REPUBLIKA.CO.ID, RABAT — Harapan puluhan ribu pendukung Maroko untuk menyaksikan tim nasional mereka mengangkat trofi Piala Afrika pupus di Stadion Pangeran Moulay Abdellah, Rabat, Ahad (18/1/2026). Singa Atlas harus mengakui keunggulan Senegal dengan skor tipis 0-1 setelah melalui laga final yang berlangsung hingga perpanjangan waktu.
Kekalahan tersebut meninggalkan kekecewaan mendalam bagi publik tuan rumah yang memadati stadion. Sekitar 67 ribu pendukung hadir dengan ekspektasi tinggi, berharap Maroko mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali menjuarai Piala Afrika pada 1976.
Pertandingan berjalan tegang sejak awal. Drama memuncak pada menit-menit akhir waktu normal ketika Maroko mendapatkan hadiah penalti. Namun, peluang emas itu gagal dimanfaatkan Brahim Diaz setelah tendangannya tidak berbuah gol. Penalti tersebut sempat tertunda hingga 14 menit akibat proses peninjauan wasit.
Sementara itu, Senegal sempat meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit sebelum akhirnya kembali melanjutkan pertandingan. Di tengah situasi yang sarat emosi, Senegal tampil lebih tenang dan berhasil mencetak gol penentu kemenangan melalui Pape Gueye pada menit ke-94.
Usai peluit panjang dibunyikan, sebagian besar pendukung Maroko langsung meninggalkan stadion tanpa menunggu seremoni penyerahan trofi. Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah para suporter.
“Saya sangat sedih, tetapi di saat yang sama saya bangga dengan tim nasional kami,” ujar Ousama Ouaddich, salah satu pendukung Maroko, dengan suara serak setelah memberi dukungan penuh sepanjang laga dilansir dari Reuters hari ini.
Ia menambahkan, gelar Piala Afrika sangat dinantikan sebagai modal penting menjelang Piala Dunia yang akan digelar pada Juni mendatang. “Yang kami butuhkan hanyalah trofi Piala Afrika sebelum menuju Piala Dunia,” katanya.
Kekalahan di final ini memperpanjang penantian Maroko untuk meraih gelar kontinental kedua, meski tim tersebut berstatus sebagai negara dengan peringkat tertinggi di Afrika versi FIFA. Sejumlah pendukung menilai faktor ketenangan di momen krusial menjadi pembeda.
“Ini pertandingan yang sangat berat dan intens. Maroko sudah melakukan yang terbaik di bawah tekanan, tetapi Senegal lebih tenang di saat-saat menentukan,” kata Imane Lahrich, pendukung Maroko lainnya, di Rabat yang diguyur hujan.
Meski gagal menjadi juara, apresiasi datang dari Raja Mohammed VI. Dalam pesan resminya, Raja menyampaikan ucapan selamat kepada Singa Atlas atas “perjalanan yang tak terlupakan” serta mengucapkan terima kasih kepada para pendukung atas dukungan mereka. Ia juga memuji penyelenggaraan Piala Afrika di Maroko yang dinilai menunjukkan kesiapan dan ketahanan infrastruktur kelas dunia menjelang Piala Dunia 2030.
Terlepas dari hasil final, sepak bola Maroko tengah berada dalam periode emas. Singa Atlas mencatat sejarah sebagai tim Afrika pertama yang menembus semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar setelah menyingkirkan Spanyol dan Portugal.
Prestasi juga diraih di level usia muda dan multievent. Tim nasional U-20 Maroko menjuarai Piala Dunia pada Oktober lalu usai mengalahkan Argentina di final, sementara kontingen Maroko membawa pulang medali perunggu dari Olimpiade Paris 2024.
Dalam beberapa tahun terakhir, klub dan tim nasional Maroko—baik putra, putri, maupun kelompok usia—menjadi salah satu kekuatan paling konsisten di Afrika.
Piala Afrika 2025/2026 mencatat sejumlah rekor, mulai dari jumlah gol, kehadiran penonton di stadion, hingga pendapatan komersial. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) menyebut turnamen di Maroko diperkirakan menghasilkan laba bersih mencapai 114 juta dolar AS, menegaskan kesuksesan penyelenggaraan ajang sepak bola terbesar di benua Afrika tersebut. (Fitriyanto)