Kamis 25 May 2023 09:47 WIB

Harga Telur Meroket Tembus Rp 38.700 per Kilogram

Di Provinsi DKI Jakarta, harga telur rata-rata dibanderol Rp 32.350 per kg.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Erik Purnama Putra
Pedagang menata telur ayam ras yang dijual di Pasar Barito, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Kamis (18/5/2023).
Foto: Antara/Andri Saputra
Pedagang menata telur ayam ras yang dijual di Pasar Barito, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara, Kamis (18/5/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harga telur ayam secara nasional masih di atas Rp 30 ribu per kilogram (kg). Padahal, beberapa waktu lalu, harga telur masih di kisaran Rp 28 ribu per kg. Khusus di Provinsi DKI Jakarta rata-rata dibanderol Rp 32.350 per kg.

Dilansir dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), di seluruh pasar tradisional di Indonesia tak ada harga telur yang di bawah Rp 31 ribu per kilogram hingga Rabu (24/5/2023). Bahkan, sejak pekan lalu, harga telur di Jakarta masih di angka Rp 32.350 per kg dan sempat menyentuh angka Rp 32.650 per kg.

Justru di Kalimantan harga telur sempat menginjak harga Rp 34.800 pada Rabu kemarin. Sedangkan di Papua, harga telur sejak pekan lalu tak berubah di angka Rp 37.100 per kilogram. Di Papua Barat bahkan telur dibanderol Ro 38.700 per kilogram.

Di pasar modern, harga telur rata rata nasional mencapai Rp 33.500 per kilogram. Harga grosir pun tak berubah, masih di atas Rp 30 ribu per kilogram.

 

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi menjelaskan, dinamika harga telur harus dilihat dari berbagai sisi. Hal itu karena tidak terlepas dari upaya menjaga keseimbangan dan harga yang wajar di tingkat peternak, pedagang, dan konsumen.

"Beberapa bulan terakhir usaha Pemerintah memang untuk menyiapkan harga yang wajar di tingkat Peternak, Pedagang dan Konsumen. Hal Ini sesuai dengan konsen Presiden Joko Widodo agar harga pangan dijaga tetap wajar dan seimbang di petani/peternak, pedagang dan konsumen," kata Arief dalam siaran pers di Jakarta, Senin (22/5/2023).

Arief menuturkan, upaya menjaga keseimbangan harga telur harus dimulai dari hulu karena secara sistematis turut membentuk harga di tingkat hilir. "Saat ini di tingkat hulu atau peternak terjadi perubahan biaya produksi, khususnya variabel biaya pakan," katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement