Ahad 08 Mar 2026 13:24 WIB

Survei Adidaya Institute Ungkap Palestina Merdeka Jadi Isu Paling Strategis bagi Indonesia

Indonesia memiliki peluang untuk berpean sebagai swing state dalam diplomasi global.

Ratusan massa dari Aliansi Bela Palestina Boikot Israel (Ababil) menggelar aksi Peduli Palestina bertajuk Gencatan Senjata Berdarah di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (13/2/2026).
Foto: Edi Yusuf
Ratusan massa dari Aliansi Bela Palestina Boikot Israel (Ababil) menggelar aksi Peduli Palestina bertajuk Gencatan Senjata Berdarah di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (13/2/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Adidaya Institute menilai eskalasi konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel menandai perubahan penting dalam dinamika geopolitik Timur Tengah. Situasi ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi memicu pergeseran konfigurasi kekuatan global, mulai dari stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, hingga keseimbangan sistem multipolar yang sedang terbentuk.

Ekonom Adidaya Institute Bramastyo B Prastowo mengatakan, dinamika tersebut memiliki implikasi strategis bagi Indonesia yang melampaui kawasan Timur Tengah. “Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi strategis yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah,” kata Bramastyo B Prastowo dalam keterangannya, Sabtu (7/3).

Merujuk hasil survei Adidaya Institute terhadap 72 pakar nasional, isu Palestina Merdeka memiliki bobot strategis tertinggi, sekitar 23 persen. Temuan tersebut menempatkan isu Palestina sebagai sumber legitimasi moral dan politik yang kuat bagi pemerintah dalam menentukan posisi di tengah eskalasi konflik global.

Bramastyo mengatakan, hasil analisis tersebut menempatkan isu Palestina Merdeka sebagai anchor utama dalam struktur kebijakan strategis pemerintah. Menurut dia, Palestina tidak hanya menjadi isu solidaritas kemanusiaan, tetapi juga sumber legitimasi normatif yang memengaruhi kredibilitas posisi Indonesia dalam sistem internasional.

Adidaya Institute juga menilai Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran sebagai swing state dalam diplomasi global.

Dengan sejarah anti-kolonial, tradisi politik luar negeri bebas aktif, serta hubungan yang relatif seimbang dengan berbagai blok kekuatan dunia, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk berperan sebagai penyeimbang dalam arsitektur perdamaian internasional.

Dalam konteks tersebut, salah satu isu yang memicu polemik adalah keterlibatan Indonesia dalam konfigurasi diplomasi Board of Peace (BoP). Sejumlah kalangan mempertanyakan manfaat strategis BoP bagi kepentingan nasional Indonesia.

Bramastyo mengatakan, keputusan pemerintah untuk tetap berada dalam BoP perlu dipahami sebagai langkah strategis dan tidak sekadar pilihan politik jangka pendek. Menurut dia, partisipasi tersebut sejalan dengan amanat UUD 1945 yang menegaskan peran aktif Indonesia dalam menciptakan ketertiban dunia.

“Namun Adidaya Institute juga mencermati bahwa eskalasi serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan internasional terhadap efektivitas arsitektur BoP dalam membangun perdamaian dan rekonstruksi Palestina,” ujar Bramastyo.

Karena itu, Adidaya Institute menilai pemerintah perlu melakukan kalibrasi geopolitik secara cepat terhadap setiap konfigurasi strategis yang memengaruhi kepentingan nasional. Evaluasi tersebut penting untuk memastikan posisi Indonesia tetap selaras dengan kepentingan diplomasi dan ekonomi.

“Pemerintah tentu tidak perlu terburu-buru mengambil langkah keluar dari (BoP),” kata Bramastyo. Ia menilai, di tengah situasi geopolitik global yang semakin tidak menentu, sikap yang tenang dan strategis justru diperlukan agar kehadiran Indonesia dalam BoP dapat dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement