Rabu 24 Dec 2025 20:43 WIB

Lingkungan Kotor Bukan Hanya Soal Tampilan, Ada Efek Domino Kesehatan yang Jarang Disadari

Anggap saja kebersihan itu investasi kecil yang kalau diabaikan picu efek domino.

Warga mememungut sampah plastik di tempat pembuangan sampah kolong tol Wiyoto Wiyono, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (24/11/2025). Tumpukan sampah di kawasan tersebut terjadi lantaran kolong tol Wiyoto Wiyono dijadikan tempat penampungan sampah sementara oleh warga  sekitar sebelum diangkut ke TPS Bantargebang. Meski demikian,  Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah di area lokasi tersebut karena dapat mengganggu aktivitas tol saat pengangkutan sampah menggunakana alat berat serta berdampak buruk pada linkungan sekitar serta memindahkan TPS ke penampungan di Waduk Cincin.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Warga mememungut sampah plastik di tempat pembuangan sampah kolong tol Wiyoto Wiyono, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (24/11/2025). Tumpukan sampah di kawasan tersebut terjadi lantaran kolong tol Wiyoto Wiyono dijadikan tempat penampungan sampah sementara oleh warga sekitar sebelum diangkut ke TPS Bantargebang. Meski demikian, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah di area lokasi tersebut karena dapat mengganggu aktivitas tol saat pengangkutan sampah menggunakana alat berat serta berdampak buruk pada linkungan sekitar serta memindahkan TPS ke penampungan di Waduk Cincin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lingkungan yang kotor itu bukan cuma soal pemandangan yang jelek atau bau nggak enak, tapi sebenarnya seperti undangan terbuka untuk berbagai masalah yang suka numpuk tanpa kita sadari.

Jadi, kadang yang awalnya tampak sepele malah berujung ribet ke kesehatan, kenyamanan, dan kantong. Ketika sampah menumpuk, saluran air tersumbat, atau udara penuh debu dan asap, banyak proses biologis dan kimia yang berubah.

Sehingga, mikroorganisme patogen gampang berkembang biak, polutan gampang menyebar, dan akhirnya yang ngerasain paling depan ya kita semua yang tinggal di sekitar.

Anggap saja kebersihan lingkungan itu semacam investasi kecil yang kalau diabaikan akan picu efek domino mulai dari penyakit hingga kerusakan infrastruktur dan reputasi lingkungan, jadi perlu ditangani lebih serius dari sekadar “nanti dibersihin kalau sempat”.

Menurut dlhindonesia.id tidak cuma soal tubuh yang kena penyakit, lingkungan kotor juga punya efek halus yang sering terlewat.

Misalnya, kualitas tidur menurun gara-gara bau atau nyamuk, tekanan batin karena malu lingkungan terlihat kumuh, sampai gangguan aktivitas ekonomi karena orang jadi malas ke tempat kotor; semua menumpuk dan bikin produktivitas serta kualitas hidup turun.

Selain itu, ancaman kadang datang dari sumber yang nggak kita curigai, seperti mikroplastik dalam tanah atau air yang luput dari perhatian, serta polutan udara yang berkontribusi pada penyakit pernapasan jangka panjang.

Jadi tindakan pencegahan sejak awal jauh lebih murah dan efektif dibanding harus mengobati akibatnya nanti. Intinya, lingkungan bersih itu bukan sekadar estetika, tapi fondasi kesehatan fisik, mental, dan ekonomi komunitas.

Dampak Kesehatan Langsung

1.Penyakit Menular dari Kuman dan Bakteri

Lingkungan kotor mempermudah penularan penyakit yang disebabkan bakteri, virus, dan parasit, misalnya diare, kolera, dan infeksi saluran pernapasan.

Sebab, sumber air dan permukaan yang terkontaminasi jadi sarang bibit penyakit; sumber terpercaya menjelaskan bahwa kondisi sanitasi buruk dan sampah yang menumpuk berkaitan erat dengan meningkatnya kasus penyakit infeksi di masyarakat.

2.Alergi, Asma, dan Gangguan Pernapasan

Debu, partikel asap, dan jamur yang tumbuh di lingkungan lembap bisa memicu serangan asma, iritasi saluran napas, dan alergi yang sering kambuh, efek ini bisa terasa berat terutama pada anak-anak dan lansia sehingga kualitas hidup mereka menurun dan kebutuhan perawatan kesehatan meningkat.

3.Gangguan Kulit dan Infeksi Parasit

Kontak langsung dengan air kotor, tanah yang tercemar, atau benda terinfeksi dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, gatal, serta infeksi parasit yang membutuhkan pengobatan dan perawatan khusus, sehingga kebersihan permukaan rumah dan lingkungan sekitar harus dijaga agar risiko tersebut rendah.

Solusi yang Bisa Anda Lakukan

1.Rutin bersih lingkungan dan atur tempat sampah dengan benar

Melakukan pembersihan rutin lingkungan, menyediakan tempat sampah yang memadai, dan memastikan sampah dipisah antara organik, anorganik, dan B3 (bahan berbahaya) membuat siklus sampah lebih mudah dikelola, mengurangi tempat perkembangbiakan vektor, dan memperkecil resiko pencemaran.

2.Terapkan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan komposting sampah organik

Mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali yang masih layak, dan mendaur ulang limbah membantu menekan volume sampah yang masuk TPA serta mengurangi polusi; sampah organik dapat diolah menjadi kompos untuk taman atau perkebunan lokal sehingga jadi sumber daya bukan masalah.

3.Perbaiki sanitasi, drainase, dan akses air bersih

Menjaga saluran air tetap bersih dan berfungsi, memperbaiki sistem drainase untuk mencegah genangan, serta memastikan akses air bersih dan sanitasi memadai di rumah tangga adalah langkah yang langsung menurunkan risiko penyakit bawaan air dan vektor.

4.Edukasi komunitas dan pengawasan kebijakan lokal

Pendidikan kebersihan lingkungan di sekolah, kelompok warga, dan media lokal serta penegakan aturan pembuangan limbah oleh pemerintah setempat meningkatkan kepatuhan dan menimbulkan budaya bersih jangka panjang, dan kolaborasi antara warga dan pihak berwenang penting untuk solusi yang berkelanjutan.

5.Kurangi pembakaran sampah terbuka

Pembakaran sampah melepaskan polutan berbahaya ke udara yang memengaruhi kesehatan pernapasan dan kualitas udara umum, menghentikan praktik ini dan mengganti dengan metode pengelolaan sampah yang lebih aman membantu menurunkan paparan polusi bagi seluruh warga.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement