Jumat 13 Mar 2026 13:42 WIB

Beragam Respons Global atas Perang Amerika Serikat–Israel Melawan Iran

Amerika secara terbuka mengindikasikan keinginan melihat perubahan kekuasaan di Iran

Warga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab untuk menunjukkan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi yang baru dilantik, Ayatollah Mojtaba Khamenei, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026. Almarhum Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer gabungan Israel dan AS di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Warga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab untuk menunjukkan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi yang baru dilantik, Ayatollah Mojtaba Khamenei, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026. Almarhum Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer gabungan Israel dan AS di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketegangan geopolitik dunia melonjak tajam setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meledak menjadi perang terbuka pada 28 Februari 2026. Operasi militer besar yang dilancarkan Washington bersama Tel Aviv tidak hanya memicu serangan balasan dari Teheran, tetapi juga menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam krisis yang berpotensi mengguncang stabilitas global.

Serangan awal yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel menargetkan berbagai fasilitas militer strategis Iran, termasuk instalasi program misil dan nuklir. Operasi tersebut berlangsung sangat intens, dengan ratusan serangan udara dalam waktu singkat yang diarahkan ke infrastruktur militer hingga kepemimpinan politik Iran.

Baca Juga

Lembaga riset Realities of Algorithmic Warfare di Utrecht University melaporkan bahwa dalam empat hari pertama operasi, jumlah serangan terhadap Iran setara dengan total serangan selama enam bulan kampanye militer melawan ISIS di Irak dan Suriah.

Serangan tersebut menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, serta menimbulkan korban sipil yang besar, termasuk lebih dari 150 siswi sekolah.

Awalnya Washington menyatakan operasi itu sebagai langkah preemptif untuk menghadapi ancaman dari program nuklir Iran. Namun tidak lama kemudian, pejabat Amerika secara terbuka mengindikasikan keinginan melihat perubahan kekuasaan di Teheran.

Serangan tersebut sekaligus menghancurkan momentum diplomasi yang sebelumnya sedang berlangsung. Saat itu, Amerika Serikat dan Iran tengah menjalani negosiasi tidak langsung mengenai kesepakatan nuklir baru di Geneva, Swiss, dengan Oman bertindak sebagai mediator.

Serangan Balasan dan Ancaman Krisis Energi Global

Tak lama setelah serangan tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan rudal dan drone ke Israel serta berbagai fasilitas milik Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan Teluk.

Serangan ini menargetkan pangkalan militer, fasilitas minyak, dan infrastruktur strategis di beberapa negara yang menjadi tuan rumah instalasi militer AS, termasuk Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman.

Situasi semakin genting ketika ancaman terhadap jalur energi global muncul akibat ketegangan di Selat Hormuz, jalur perdagangan energi paling strategis di dunia yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Pasar energi langsung bereaksi keras. Harga minyak dunia melonjak hingga 9 persen, mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun. Minyak jenis Brent crude sempat menyentuh harga 101,60 dolar AS per barel sebelum ditutup di level 100,46 dolar AS per barel.

Konflik ini juga melibatkan kelompok proksi Iran di kawasan, termasuk Hezbollah di Lebanon yang meluncurkan roket ke wilayah Israel.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement