Selasa 24 Feb 2026 22:01 WIB

Menkop Dorong Koperasi Desa Merah Putih Bermitra dengan Ritel Modern untuk Perkuat UMKM

Ritel modern dibutuhkan karena tak semua produk dapat diproduksi oleh UMKM lokal.

Warga membeli minuman jus di salah satu kios pasar malam saat malam Tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad (15/2/2026). Tradisi Dandangan yang digelar satu tahun sekali itu diikuti sebanyak 450 Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan 1447 Hijriah sekaligus bagian dari upaya meningkatkan perekonomian pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Foto: ANTARA FOTO/Nirza
Warga membeli minuman jus di salah satu kios pasar malam saat malam Tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad (15/2/2026). Tradisi Dandangan yang digelar satu tahun sekali itu diikuti sebanyak 450 Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan 1447 Hijriah sekaligus bagian dari upaya meningkatkan perekonomian pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mendorong Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih untuk menjalin kemitraan dengan ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart. Langkah ini bertujuan memperkuat peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sekaligus menjaga keseimbangan kebutuhan konsumen di tingkat desa.

Saat ditemui di Jakarta, Selasa, Ferry menegaskan bahwa isu pembatasan ekspansi ritel modern pada dasarnya bergantung pada pengaturan regulasi di masing-masing daerah. Ia menekankan bahwa keberadaan ritel modern tidak harus dipandang sebagai ancaman, melainkan dapat menjadi mitra strategis bagi Kopdes Merah Putih.

Baca Juga

"Sebenarnya itu (masalah pembatasan) kan tinggal pengaturan regulasinya di masing-masing daerah," kata Ferry.

"Saya juga sudah berkomunikasi dengan teman-teman dari Indomaret, Pak Franky Welirang, dan dengan teman-teman dari Alfamart, bahwa koperasi desa bisa tetap bekerja sama dengan siapa pun," ujar dia menambahkan.

Menurut dia, keberadaan ritel modern tetap dibutuhkan karena tidak semua produk dapat diproduksi oleh UMKM lokal. Untuk itu, ia menilai kerja sama dengan pihak swasta diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam.

"Ada produk yang memang bisa diproduksi oleh UMKM lokal, tapi ada juga yang tidak. Tentu kita bisa bekerja sama dengan swasta untuk barang-barang yang mereka produksi," katanya.

Ia menekankan bahwa pola kerja sama antara koperasi desa, UMKM, dan ritel modern harus diarahkan agar saling menguatkan. Dengan begitu, koperasi desa tetap memiliki ruang untuk berkembang, sementara ritel modern dapat berperan sebagai mitra distribusi bagi produk lokal.

Impor Mobil Pikap untuk Kopdes: Industri Dalam Negeri Siap Penuhi Kebutuhan

Di sisi lain, wacana pengadaan kendaraan operasional untuk Kopdes Merah Putih turut menjadi sorotan. Rencana impor 105.000 unit mobil pikap dari India untuk mendukung program koperasi desa memicu respons dari berbagai pihak, termasuk asosiasi industri otomotif dan DPR RI.

Sebelumnya, PT Agrinas Pangan Nusantara mengonfirmasi rencana impor kendaraan dari India. Dalam pengumuman di laman resmi mereka pada 4 Februari 2026, perusahaan otomotif India Mahindra and Mahindra Ltd. (M&M) menyatakan akan menyuplai 35.000 unit pikap Scorpio. Kemudian pada 20 Februari 2026, Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota mengonfirmasi total impor mencapai 105.000 mobil yang terdiri atas 35.000 unit pikap 4x4 dari M&M, serta 35.000 unit pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors.

Menanggapi rencana tersebut, Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) menyampaikan bahwa penggunaan mobil pikap produksi domestik untuk program Kopdes Merah Putih akan memberikan dampak langsung terhadap penguatan ekonomi sektor riil.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement