Senin 04 Sep 2023 16:47 WIB

Tukang Bor Sumur 'Panen' Permintaan di Musim Kemarau Kali Ini

Permintaan pembuatan sumur bor bisa tiga kali dalam sehari.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agus raharjo
Tukang sumur bor sedang membuat sumur bor di Desa Kejuden, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon Senin (4/9/2023).
Foto: Dok Republika
Tukang sumur bor sedang membuat sumur bor di Desa Kejuden, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon Senin (4/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON – Musim kemarau panjang yang berdampak pada kekeringan dan krisis air bersih justru menjadi berkah bagi para tukang sumur bor manual. Panggilan dari warga yang membutuhkan jasa mereka mengalami peningkatan signifikan.

Hal itu seperti yang dialami salah seorang tukang sumur bor asal Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, bernama Jejep. Dia mengatakan, diluar musim kemarau, orderan dari warga untuk membuat sumur bor biasanya hanya datang sekali dalam sepekan.

Baca Juga

Namun di musim kemarau sekarang ini, Jejep mengaku menerima panggilan jasa gali sumur bor sebanyak dua sampai tiga kali dalam satu hari.

"Kalau lagi musim kemarau seperti sekarang, (tukang sumur) bor lagi panen, banyak pesanan. Bahkan kalau orangnya (pemesan) lagi buru-buru, dikerjainnya bisa sampai malam,’’ kata Jejep, saat menggali sumur bor di Desa Kejuden, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon Senin (4/9/2023).

Jejep menjelaskan, sebagian besar warga yang menggunakan jasa galian sumur bor saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari. Sedangkan, panggilan jasa untuk membuat sumur bor di sawah, diakuinya tidak banyak.

"Kebanyakan sih yang alatnya kayak gini (manual) buat kebutuhan rumah tangga. Kalau (panggilan untuk mengebor) sawah, kurang,’’ tegas Jejep.

Dengan meningkatnya panggilan jasa dari warga untuk membuat sumur bor, maka penghasilan Jejep otomatis juga meningkat. Dia menyebutkan, peningkatan itu bisa mencapai tiga kali lipat dibandingkan hari biasanya.

Jejep menyebutkan, dalam satu kali orderan mengebor untuk kebutuhan rumah tangga warga, biaya yang dipatoknya sebesar Rp 1,5 juta.

"Untuk biaya yang alatnya manual (untuk kebutuhan rumah tangga warga), sekali bor itu Rp 1,5 juta. Kalau sehari ada tiga orderan, berarti dapatnya Rp 4,5 juta,’’ tutur Jejep.

Di musim kemarau ini, Jejep mengaku tidak terlalu sulit menemukan sumber air. Dia mengatakan, biasanya dapat menemukan air pada kedalaman tanah 10 hingga 14 meter.

"Sekali ngebor pakai alat manual paling dalam itu 14 meter. Tapi tergantung tanahnya. Kalau bagus, kedalaman 10 meter juga sudah keluar air,’’ tuturnya.

Jejep mengungkapkan, meski penghasilannya meningkat, tapi dia berharap agar musim kemarau panjang ini segera berakhir. Dengan demikian, masyarakat tidak kesulitan memperoleh air bersih.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement