REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hari Eko Purwanto, M. I. Kom, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP – Universitas Muhammadiyah Jakarta, Mahasiswa Doktoral Ilmu Komunikasi - Universitas Sebelas Maret Surakarta
Awal tahun biasanya identik dengan berbagai resolusi, seperti hidup lebih rapi, lebih sehat, lebih tertib. Namun di sejumlah kota, tahun baru justru dibuka dengan pemandangan yang berlawanan, sampah menumpuk di sejumlah titik, warga gelisah, pemerintah sibuk meredam, dan ruang publik dipenuhi keluhan.
Dalam situasi seperti ini, perdebatan sering berhenti pada soal teknis, armada kurang, TPA penuh, TPST belum siap. Semua itu benar dan penting.
Namun, ada satu lapisan yang kerap luput, padahal justru menentukan. Lapisan itu yaitu komunikasi lingkungan, cara pemerintah, warga, dan para pelaku lapangan saling memahami situasi, membangun kepercayaan, dan mengunci peran masing-masing.
Dalam sepekan terakhir, kita melihat bagaimana sampah bukan hanya benda yang harus diangkut, tetapi juga pesan yang disampaikan. Di Tangerang Selatan, aksi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang membuang sampah ke kantor Pemkot dapat dibaca sebagai ekspresi kekecewaan publik ketika saluran komunikasi formal dirasa tak menghasilkan kepastian. Sampah dijadikan simbol, karena dianggap sebagai masalah yang terlalu sering dibicarakan tetapi tak kunjung terasa ujungnya.
Persoalan Antardaerah
Persoalan kemudian merembet ke relasi antardaerah. Uji coba pengiriman sampah dari Tangsel ke TPAS Cilowong di Kota Serang dihentikan sementara setelah ada penolakan warga.
Kasus ini memberi pelajaran penting, bahwa dalam isu lingkungan, kerja sama lintas wilayah tidak cukup dibangun lewat kesepakatan administratif. Tapi juga membutuhkan penerimaan sosial. Penerimaan sosial tidak lahir dari pengumuman sepihak, melainkan dari komunikasi yang rapi sejak awal, sebelum warga merasa hanya kebagian beban tanpa diajak bicara.
Sementara itu di Bandung, pemerintah kota memilih menyampaikan secara terbuka potensi penumpukan sampah sekitar 200 ton per hari akibat pengurangan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti. Yang menarik bukan hanya angka tersebut, tetapi pendekatannya.
Dengan bicara lebih awal, pemerintah memberi ruang bagi publik untuk memahami tantangan yang dihadapi dan menyesuaikan perilaku. Dalam komunikasi lingkungan, keterbukaan semacam ini sering lebih efektif dibanding optimisme berlebihan yang mudah runtuh saat realitas di lapangan berbicara lain.
Jika dirangkai, peristiwa-peristiwa ini menunjukkan satu benang merah bahwa sampah adalah isu yang sangat terlihat. Sampah hadir di ruang hidup sehari-hari dan dengan cepat menjadi isu reputasi serta kepercayaan.
Sampah yang menumpuk di jalan sering berbicara lebih keras daripada konferensi pers. Ketika informasi tidak jelas atau berubah-ubah, publik mengisi kekosongan itu dengan tafsirnya sendiri, dan tafsir yang lahir dari ketidakpastian biasanya sarat kekecewaan.