Selasa 14 Nov 2023 12:02 WIB

Capres Prabowo Kritik Kebijakan Uni Eropa Terkait Deforestasi

Prabowo mengungkit, orang Eropa pada masa Kolonial juga bersalah atas deforestasi.

Rep: Novita Intan/ Red: Erik Purnama Putra
Capres Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya soal kebijakan politik luar negeri dalam acara CSIS di Jakarta Pusat, Senin (13/11/2023).
Foto: Dok Tim Media Prabowo
Capres Prabowo Subianto menyampaikan pandangannya soal kebijakan politik luar negeri dalam acara CSIS di Jakarta Pusat, Senin (13/11/2023).

REPUBLIKA.CO.ID -- Calon presiden (capres) Prabowo Subianto mengkritik kebijakan Uni Eropa atas larangan impor minyak sawit dari Indonesia. Prabowo pun mengungkit, orang-orang Eropa pada masa kolonial juga bersalah atas deforestasi.

Uni Eropa pada April mengesahkan undang-undang yang akan melarang impor komoditas yang terkait dengan perusakan hutan, termasuk minyak sawit. Padahal, Indonesia merupakan produsen terbesar di dunia.

Reuters pada Selasa (14/11/2023) melaporkan, Prabowo yang unggul dalam jajak pendapat menjelang pemilihan presiden pada 14 Februari 2024, mengatakan, Indonesia selalu menjaga hubungan baik dengan berbagai negara di Eropa. Walaupun, ia mengakui, terkadang Indonesia memiliki masalah dengan Uni Eropa.

"Kami membuka pasar kami untuk Anda, tetapi Anda tidak mengizinkan kami menjual minyak sawit dan sekarang kami menghadapi masalah dalam mencoba menjual kopi, teh, kakao," kata menteri pertahanan (menhan) tersebut.

Uni Eropa ketika dikonfirmasi, mereka tidak dapat mengomentari pernyataan kandidat politik Indonesia. "Peraturan ini berlaku untuk semua orang, di dalam dan di luar Eropa. Peraturan ini berlaku untuk komoditas, bukan negara, dan tidak bersifat menghukum atau proteksionis, namun menciptakan persaingan yang setara," ujarnya.

Hingga pelarangan saat ini berlaku, Uni Eropa merupakan pembeli minyak sawit Indonesia terbesar ketiga di dunia. Produksi minyak sawit sering disalahkan oleh para pemerhati lingkungan sebagai penyebab deforestasi, khususnya di Kalimantan dan Sumatra.

Hanya saja, Prabowo mengatakan, pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, orang-orang Eropa memaksa warga lokal untuk menanam teh, kopi, karet, dan coklat. Hal itu membuat alih fungsi hutan. "Anda telah menghancurkan hutan kami sebelumnya," ujar ketua umum DPP Partai Gerindra tersebut.

Indonesia adalah negara jajahan Belanda ketika masih dikenal sebagai Hindia Belanda dan merupakan sumber kekayaan penting berkat perdagangan rempah-rempah. Prabowo pun membuka komentar jika memenangkan kursi kepresidenan. "Saya tidak ingin proteksionisme, saya ingin kesetaraan," kata Prabowo.

Indonesia adalah produsen utama kopi, coklat, karet, dan produk kayu, yang tootal perdagangannya mencapai 6,41 miliar dolar AS atau sekitar Rp 100,5 triliun. Jika UU Deforestasi yang dikeluarkan Uni Eropa berlaku maka Indonesia tidak bisa mengekspor hasil alam tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement