Kamis 19 Oct 2023 19:51 WIB

Kapolda Banten Dianugerahi Penghargaan Bulog Berkat Bongkar Mafia Beras 

Kapolda Banten dorong jajarannya sikat para mafia beras.

Kapolda Banten Irjen Pol Prof Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menerima penghargaan dari Dirut Perum Bulog Komjen Pol (Purn) Budi Waseso
Foto: Dok Istimewa
Kapolda Banten Irjen Pol Prof Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menerima penghargaan dari Dirut Perum Bulog Komjen Pol (Purn) Budi Waseso

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kapolda Banten Irjen Pol Prof Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menerima penghargaan dari Dirut Perum Bulog Komjen Pol (Purn) Budi Waseso atas prestasinya mengungkap kasus mafia beras dalam penyaluran beras Stabilisasi Patokan Harga Pangan (SPHP) dan asu aktual perberasan Indonesia. 

Irjen Pol Rudy Heriyanto menerima penghargaan itu di Ruang Rapat Besar Lantai 2 Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Rabu (18/10/2023).

Baca Juga

Dalam acara penyerahan penghargaan itu, Kapolda Banten didampingi Dirreskrimsus, Dirreskrimum, dan Dirresnarkoba Polda Banten. 

Irjen Pol Rudy Heriyanto menyebut penghargaan yang diberikan Bulog sebagai penyemangat bagi anggota Polda Banten, khususnya Direktorat Reserse Kriminal Khusus, agar lebih bernyali dan berani lagi mengungkap kasus mafia beras. 

 

“Ini (penghargaan) sebagai penyemangat bagi anggota Polda Banten, khususnya Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Banten,” kata Irjen Pol Rudy Heriyanto menanggapi penghargaan yang diberikan Dirut Perum Bulog Komjen Pol (Purn) Budi Waseso. 

Rudy terus memotivasi jajarannya agar lebih bernyali mengungkap kasus mafia beras dalam pedistribusian dan penyaluran beras Bulog dalam program stabilisasi pasokan dan harga pangan secara nasional. 

Dalam kesempatan itu, Budi Waseso (Buwas) mengungkapkan, ada pihak yang mencoba bermain dengan stok beras. Salah satu modusnya dengan membeli beras murah dari Bulog, kemudian menjualnya dengan harga mahal. Padahal, peruntukan beras ini untuk masyarakat yang membutuhkan. 

Buwas menjelaskan beras yang disalurkan oleh Bulog adalah beras premium. Beras yang disalurkan bentuk curah untuk mempercepat terdistribusinya beras itu kepada masyarakat. Namun, kata dia, mafia beras menjual beras Bulog itu ke pedagang untuk mendapatkan keuntungan. 

Baca juga: Temuan Arkeologis Barat Ini Kuatkan 15 Fakta Kerajaan Saba yang Dikisahkan Alquran

"Yang lalu itu, mereka itu membeli dari Bulog itu Rp 8.300 (dengan biaya angkut gudang), mereka jual langsung Rp12 ribu sampai Rp13 ribu dengan diganti karungnya dan dampaknya jelas banyak negatifnya," kata Buwas di kantor Bulog, Rabu (18/10/2023). 

Praktik ini lazim terjadi di berbagai daerah, tetapi terungkap salah satunya di Banten. Buwas pun memberi penghargaan kepada Polda Banten karena berhasil mengungkap kasus ini. 

"Ini terjadi bukan hanya di Banten, melainkan begitu terungkap di Banten, maka di wilayah lain mulai mereda. Bukan berarti tidak mungkin timbul kembali, karena sekarang ini beras sedang mahal," katanya. 

Saat ini Bulog sedang melakukan operasi pangan melalui Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) serta penyaluran bantuan pangan dari pemerintah kepada 21,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM). 

"Beras premium sampai ada 17-18 ribu, bahkan satu daerah sampai 21 ribu. Nah, ini kalau tidak disikapi dengan operasi pasar yang dari sudut komersial, ini pasti akan terus (naik)," kata Buwas.  

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement