REPUBLIKA.CO.ID, NICOSIA -- Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui bahwa serangkaian pemboman yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel tak akan mampu mengubah rezim di Iran. Macron justru memperkirakan perang yang kini telah meluas di Timur Tengah dapat berlangsung selama berpekan-pekan.
"Saya rasa Anda tidak dapat mencapai perubahan rezim yang mendalam atau perubahan dalam sistem politik hanya melalui pengeboman," kata Macron di atas kapal induk Charles de Gaulle milik Prancis yang saat ini berada di Laut Mediterania pada Senin (9/3/2026), dikutip laman Al Arabiya.
Dia berpendapat, perang yang dipicu serangan gabungan AS-Israel ke Iran kini berada dalam fase intens. "Ini bisa berlangsung beberapa hari, mungkin beberapa pekan," ujarnya.
Sebelum tiba di kapal induk Charlesde Gaulle menggunakan helikopter, Macron terlebih dulu mengunjungi Siprus. Saat berada di sana, Macron sempat menyampaikan bahwa saat ini Prancis dan sekutunya tengah mempersiapkan misi "pertahanan" untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Pascaserangan AS-Israel, Iran diketahui sempat menutup dan kini membatasi secara ketat lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Menurut Macron, Selat Hormuz sangat penting dan strategis untuk perdagangan internasional. "Ini penting untuk perdagangan internasional, tetapi juga untuk aliran gas dan minyak, yang harus dapat meninggalkan wilayah ini sekali lagi,” ucapnya.