Selasa 04 Jul 2023 11:15 WIB

Sudah Waktunya Titanic 'Istirahat' dengan Tenang?

Dengan tak mengganggu situs Titanic menghormati keluarga korban.

Kapal selama wisata itu membawa lima wisatawan untuk melihat puing-puing kapal Titanic
Foto: AP
Kapal selama wisata itu membawa lima wisatawan untuk melihat puing-puing kapal Titanic

Oleh : Qommarria Rostanti, Jurnalis Republika.co.id

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, Meski telah tenggelam lebih dari 100 tahun yang lalu, nama besar Titanic tak pernah pudar. Kegagahan kapal yang diklaim paling besar dan paling mewah dalam pelayaran transatlantik ini masih menjadi magnet bagi orang-orang untuk menyelami misterinya.

Titanic dibangun oleh perusahaan galangan kapal Harland and Wolff di Belfast, Irlandia Utara, untuk White Star Line. Titanic merupakan kapal penumpang Inggris yang tenggelam pada 15 April 1912. Kapal Titanic memiliki panjang sekitar 269 meter, lebar sekitar 28 meter, dan berat sekitar 46 ribu ton.

Saat itu, kapal tersebut berlayar dari Southampton, Inggris; menuju New York City, Amerika Serikat. Namun, dalam perjalanan perdananya, tepatnya pada malam tanggal 14 April 1912, Titanic bertabrakan dengan gunung es di Samudra Atlantik Utara. Akibatnya, kapal mengalami kerusakan yang serius dan akhirnya tenggelam dalam waktu kurang dari tiga jam setelah tabrakan terjadi (15 April 1912). Kurang lebih 1.500 penumpang dan awak kapal tewas dalam tragedi ini.

Kapal tersebut dikenal dengan sejarah tragisnya dan telah menjadi salah satu bencana maritim paling terkenal dalam sejarah. Tenggelamnya Titanic juga menjadi penyebab untuk melakukan perubahan dalam keselamatan pelayaran dan peraturan keamanan maritim. Setelah bencana tersebut, peraturan dan praktik keselamatan kapal penumpang ditingkatkan secara signifikan, termasuk ketersediaan perahu penyelamat yang cukup untuk semua penumpang, meningkatkan pengawasan radio, dan peningkatan pelatihan awak kapal.

Meskipun tragedi tersebut telah berlalu lebih dari satu abad, cerita dan misteri di baliknya masih menarik perhatian banyak orang. Sejak tenggelamnya Titanic, banyak penelitian, penyelaman, dan eksplorasi dilakukan untuk mempelajari kapal dan mengungkap misteri yang mengelilinginya.

Sayangnya, tak semua upaya itu berhasil. Yang terbaru, duka terjadi pada kapal selam Titan milik OceanGate yang hendak menjelajahi reruntuhan bangkai kapal Titanic pada Ahas (18/6/2023). Namun, di tengah kedalaman Samudera Atlantik, kapal yang memuat lima orang itu dikabarkan mengalami imposion. Kelima penumpang, yakni Shahzada Dawood dan putranya bernama Suleman, Hamish Harding, Stockton Rush, dan Paul Henri Nargeolet, dinyatakan meninggal dunia.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah ekspedisi Titanic sepenting itu hingga “memakan” korban? Apakah sudah waktunya Titanic beristirahat dalam keheningan Samudra Atlantik dengan tenang dan damai?

Sebelum ekspedisi yang dilakukan kapal selam Titan, ada beberapa ekspedisi yang sebelumnya telah dilakukan untuk mempelajari dan menjelajahi reruntuhan Titanic di dasar laut.

Yang pertama, Ekspedisi Ballard pada 1985. Dr Robert Ballard dari Woods Hole Oceanographic Institution, bersama dengan timnya berhasil menemukan reruntuhan Titanic menggunakan kapal penelitian laut bernama RV Knorr. Mereka menggunakan robot penggali bawah air bernama Argo yang dilengkapi dengan kamera dan peralatan pencitraan untuk mengambil gambar dan rekaman video dari reruntuhan kapal yang terletak sekitar 3.800 meter di dasar laut.

Kedua, Ekspedisi Titanic pada 1996. RMS Titanic Inc., sebuah perusahaan yang memiliki hak eksklusif untuk menyelam dan memulihkan artefak dari kapal, meluncurkan ekspedisi yang bertujuan untuk memulihkan benda-benda bersejarah dari Titanic. Mereka berhasil mengangkat lebih dari 5.500 artefak dari lokasi tenggelamnya kapal.

Ketiga, Ekspedisi James Cameron pada 2001. Sutradara film James Cameron juga memiliki minat dalam eksplorasi bawah air, melakukan ekspedisi pribadi ke Titanic. Dia menyelam menggunakan kapal selam mini yang dia rancang sendiri, yang disebut Deepsea Challenger.

Cameron mengambil gambar dan merekam video dari reruntuhan kapal, serta melakukan penelitian ilmiah selama kunjungannya. Dia akhirnya membuat film fenomenal Titanic yang dirilis pada 1997. Masih banyak lagi ekspedisi yang dilakukan untuk menjelajahi sisa-sisa kemegahan kapal. Ekspedisi-ekspedisi tersebut membantu mengungkap lebih banyak informasi tentang Titanic dan menghidupkan kembali sejarah tragisnya melalui gambar, video, dan artefak yang berhasil diambil dari reruntuhan kapal.

Namun, sudah seyogianya ekspedisi yang dilakukan harus menjamin keamanan bagi orang-orang yang melakukannya. Perlu ada perencanaan dan persiapan yang matang. Ekspedisi Titanic harus melibatkan perencanaan yang cermat dan persiapan yang teliti sebelum memulai misi. Ini termasuk mengevaluasi risiko, merencanakan rute, mengidentifikasi kebutuhan peralatan dan personel, serta melakukan penilaian terhadap faktor-faktor keselamatan.

Tim yang terlibat dalam ekspedisi harus memiliki kualifikasi yang tepat dan pelatihan yang memadai. Anggota tim harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menjalankan tugas dengan aman dan efisien. Ini termasuk pengetahuan tentang penyelaman, penggunaan peralatan, keselamatan di bawah air, dan pengelolaan keadaan darurat.

Selain itu, juga wajib dilengkapi peralatan keselamatan yang memadai. Pastikan semua peralatan keselamatan yang diperlukan tersedia dan berfungsi dengan baik sangat penting. Ini termasuk peralatan selam, sistem komunikasi, peralatan penyelamatan, dan peralatan darurat, seperti tabung oksigen cadangan dan peralatan medis.

Setiap ekspedisi harus mematuhi peraturan dan hukum maritim yang berlaku. Ini termasuk menghormati situs warisan sejarah dan melindungi lingkungan laut. Melibatkan ahli dan sumber daya yang mendukung seperti ilmuwan, insinyur, dan ahli keselamatan maritim dapat membantu meningkatkan keamanan dan kesuksesan ekspedisi.

Terobsesi dengan Titanic

Mungkin sebagian dari Anda penasaran, mengapa hingga kini masih banyak orang terobsesi dengan Titanic? Salah satu alasannya, bisa jadi karena kehebatan dan keunikan Titanic. Kapal tersebut dianggap sebagai kapal paling besar, mewah, dan canggih pada zamannya.

Desainnya yang megah, fasilitas mewah, dan kemampuannya untuk melakukan perjalanan transatlantik yang cepat menarik perhatian banyak orang. Ketika kapal ini tenggelam dalam tragedi yang tragis, hal ini menciptakan kontras yang kuat antara kehebatan kapal dan nasibnya yang malang, memperkuat daya tarik cerita tersebut.

Selain itu, mungkin bagi sebagian orang, tragedi yang terjadi pada Titanic membuat terpesona. Cerita kehilangan yang tragis, keberanian, dan pengorbanan yang terjadi selama malam itu membuatnya menjadi kisah yang menggugah emosi dan mengundang perhatian banyak orang. Faktor dramatis ini membuat Titanic menjadi bagian dari sejarah dan menarik minat orang dalam mempelajari lebih lanjut tentang peristiwa tersebut.

Cerita yang dimuat dalam film Titanic saya rasa juga menyumbang dalam membangkitkan minat dan obsesi terhadap kapal ini. Film tersebut memperkenalkan cerita cinta yang mengharukan antara Jake (Leonardo DiCaprio) dan Rose (Kate Winslet) di tengah tragedi kapal tenggelam.

Kesuksesannya di box office membuat lebih banyak orang tertarik untuk mempelajari dan menggali lebih dalam tentang Titanic.

Gabungan dari kehebatan kapal, tragedi yang terjadi, misteri yang belum terpecahkan, pengaruh film, serta peran sejarah dan warisan, diprediksi berkontribusi pada obsesi dan minat pada Titanic hingga saat ini. Walaupun banyak minat dan obsesi yang masih ada terkait dengan Titanic, penting untuk menjaga penghormatan dan sensitivitas terhadap peristiwa tersebut.

Apakah ekspedisi Titanic diperlukan?

Pertanyaan apakah ekspedisi Titanic diperlukan atau tidak, mungkin bergantung pada perspektif individu dan tujuan dari ekspedisi tersebut. Jika tujuannya untuk pendidikan dan penelitian, ekspedisi Titanic dapat memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian ilmiah yang lebih lanjut tentang reruntuhan kapal.

Penelitian ini dapat memberikan wawasan baru tentang sejarah, teknologi, dan tantangan keselamatan maritim. Selain itu, ekspedisi ini juga dapat digunakan sebagai alat pendidikan yang kuat untuk mengajarkan sejarah dan menjaga ingatan terhadap tragedi Titanic.

Namun  di sisi lain, muncul argumen bahwa ekspedisi Titanic tidak diperlukan. Mengapa? Ekspedisi Titanic justru berpotensi menyebabkan kerusakan fisik pada reruntuhan kapal atau mengganggu lingkungan laut sekitarnya. Ada kekhawatiran bahwa kegiatan manusia yang berlebihan dapat merusak situs tersebut dan mengurangi integritas sejarah yang ada.

Yang tidak kalah penting adalah soal penghormatan terhadap korban. Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa penghormatan terhadap korban dan menghormati tempat peristirahatan terakhir mereka adalah yang terpenting. Dengan meninggalkan reruntuhan kapal dan tidak mengganggu situs tersebut, dianggap sebagai tindakan yang lebih menghormati para korban. Dengan kata lain, biarkan Titanic beristirahat dalam damai dengan segala misteri yang masih tersisa di dalamnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement