Jumat 08 Sep 2023 15:21 WIB

Privy Bersama Austrade Perkuat Ekspansi Bisnis di Australia

Kerja sama bisa mendorong startup teknologi Indonesia melebarkan bisnis di Australia.

Privy menerima kedatangan delegasi The Australian Trade and Investment Commission (Austrade) di Kawasan Cibis Park, Jakarta.
Foto: .
Privy menerima kedatangan delegasi The Australian Trade and Investment Commission (Austrade) di Kawasan Cibis Park, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan rintisan layanan identitas dan tanda tangan digital, Privy, bersiap ekspansi bisnis di Australia menyusul peresmian kantor cabang di Sydney, Australia, pada awal Juli 2023. Hal ini merupakan langkah awal Privy menjadi perusahaan global di bidang identitas digital (digital identity).

Privy menerima kedatangan delegasi The Australian Trade and Investment Commission (Austrade) di Kawasan Cibis Park, Jakarta. CEO Austrade, Xavier Simonet, mengatakan kunjungan ini untuk mendiskusikan investasi dan rencana lebih lanjut mengenai ekspansi bisnis di Australia. Pembukaan kantor Privy di Sydney menjadi contoh bagus untuk pengembangan investasi yang dilakukan antara Pemeritah Australia dan Indonesia. 

"Kami pun sangat senang bahwasanya Austrade dan tim investasi NSW dapat mendukung investasi dan ekspansi bisnis Privy serta meningkatkan peran Austrade dalam hubungan B2B antara Indonesia dan Australia," ujar Xavier melalui keterangan tertulisnya, Jumat (8/9/2023)

Xavier datang dengan didampingi Senior Trade and Investment Commissioner Austrade, Sally Deane; Senior Investment Manager Austrade, Hanifan Ahda Tarmizi; serta Director Investment NSW, Yonathan Wijaya. Pertemuan itu bertepatan dengan kunjungan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, dan Menteri Luar Negeri Penny Wong mengikuti KTT ASEAN di Jakarta. 

Kedatangan kedua petinggi Pemerintah Australia itu dalam rangka menyampaikan Strategi Ekonomi Asia Tenggara Australia hingga tahun 2040 yang menyoroti perlunya peningkatan investasi dua arah antara Australia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. 

Selain itu, datangnya delegasi Austrade ke kantor Privy diharapkan dapat memperlancar kegiatan bisnis dan perdagangan menggunakan identitas digital serta tanda tangan elektronik tersertifikasi buatan Indonesia di Australia. Asistensi Austrade diharapkan memperkuat ekspansi bisnis serta layanan Privy di Negeri Kangguru.

Xavier mengatakan sebelumnya Austrade pernah memberi dukungan bagi perusahaan teknologi unicorn asal Indonesia membuka kantor di Melbourne. Hal menjadi sinyal positif bagi pengembangan sektor teknologi Australia-Indonesia di masa datang. "Ekspansi Privy dapat mendorong perusahaan-perusahaan startup teknologi asal Indonesia lain untuk melebarkan bisnis di Australia," kata dia.

CEO Privy, Marshall Pribadi, menyambut baik kerja sama yang dibangun dengan Austrade untuk menjangkau market yang lebih luas lagi. "Baik kerja sama dengan perusahaan Australia atau perusahaan lokal dalam meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Australia,” ungkap dia.

Privy adalah perusahaan rintisan penyedia layanan identitas dan tanda tangan digital. Sebagai perusahaan SaaS (Software as a Service) Indonesia pertama yang melakukan ekspor layanan ke negara maju, Pemerintah Australia menyambut baik dan mendukung ekspansi Privy ke Australia. Hal ini sebagai salah satu manifestasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA).

Sebagai Penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE) yang telah berinduk ke Kominfo, Privy sudah memverifikasi lebih dari 40 juta pengguna individu di Indonesia. Dipercaya lebih dari 2.600 perusahaan, dan lebih dari 150 juta dokumen telah ditandatangani secara digital melalui Privy.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement