Sabtu 05 Apr 2025 16:16 WIB

Ini Respons Turki Atas Ancaman Donald Trump Siap Mengebom Iran

Trump ancam menyerang Iran secara besar-besaran jika kesepakatan nuklir tak tercapai.

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.
Foto: AP Photo/Vahid Salemi
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bereaksi atas ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan mengebom Iran jika kesepakatan nuklir antara Washington dan Teheran tak tercapai. Dikutip Reuters dilansir Mehr News, Fidan mengatakan, Turki tidak tertarik dengan sumber instabilitas baru di kawasan dan tidak menginginkan AS menyerang Iran.

"Kawasan kami tidak menoleransi perang baru, sumber baru instabilitas. Dan kami tidak mengetahui tipe eskalasi apa yang mungkin muncul dari serangan (AS) itu. Sehingga kami tidak ingin melihat serangan AS terhadap Iran terjadi. Kami ingin melihat, seperti yang terjadi di masa lalu, negosiasi damai antara kedua belah pihak dan pihak-pihak terkait," kata Fidan, Sabtu (5/4/2025).

Baca Juga

Presiden AS Donald Trump pada Ahad lalu, akhirnya mengeluarkan ancaman akan mengebom Iran secara besar-besaran jika negara itu menolak terlibat dalam perundingan nuklir dengan Amerika Serikat. Pernyataan itu menjadi ancaman Trump paling keras terhadap Iran sejak dia menjadi Presiden AS Januari lalu.

"Jika tidak ada kesepakatan, akan terjadi pengeboman. Pengeboman, yang belum pernah mereka alami sebelumnya, akan terjadi," kata dia dalam wawancara bersama NBC News.

Sebelumnya pada hari yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dikabarkan menolak bernegosiasi langsung dengan AS terkait program nuklir. Dia juga memastikan bahwa Iran telah mengirimkan tanggapan resmi terhadap surat Trump kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, yang berisi permintaan untuk berunding secara langsung.

Namun, Pezeshkian menyatakan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan negosiasi secara tidak langsung. Sudah berbulan-bulan Trump berupaya menekan Iran secara terbuka untuk mau melakukan negosiasi langsung dan sempat mengisyaratkan balasan yang "sangat buruk" jika Iran menolak.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement