Jumat 24 Nov 2023 09:31 WIB

Pengabdian Masyarakat UI Perkenalkan Permainan Tradisional di Tengah Gempuran Gadget

Permainan tradisional terus tergerus kemajuan teknologi

Rep: Muhyiddin / Red: Nashih Nashrullah
Anak-anak bermain permainan tradisional. Permainan tradisional terus tergerus kemajuan teknologi
Foto: Dok Istimewa
Anak-anak bermain permainan tradisional. Permainan tradisional terus tergerus kemajuan teknologi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Serangan gadget saat ini masuk ke jantung keluarga masyarakat perkotaan hingga perdesaan. Saat ini sering kali diberitakan bahwa ada anak yang marah bahkan mengamuk tanpa terkendali ketika orang tuanya memintanya berhenti memainkan game di HP-nya. 

Tidak jarang kecanduan gim online pun dialami anak-anak.  Kebanyakan orang tua menganggap bermain gim online dapat mengganggu waktu belajar anak dan membuat anak kurang peduli terhadap sekelilingnya. Namun di sisi lain, orangtua pun tidak memiliki pilihan permainan lain bagi anak mereka.  

Baca Juga

Pandangan tersebut bisa jadi benar, mengingat permainan anak-anak masa kini yang didominasi  permainan berbasis tekhnologi dapat berdampak negatif terhadap perkembangan tumbuh kembang anak, khususnya perkembangan soft skill, jika tidak mendapat pengawasan yang lebih teliti dari orang tua. 

Walaupun permainan berbasis teknologi (games online) dapat membantu anak memahami dan menggunakan perangkat teknologi terkini, namun di sisi lain dapat membawa dampak buruk bagi kesehatan, baik fisik maupun mental. 

Dari beberapa hasil penelitian anak-anak yang kecanduan bermain permainan online menjadi menurun kesehatan matanya, kurang bergerak, kecenderungan lebih pendiam dan individualis. 

Kemampuan bersosialisasi menjadi kurang, memiliki keterbatasan kosakata dalam percakapan, kurang luwes dalam pergaulan, dan lain sebagainya. Jika tidak diseimbangkan sejak dini, maka dapat berdampak jangka panjang. 

Ketika memasuki dunia kerja, anak-anak muda memiliki kecenderungan kurang mampu bekerja dalam tim. Lebih mengutamakan gagasan-gagasan sendiri, kurang mampu bernegosiasi dan menerima pendapat orang lain.  

Untuk mengurangi dampak kecanduan terhadap permainan berbasis teknologi ini, Tim Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, melakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Pengmas) dengan mengangkat tema “Permainan Tradisional sebagai Sarana Meningkatkan Interaksi Sosial dan Menumbuhkan Kecerdasan Emosional bagi Anak-anak Usia Sekolah Dasar”.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Permainan Tradisional, Raisye Soleh Haghia, mengatakan tema kegiatan yang berlangsung di lingkungan RT 05, Kalibaru, Cilodong, Depok Jawa Barat, pada Ahad 19 November 2023 lalu ini  bertujuan memperkenalkan atau memopulerkan kembali permainan anak-anak tradisional Indonesia yang sudah semakin jarang dimainkan dan mungkin sudah dilupakan, atau bahkan tidak dikenal sama sekali. 

Dengan demikian, kata dia, anak-anak dapat belajar, mengenal, dan memainkan permainan tradisional Indonesia tersebut. “Diharapkan permainan tradisional ini dapat menyeimbangkan kebutuhan akan alternatif permainan anak-anak, disamping permainan modern yang telah mereka kenal,” kata dia dalam keterangannya, di Jakarta, Jumat (24/11/2023).   

photo

Tim Pengabdian Masyarakat Permainan Tradisional UI di Depok berpose bersama warga - (Dok Istimewa)

Dia menjelaskan kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan anak-anak usia sekolah dasar, yang dibagi dalam dua tipe permainan, permainan untuk anak usia SD kelas 1-3 dan permainan untuk anak SD kelas 4-6. 

Kegiatan ini dipandu  kakak-kakak mahasiswa Prodi Sejarah FIB UI dan dosen Raisye Soleh Haghia, M Hum, Dr Rostineu, dan Dr Dwi Mulyatari. Anak-anak ini memainkan beraneka ragam permainan. Antara lain, permainan congklak, bekel, kelereng, gobak sodor/bebentengan, lompat tali menggunakan tali yang dijalin dari gelang karet, dan permainan ular naga. 

Baca juga: Syekh Isa, Relawan Daarul Quran di Gaza Syahid Sekeluarga dan Kisah Putri Dambaannya

Dia menyebut, rupanya dengan mengembalikan aktivitas bermain anak di luar ruangan dapat melatih anak untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan teman-teman seusianya.

Belajar berkomunikasi dengan baik, melatih kesabaran menunggu giliran, bersikap sportif menerima kekalahan, bertenggang-rasa, berpikir strategis sejak dini untuk mencari solusi dan berkompetisi secara sehat dan jujur  karena kecurangan mudah terdeteksi secara langsung. 

“Dengan mempopulerkan kembali permainan tradisional Indonesia ini, selain melatih kecerdasan emosional anak, juga mampu melestarikan warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat berharga,” kata dia.    

photo
Infografis Tanda Anak Alami Gangguan Mental Akibat Kecanduan Gadget - (Republika)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement