama tiga tahun akibat pandemi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Arif Satria menekankan kesucian jiwa setelah Ramadan harus diarahkan untuk menghadapi berbagai tantangan global. Hal itu dia sampaikan saat menyampaikan khutbah Idulfitri 1447 H di Kebun Raya Bogor, Sabtu (21/3/2026) berjudul 'Idul Fitri dan kontekstualisasi Nilai Islam dalam Rekonstruksi Peradaban Baru'.

Ketua BRIN ini mengingatkan bahwa manusia saat ini menghadapi disrupsi besar seperti konflik geopolitik yang berpotensi memicu krisis energi, krisis lingkungan akibat deforestasi dan degradasi lahan, meningkatnya jumlah pengungsi, kemiskinan ekstrem, serta kelaparan dunia.

Sebagai umat Islam, ada tanggung jawab moral untuk merespons kondisi tersebut dengan langkah-langkah proaktif dan solutif. Islam dipahami sebagai agama peradaban yang bersifat holistik, mencakup nilai tauhid, kemanusiaan, pendidikan, keadilan sosial, toleransi, dan kepedulian lingkungan. Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam membangun masyarakat yang berkemajuan, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Arif menegaskan pentingnya konsep Wasattiyatul Islam (moderat dalam Islam), yaitu sikap adil dan seimbang dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam diajak untuk menjadi umat yang moderat, tidak berlebihan, serta mampu menjaga keseimbangan dalam ibadah, bersikap dan kehidupan bermasyarakat, sebagaimana telah dicontohkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga masa kini.

Arif menyampaikan Wasatiyyat Islam sebagai ajaran Islam yang moderat dan berimbang, yang diwujudkan dalam 7 nilai utama:

1. Tawazun (Keseimbangan)

Keseimbangan dalam kehidupan modern mencakup berbagai aspek. Dalam lingkungan, tawazun berarti menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan kelestarian alam melalui praktik ramah lingkungan seperti energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan konservasi. Dalam bisnis, tawazun mendorong model berkelanjutan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.

Di era digital, tawazun berarti bijak menggunakan teknologi dengan tetap menjaga interaksi sosial dan kesehatan mental, menghindari dampak negatif seperti kelelahan akibat penggunaan AI berlebihan. Dalam pendidikan, tawazun diwujudkan melalui kurikulum seimbang yang menggabungkan pengetahuan akademik dengan keterampilan hidup, sosial, dan nilai moral untuk membentuk karakter yang utuh.

2. I’tidal (Keadilan dan Proporsionalitas)

Menekankan sikap adil dalam tiga aspek yakni hubungan antarmanusia, distribusi ekonomi, dan penegakan hukum. Islam mendorong keadilan sosial melalui zakat dan melarang diskriminasi, sehingga tercipta kesejahteraan dan harmoni masyarakat.

"Setidaknya ada tiga prinsip pokok keadilan, yaitu keadilan dalam hubungan antarmanusia, keadilan ekonomi dan pembagian kekayaan, serta keadilan dalam sistem hukum. Implementasi ketiga prinsip ini bukan hanya akan menciptakan masyarakat yang adil, tetapi juga akan menghasilkan keharmonisan sosial, mengurangi konflik, dan mendorong kesejahteraan bersama," kata Arif.

3. Tasamuh (Toleransi)

Mengajarkan sikap menghormati perbedaan agama, budaya, dan latar belakang. Umat Islam diajak hidup rukun, saling mengenal, dan mencari titik persamaan demi terciptanya perdamaian.

4. Syura (Musyawarah)

Penyelesaian masalah melalui dialog dan kesepakatan bersama. Musyawarah memperkuat partisipasi, memperkaya perspektif, dan menghasilkan keputusan yang adil serta stabil, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

5. Islah (Perbaikan)

Upaya memperbaiki kondisi masyarakat melalui perubahan positif. Diperlukan mindset optimis, penguasaan ilmu dan inovasi, serta integritas tinggi untuk melawan ketidakadilan, korupsi, dan ketertinggalan.

6. Qudwah (Keteladanan)

Al-qudwah (keteladanan) merupakan konsep penting dalam Islam yang merujuk pada figur atau perilaku yang patut dicontoh dalam kehidupan. Di era modern, nilai ini semakin relevan di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta berbagai isu sosial dan lingkungan, sehingga keteladanan menjadi kunci dalam mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Al-qudwah tercermin dari keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai contoh utama dalam seluruh aspek kehidupan, dengan nilai kejujuran, keadilan, dan integritas. Dalam konteks modern, al-qudwah juga berarti kepemimpinan inspiratif yang mampu membawa perubahan dan masa depan. Di era digital, keteladanan diwujudkan melalui pengaruh positif, seperti menyebarkan informasi yang benar, menghormati orang lain, dan menjadi inspirasi di tengah maraknya konten negatif.

7. Muwatanah (Cinta Tanah Air)

Muwatanah adalah sikap cinta tanah air yang mencakup rasa memiliki, tanggung jawab, dan partisipasi dalam kehidupan berbangsa. Di tengah keberagaman seperti di Indonesia, nilai ini penting untuk mempersatukan perbedaan dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika. Selain memperkuat persatuan nasional, muwatanah juga menjadi jembatan menuju nilai kemanusiaan universal, dengan mendorong sikap saling menghormati antarbangsa demi perdamaian global.

Arif mengajak agar tujuh nilai Wasatiyyat Islam yakni tawazun, i’tidal, tasamuh, syura, islah, qudwah, dan muwatanah dapat menjadi budaya hidup, baik secara individu maupun kolektif di era modern.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement