Selasa 03 Mar 2026 11:41 WIB

Ngoding Cerdas: AI dan Mahasiswa Informatika Universitas BSI Kampus Pontianak

Penggunaan AI dalam pembelajaran pemrograman menjadi isu yang semakin relevan.

Dedi Saputra, S.Pd, M.Kom, Dosen Prodi Informatika UBSI kampus Pontianak.
Foto: UBSI
Dedi Saputra, S.Pd, M.Kom, Dosen Prodi Informatika UBSI kampus Pontianak.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dedi Saputra, S.Pd, M.Kom, Dosen Prodi Informatika UBSI kampus Pontianak

Belajar pemrograman itu bukan perkara hafal sintaks. Pemprograman adalah soal logika, kesabaran, dan ketahanan mental menghadapi error yang kadang terasa tidak masuk akal.

Mahasiswa informatika pasti pernah berada di titik frustrasi karena satu baris kode yang salah. Proses itulah yang membentuk karakter problem solver. Hari ini, proses itu tidak lagi ditempuh sendirian. Kecerdasan buatan (AI) mulai hadir sebagai alat bantu yang mengubah cara mahasiswa belajar dan berkembang.

Di Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Pontianak, penggunaan AI dalam pembelajaran pemrograman menjadi isu yang semakin relevan. Dunia industri sudah bergerak cepat dengan otomatisasi dan tools berbasis AI. Kampus sebagai institusi pendidikan tentu perlu memastikan mahasiswanya tidak hanya paham teori, tetapi juga siap menghadapi ekosistem kerja yang nyata.

Secara akademik, pemanfaatan AI dalam pendidikan bukan hal yang muncul tanpa dasar. Dalam riset klasiknya, Benjamin Bloom (1984) memperkenalkan konsep “2 Sigma Problem”, yang menunjukkan bahwa pembelajaran dengan bimbingan individual mampu meningkatkan performa mahasiswa secara signifikan dibanding metode konvensional.

Dalam konteks hari ini, AI sering diposisikan sebagai bentuk intelligent tutoring system yang mampu memberi umpan balik personal secara instan—meski tetap tidak menggantikan peran dosen.

Penelitian oleh VanLehn (2011) dalam jurnal Educational Psychologist menunjukkan bahwa intelligent tutoring systems dapat menghasilkan efektivitas pembelajaran yang mendekati pembelajaran tatap muka satu-satu. Artinya, ketika mahasiswa informatika menggunakan AI untuk memahami error atau memperdalam konsep algoritma, mereka sebenarnya sedang mendapatkan pola bimbingan yang lebih personal dan adaptif.

Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. John Hattie (2009) dalam meta-analisisnya tentang faktor yang memengaruhi prestasi belajar menegaskan bahwa kualitas umpan balik (feedback) memiliki dampak besar terhadap peningkatan hasil belajar.

AI bisa memberikan feedback cepat, tetapi kualitas refleksi tetap bergantung pada bagaimana mahasiswa memprosesnya. Jika hanya dibaca tanpa dipahami, manfaatnya akan minim.

Dalam praktiknya, AI membantu mahasiswa mempercepat proses debugging, memahami struktur data, hingga mengeksplorasi framework baru. Waktu yang sebelumnya habis untuk mencari kesalahan teknis bisa dialihkan untuk memahami desain sistem atau arsitektur perangkat lunak. Ini penting karena industri IT tidak hanya membutuhkan coder, tetapi juga software engineer yang berpikir sistematis.

Di sisi lain, laporan World Economic Forum (2023) tentang Future of Jobs menegaskan bahwa kemampuan analitis, pemecahan masalah kompleks, dan literasi teknologi menjadi kompetensi utama yang dibutuhkan di era digital.

Artinya, mahasiswa yang mampu memanfaatkan AI secara strategis justru memiliki peluang lebih besar untuk relevan di pasar kerja. AI bukan ancaman, melainkan akselerator kompetensi—selama digunakan dengan kesadaran kritis.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement