Jumat 06 Oct 2023 06:32 WIB

Ahli Gizi: Status gizi Perlu Dipantau Agar Anak Stunting tak Obesitas

70 persen penuntasan masalah stunting itu justru bukan dari masalah gizi.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam upaya pengentasan stunting, sudah melaksanakan melalui program besar dengan tagline #BabelBebasStunting, yang hingga saat ini terus gencar digaungkan.
Foto: Pemprov Babel
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam upaya pengentasan stunting, sudah melaksanakan melalui program besar dengan tagline #BabelBebasStunting, yang hingga saat ini terus gencar digaungkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ahli Gizi Masyarakat dr. Tan Shot Yen mengatakan bahwa status gizi anak perlu terus dipantau agar anak yang terlanjur stunting tidak menjadi obesitas saat bertumbuh dewasa.

"Kita harus cek riwayatnya dulu, stunting kalau tidak ada masalah kelebihan berat badan, tidak ada wasting (berat badan kurang jika dibandingkan tingginya), anak ini tidak boleh didorong terus (untuk makan) sehingga berat badannya melonjak," kata dr. Tan dalam acara Humanitarian Award oleh Yayasan 1000 Cita Bangsa di Jakarta, Kamis malam (5/10/2023).

Ia menjelaskan, apabila anak stunting terus didorong dengan pola makan yang berkalori, maka akan membahayakan perkembangannya.

"Berat badannya akan meledak, itu salah satu mimpi buruk dari stunting, obesitas," ujar dia.

 

Menurutnya, stunting itu kondisi yang sangat kompleks, sehingga harus ada pemahaman yang sama tentang ini.

"Jadi kalau mau lihat anak stunting kita harus cek dulu, makanya stunting harus ditangani dokter, enggak boleh lagi ditangani kader atau bidan," ucapnya.

Dia juga menyebutkan bahwa pemahaman tentang stunting perlu disamakan agar penanganannya juga tepat.

"Kita tahu bahwa stunting itu gangguan gizi kronik selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak, yang berakibat pada tinggi badan menurut umur, berada di kurva merah ke bawah (pada buku Kesehatan Ibu dan Anak atau KIA), itu minus dua standar deviasi ke bawah," kata dia.

Ia menegaskan, permasalahan stunting bisa dituntaskan justru bukan dari masalah gizi, melainkan lebih kepada intervensi sensitif.

"70 persen penuntasan masalah stunting itu justru bukan dari masalah gizi, maka kenapa yang disebut pencegahan dan penanggulangan spesifik dan sensitif, karena kebersihan, imunisasi, perumahan itu sangat berpengaruh, sehingga semua kementerian, lembaga, masyarakat harus bekerja sama," tuturnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan dr. Lovely Daisy menyebutkan bahwa anak di atas usia enam bulan juga perlu diperhatikan makanan pendamping ASI atau MPASI-nya.

"Begitu usia masuk enam bulan sampai 23 bulan itu anak dapat MPASI, di usia itu mulai terjadi peningkatan stunting yang cukup tinggi, artinya MPASI yang diberikan pada bayi dan balita tidak mencukupi kebutuhannya," kata Lovely.

Ia menegaskan pentingnya protein hewani pada MPASI anak.

"Orang tua juga perlu memperhatikan komposisi pada MPASI, karena cenderung kurang mengandung protein hewani, padahal untuk cegah stunting perlu protein hewani," ujar dia.

Ia juga menekankan pentingnya mengontrol berat badan anak, karena setiap bulan berat badan anak harus naik.

"Kalau tidak naik pasti ada sesuatu, makannya kurang atau dia sakit. Harus diidentifikasi penyebabnya apa, dan diperbaiki makannya," ucapnya.

Untuk itu, ia menyatakan bahwa Kemenkes terus berupaya memperkuat intervensi spesifik untuk menangani stunting.

"Kalau sektor kesehatan kita perkuat di intervensi spesifik, kalau ada masalah gizi ditemukan kita tata laksana, kalau ada ibu hamil kurang energi kronis kita tata laksana, ibu hamil ini harus periksa kehamilan minimal enam kali, dua kalinya dengan dokter, kalau semua sudah dikerjakan, mau hadir dan fokus, pasti (stunting) teratasi," tutur dia.

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement