Kamis 30 Nov 2023 22:14 WIB

Sembilan Aspirasi Solidaritas Nelayan Indonesia

Nelayan harus difasilitasi untuk mengembangkan usaha mereka.

SNI bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan aspirasi tentang kesejahteraan nelayan.
Foto: Dok web
SNI bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan aspirasi tentang kesejahteraan nelayan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nelayan harus difasilitasi untuk lebih mudah meningkatkan hasil tangkapan ikan. Kemudian diedukasi untuk dapat mengembangkan usaha, sehingga kehidupan mereka lebih sejahtera. 

Terkait dengan hal tersebut, Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI) menemui Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo dalam agenda dialog terkait Permasalahan Usaha Perikanan Tangkap dan Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Baca Juga

Dalam pertemuan tersebut, perwakilan SNI Muara Baru, James Then mengajukan penolakannya terhadap Penangkapan Ikan Terukur (PTI) dan sistem kuota zona yang tidak efektif. "Tolak PIT & System quota zona/Pangkalan menimbulkan Usaha Tidak Efektif & Efisie serta Rawan Konflik Horizontal," ucapnya saat dihubungi, Kamis (30/11).

Dari hasil pertemuan dengan Presiden Joko Widodo, James mengatakan bahwa akan membatalkan kebijakan PIT dan Sistem kuota.

 

"Presiden akan Menunda atau Membatalkan PIT & Sistem kuota," katanya.

Sebelumnya diberitakan, adanya pertemuan para nelayan pantura Pati-Rembang bersama dengan Jendral TNI (Purn) Wiranto selaku Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) RI di Jakarta, pada Selasa (29/11/2023), diharapkan bisa membawa angin segar. 

Hal itu menyusul lantaran para nelayan sudah merasa gerah dengan kebijakan dari Kementrian, Kelautan, dan Perikanan (KKP) yang tidak berpihak. 

Para nelayan menganggap bahwa kebijakan yang dibuat oleh KKP dianggap sangat menyengsarakan. 

Apalagi, dengan diterbitkannya PP Nomor 11 Tahun 2023 tentang Penangkapan Ikan Terukur (PIT) pada tahun 2024, membuat para nelayan merasa keberatan. 

Dalam pertemuan yang berlangsung hampir 1 jam lebih di Kantor Watimpresitu, Wiranto menanggapi aduan yang disampaikan oleh para nelayan pantura. 

la mengaku bahwa Dalam UUD 1945 Presiden wajib melindungi, mengayomi, mencerdaskan dan mensejahterakan rakyat, jika aturan yang dibuat menteri tidak bisa mensejahterakan rakyat, maka sudah sepatutnya diganti. 

“Presiden dibantu menteri-menterinya harus bisa melaksanakan kewajibannya. Jika ternyata aturan yang dibuat Menteri malah membuat rakyat tidak sejahtera, maka menteri itu bisa diganti oleh Presiden.” ungkap Mukit mengutip pernyataan Wiranto kemarin. 

Menurut Wiranto, Apa yang menjadi keluhan para nelayan akan dipertimbangkan, dan akan disampaikan kepada Presiden. 

“Keluhan para nelayan katanya akan dipertimbangkan dengan presiden, apakah itu kesalahan menterinya atau masyarakat yang kurang memahami aturan,”kata Mukit yang juga selaku Ketua Barisan Muda Nelayan Pantura (BMNP). 

Berikut 9 aspirasi Solidaritas Nelayan Indonesia (SNI):

1. Tolak PIT & System quota zona/Pangkalan menimbulkan Usaha Tidak Efektif & Efisie serta Rawan Konflik Horizonta;

2. Stop Import Ikan, Coldstorage Penuh, Harga ikan hancur, ikan tidak bisa jual;

3. Harga BBM diturunkan (BBM Industry khusus Nelayan);

4. Perbaiki sarana & Pra sarana Pelabuhan;

5. Memohon PNBP diturunkan: 30-60, 5 % - 3%, 60 ke atas 10% - 5 %;

6. Menolak Kapal Asing & Modal Asing;

7. Tolak Migrasi & VMS Wilayah tanggap diperluas;

8. Tolak PBB Laut;

9. 2 WPP berdampingan.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement