REPUBLIKA.CO.ID,ISTANBUL — Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan krisis pendidikan di Gaza setelah lebih dari 660 ribu anak di wilayah tersebut kehilangan hak bersekolah akibat perang yang dilancarkan Israel.
“Perang di Gaza adalah perang terhadap anak-anak dan harus segera dihentikan. Anak-anak harus selalu dilindungi,” kata UNRWA dalam pernyataan pada Sabtu (30/8/2025).
UNRWA juga memperingatkan bahwa generasi muda Gaza terancam menjadi “generasi yang hilang”.
Sementara sekolah-sekolah di Tepi Barat yang diduduki Israel rencananya dibuka kembali pada 1 September, ruang-ruang kelas di Gaza masih tetap tutup.
Kementerian Pendidikan Palestina menyebutkan sekitar 700 ribu siswa di Gaza tidak dapat melanjutkan pendidikan. Lebih dari 70 ribu di antaranya bahkan tidak bisa mengikuti ujian sekolah menengah selama dua tahun berturut-turut.
Data kementerian menunjukkan, sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 17 ribu siswa sekolah dan lebih dari 1.200 mahasiswa di Gaza, serta melukai puluhan ribu lainnya.
Di wilayah pendudukan Tepi Barat, puluhan pelajar juga tewas, terluka, atau ditahan pasukan Israel dalam periode yang sama.
Korban jiwa juga menimpa guru dan tenaga kependidikan. Hampir 1.000 pekerja pendidikan tewas di Gaza, sementara ribuan lainnya terluka atau ditahan Israel di seluruh Palestina.
Sejak Oktober 2023, agresi militer Israel telah menewaskan lebih dari 63.400 warga Palestina. Serangan-serangan rezim Zionis itu menghancurkan wilayah Gaza yang kini menghadapi ancaman kelaparan.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait perang yang dilancarkannya di wilayah tersebut.