Rabu 26 Feb 2025 05:24 WIB

Diminta Pergi, Israel Malah Bombardir Suriah 

Komunike nasional Suriah menuntut tentara Israel mundur dari negara itu.

Tentara Israel di atas tank di sepanjang Jalur Alpha yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel dari Suriah, di kota Majdal Shams, Senin, 9 Desember 2024.
Foto: AP Photo/Matias Delacroix
Tentara Israel di atas tank di sepanjang Jalur Alpha yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel dari Suriah, di kota Majdal Shams, Senin, 9 Desember 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Media Suriah melaporkan serangkaian serangan udara Israel terhadap gedung-gedung di selatan ibu kota, Damaskus. Serangan itu dilakukan setelah pihak-pihak di Suriah mendesak negara Zionis mundur dari wilayah itu.

Jet tempur Israel membom sebuah distrik di selatan ibu kota Suriah serta provinsi selatan Daraa, lapor stasiun televisi lokal Syria TV. Warga Damaskus mendengar suara pesawat terbang rendah di atas ibu kota, disusul serangkaian ledakan.

Baca Juga

Serangan Israel menghantam daerah al-Kiswah, sekitar 13 kilometer selatan Damaskus. Sumber keamanan mengatakan sebuah situs militer menjadi sasaran, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Belum ada komentar langsung dari militer Israel. Pemboman tersebut terjadi beberapa jam setelah Suriah mengutuk serangan Israel ke wilayah selatan negara itu dan menuntut Israel menarik pasukannya.

Pada Senin, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel tidak akan mengizinkan tentara baru Suriah untuk “memasuki wilayah selatan Damaskus”. Ia menegaskan bahwa pasukan Israel akan tinggal di bagian selatan Suriah untuk jangka waktu yang tidak ditentukan.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Ahad bahwa Israel tidak akan mentolerir kehadiran pasukan Hayat Tahrir al-Sham – yang memimpin serangan yang menggulingkan rezim sebelumnya – di Suriah selatan, atau pasukan lain yang berafiliasi dengan penguasa baru negara tersebut. Dia juga menuntut wilayah tersebut didemiliterisasi dan mengatakan tentara Israel akan tetap berada di zona penyangga untuk “jangka waktu yang tidak ditentukan”.

photo
Pejuang oposisi merayakan runtuhnya pemerintahan Suriah di Damaskus, Suriah, Ahad (8/12/2024). Kekuasaan Partai Baath di Suriah tumbang pada Ahad (8/12/2024).  - (AP Photo/Omar Sanadiki)

Israel telah mengambil keuntungan dari jatuhnya Presiden Bashar al-Assad pada bulan Desember untuk memperluas kehadirannya di zona penyangga antara Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel dan Suriah selatan, sehingga melanggar perjanjian PBB yang ditengahi pada tahun 1974.

Sebelumnya, komunike dialog nasional Suriah yang menuntut pasukan Israel segera mundur dari wilayah Suriah. “Sayangnya, wilayah selatan bukan satu-satunya wilayah tidak aman yang kita miliki di Suriah, ada masalah di wilayah utara dan barat. Tapi sekarang yang paling serius adalah masalah Israel karena ini adalah intervensi asing di negara ini,” kata Labib Nahhas, seorang analis politik Suriah dan direktur Asosiasi Martabat Warga Negara Suriah.

Dia mengatakan dengan pernyataan yang datang dari kepemimpinan Israel, tampaknya militer Israel tidak akan mundur dalam waktu dekat. Namun dia mengatakan komunitas internasional harus mengatasi pendudukan tersebut. “Masalah Israel, keamanan Israel, dan hubungan antara Israel dan Suriah – ini akan menjadi inti dari semua diskusi ini,” kata Nahhas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement