Ahad 21 Dec 2025 08:36 WIB

Warga Aceh Tamiang: Banjir Bak Tsunami Gelondongan Kayu, Sempat Minum Air Kotor, Makan Beras Mentah

Kampung Menang Gini di Aceh Tamiang sempat terisolasi selama beberapa hari.

Alat berat membersihkan lahan yang disiapkan untuk pembangunan hunian sementara bagi korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (19/12/2025). Pemerintah mempersiapkan lahan milik Pemkab Aceh Tamiang dan lahan perkebunan perusahaan untuk dibangun tempat hunian sementara korban bencana banjir bandang.
Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra
Alat berat membersihkan lahan yang disiapkan untuk pembangunan hunian sementara bagi korban bencana banjir bandang di Karang Baru, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (19/12/2025). Pemerintah mempersiapkan lahan milik Pemkab Aceh Tamiang dan lahan perkebunan perusahaan untuk dibangun tempat hunian sementara korban bencana banjir bandang.

REPUBLIKA.CO.ID, ACEH TAMIANG -- Dahsyatnya dampak bencana banjir di Aceh dan Sumatera ikut menyedot perhatian media asing termasuk dari negeri jiran Malaysia. Harian Bernama mengirim jurnalisnya yang ikut bersama lembaga kemanusiaan ke wilayah terdampak bencana Aceh Tamiang dan menggambarkan kondisi terkini wilayah bencana dan warga yang menjadi korban.

"Ini seperti tsunami dari gelondongan kayu, tidak banyak rumah yang tersisa. Rumah saya juga hancur, hanya fondasinya yang bertahan," ujar Astuti Jone, warga Kampung Menang Gini, Karang Baru kepada Bernama dalam laporannya yang dimuat pada Sabtu (20/12/2025).

Baca Juga

Astuti kini tinggal di sebuah gubuk yang dikelilingi sampah gelondongan kayu yang terbawa arus banjir. Di gubuk itu, Astuti sempat menunaikan ibadah shalat sebelum diwawancarai oleh Bernama.

Kampung Menang Gini, di antara ratusan kampung dan desa yang dihantam banjir bandang pada 26 November 2025. Astuti mengingat saat banjir menerjang kampungnya bak peristiwa tsunami, hanya bedanya kali ini bukan air laut yang merusak rumah-rumah, tapi gelondongan kayu.

Menurut Astuti, pada pekan pertama pascabanjir, dirinya bersama suami dan anak-anak terisolasi dari dunia luar lantaran lautan kayu yang terbawa arus banjir memblokade jalan utama yang menghubungkan antardesa. Ia mengingat, sampai harus menyaring air kotor dengan bajunya untuk mendapatkan tetesan air bersih untuk diminum dan terpaksa memakan beras mentah selama empat hari sebelum bantuan datang.

"Saya bilang ke anak saya itu adalah air tebu agar dia mau minum. Kami juga punya sebotol air bersih yang harus dirasio dengan cara diminum seisap demi isap," kata Astuti.

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement