REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG--Kasus bullying atau perundungan di Indonesia hingga saat ini kian memprihatinkan. Fenomena itu menyita perhatian Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. H. Didi Sukyadi M.A selaku praktisi pendidikan.
Bahkan, menurut Didi, fenomena bullying menjadi persoalan serius dalam sistem pendidikan Indonesia. ‘’Kami tidak akan tinggal diam, karena ini sudah memakan korban jiwa, termasuk di lingkungan perguruan tinggi,’’ ujarnya kepada wartawan, belum lama ini.
Menurut Prof Didi, perilaku bullying kerap disalahpahami sebagai sebuah candaan. Padahal, indikator utamanya terletak pada dampak psikologis yang dialami korban.
“Kalau dua-duanya tertawa mungkin bukan bullying. Tapi kalau yang satu tertawa dan yang lain cemberut, itu sudah bisa masuk kategori bullying,” tambah Didi. Kata dia, bullying bukan hal baru. Bahkan, sudah ada sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar hingga menengah.
Di masa lalu, papar Didi, praktik bullying biasanya berupa ejekan atau memanggil nama orang tua siswa. Kondisi ini berbeda dengan sekarang, bullying semakin parah yang dampaknya yang jauh lebih serius.
Fenomena bullying, kata Didi, juga terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Fenomena bullying tersebut, telah menjadi isu nasional dan objek kajian riset serius hingga mendapat perhatian pimpinan tertinggi negara.
Masih dikatakan Didi, saat ini muncul ancaman baru dalam dunia pendidikan. Yakni, pengaruh penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap psikologi anak dan remaja.
“Generative AI sekarang bisa berperan seolah-olah sebagai psikolog, dokter, atau guru. Masalahnya, tidak semua pengguna mampu membedakan saran yang berdampak positif atau justru negatif,” katanya.
Didi menjelaskan, di luar negeri ada kasus dimana dua anak dilaporkan melakukan bunuh diri setelah terpengaruh interaksi dengan AI. Hal tersebut terjadi, karena dorongan untuk berpindah dari realitas kehidupan yang mereka jalani.
“Ini tantangan nyata di pendidikan sekarang, bullying dan dampak psikologis penggunaan AI,” katanya. Didi menilai, akar persoalan bullying salah satunya adalah ketidaksamaan pemahaman tentang definisi dan batasan perilaku bullying.
Karena itu, Didi menekankan pentingnya kesepahaman bersama antara siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat. Pihaknya mendorong sekolah dan kampus memiliki mekanisme khusus, seperti tim atau pejabat yang menangani kasus perundungan secara serius dan berkelanjutan. Serta, melibatkan orang tua dalam setiap penanganan kasus. “Ini bukan hanya tanggung jawab guru atau kepala sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.