Jumat 13 Mar 2026 03:59 WIB

Netanyahu Ungkap Kerja Sama Dengan Negara Teluk Serang Iran

Sementara menyerang Iran, Israel merancang perluasan normalisasi Timur Tengah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.
Foto: EPA/ABIR SULTAN
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato di Knesset, parlemen Israel, di Yerusalem, 2 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk pertama kalinya mengakui serangan negaranya bersama Amerika Serikat (AS) menggandeng negara-negara regional dalam serangan ke Iran. Serangan ke Iran, menurutnya akan membuka babak baru diplomasi Israel dengan negara sekitar.

“Saat ini, saya dan tim sedang menjalin aliansi tambahan dengan negara-negara di kawasan ini – aliansi yang beberapa minggu lalu tampaknya tidak terbayangkan,” ujarnya dalam keterangan pers semalam, tanpa menjelaskan lebih lanjut. 

Baca Juga

Pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump menjadi perantara perjanjian normalisasi Abraham Accords antara Israel dan beberapa negara Arab. Telah berulang kali dikatakan oleh Netanyahu dan Trump bahwa mereka berharap dapat memperluas perjanjian tersebut sebagai bagian dari penataan kembali regional yang lebih luas.

Serangan AS ke Iran memang dimungkinkan dengan keberadaan pangkalan militer AS di negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Saudi, Qatar, dan Irak. Pangkalan-pangkalan itu kemudian jadi sasaran serangan balasan Iran.

Netanyahu dalam keterangannya juga memuji hubungannya dengan Trump di tengah kampanye pemboman AS-Israel yang sedang berlangsung di Iran. 

photo
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara dengan Presiden Donald Trump sebelum keberangkatan presiden dari Bandara Internasional Ben Gurion Israel pada 23 Mei 2017. - (Kobi Gideon/GPO)

"Kami telah menciptakan aliansi yang berbeda dengan Amerika Serikat sebelumnya – aliansi dengan teman baik kami, teman pribadi saya, Presiden Trump. Kami berbicara hampir setiap hari. Kami berbicara dengan bebas, bertukar ide dan saran, dan membuat keputusan bersama," kata Netanyahu dalam konferensi persnya. 

Dia mengatakan bahwa dia dan Trump telah berbicara beberapa waktu yang lalu, dan presiden mengatakan kepadanya, 

"'Hubungan kami seratus kali lebih kuat daripada hubungan apa pun yang pernah ada antara presiden Amerika dan perdana menteri Israel. Kami tidak hanya memikirkan negara kami, atau hanya tentang generasi ini. Kami memikirkan generasi mendatang – tentang masa depan umat manusia.'”

Berkebalikan dengan yang ia katakan, kepemimpinan Netanyahu bersama Trump belakangan jadi kekuatan perusak stabilitas terbesar di dunia. Secara total, puluhan ribu orang tak bersalah tewas dalam serangan-serangan yang mereka perintahkan di Palestina, Lebanon, Yaman, dan kini Iran.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement