Sabtu 14 Feb 2026 12:17 WIB

Warna dan Mitos Tiongkok yang Merajut Batik Pesisir Nusantara

Batik Lasem dikenal dengan warna cerah, khususnya merah.

Perajin menyelesaikan proses pembuatan kain batik motif tiga negeri di rumah produksi batik Kidang Mas, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (21/10/2025). Rumah produksi Batik Kidang Mas yang berdiri sejak tahun 1800-an dan kini dikelola oleh generasi keenam itu memproduksi berbagai macam kain batik dengan berbagai motif seperti tiga negeri, kendoro kendiri, buketan latar sekar jagad, dan kontemporer, dengan harga jual mulai Rp250.00 hingga Rp11 juta, serta dipasarkan tidak hanya ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga ke Singapura, Malaysia, Belanda dan Kanada.
Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Perajin menyelesaikan proses pembuatan kain batik motif tiga negeri di rumah produksi batik Kidang Mas, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (21/10/2025). Rumah produksi Batik Kidang Mas yang berdiri sejak tahun 1800-an dan kini dikelola oleh generasi keenam itu memproduksi berbagai macam kain batik dengan berbagai motif seperti tiga negeri, kendoro kendiri, buketan latar sekar jagad, dan kontemporer, dengan harga jual mulai Rp250.00 hingga Rp11 juta, serta dipasarkan tidak hanya ke berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga ke Singapura, Malaysia, Belanda dan Kanada.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Hubungan historis antara Nusantara dan Tiongkok yang telah terjalin selama berabad‑abad meninggalkan jejak nyata dalam berbagai sisi kehidupan, terutama dalam bidang budaya, seni, dan tradisi. Salah satu wujud akulturasi budaya ini dapat dilihat dalam kain batik, wastra yang memadukan motif, simbol, dan estetika Tiongkok dengan kearifan lokal Nusantara.

Jejak interaksi dua budaya yang melintasi lautan dan daratan itu kini dapat disaksikan melalui pameran "Batik Silang Budaya di Atas Kain: Kisah Batik dan Pengaruh Budaya Tiongkok" di Museum Tekstil, Jakarta.

Baca Juga

Pameran ini diselenggarakan sebagai bagian dari peringatan Hari Raya Imlek dan memamerkan 81 koleksi batik serta sulaman batik milik Museum Tekstil, rencananya berlangsung hingga Mei 2026. Seperti dijelaskan oleh Sri Kusumawati, Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, pameran ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana budaya Tiongkok meresapi seni tekstil Nusantara.

Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah Tok Wie — kain penutup altar yang digunakan dalam upacara di Tiongkok. Aslinya dibuat dari sutera dengan sulaman mewah menggunakan benang berwarna, Tok Wie dipenuhi figur‑figur mitologi Tiongkok:

1. Burung hong (melambangkan permaisuri, keindahan, dan perdamaian);

2. naga (simbol kaisar, kewibawaan, dan ketegasan);

3. kilin (perpaduan rusa/kuda, sisik naga, kepala singa, dan tanduk rusa; meski berparas seram, ia membawa kebaikan);

4. burung bangau (dipercaya membawa makna panjang umur, karena mampu hidup lebih dari 100 tahun);

5. delapan dewa (menggambarkan delapan kehidupan di dunia: muda‑tua, kaya‑miskin, rakyat jelata‑kaum ningrat, pria‑wanita).

Warna merah yang mendominasi Tok Wie dipercaya membawa keberuntungan, karena berkaitan dengan kehidupan dan matahari. Menurut Niverga, seorang pemandu magang di Museum Tekstil, Tok Wie paling banyak menarik perhatian pengunjung dari kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah pertama, terutama karena keheranan mereka terhadap figur kilin yang kerap disangka sebagai barongsai.

Ketika Tok Wie dibawa ke Nusantara, terutama ke pesisir Jawa seperti Lasem (Jawa Tengah), motifnya diadaptasi menjadi batik dengan bahan katun. Batik Lasem dikenal dengan warna cerah, khususnya merah, namun bukan merah biasa, melainkan "merah darah ayam", yang muncul karena faktor air dan tanah di daerah tersebut. Warna cerah juga menjadi ciri khas batik pesisiran di Pekalongan dan Cirebon, sebagai dampak interaksi dagang dengan Tiongkok, India, Arab, dan Eropa.

Deviana (27), seorang pengunjung Museum Tekstil yang gemar batik, mengaku terpesona dengan batik Lasem. Selain karena warnanya yang eye‑catching, unsur Tiongkok dalam motifnya juga menjadi daya tarik khusus. Deviana, yang bergaya kasual, sering menggunakan batik Lasem sebagai wrap skirt, kain yang dililitkan mengelilingi pinggang, saat menghadiri acara kantor atau bertema budaya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement