Selasa 18 Apr 2023 21:36 WIB

Pengamat Pendidikan: Kurikulum Merdeka Bisa Jadikan Pelajar Seorang Ahli

Kurikulum Merdeka berikan keleluasaan guru untuk susun materi pembelajaran

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Sejumlah murid menyimak materi pelajaran saat proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Santoso Wignyosukarto, melihat Kurikulum Merdeka memiliki keunggulan pada relaksasi mata pelajaran. Di mana, kurikulum tersebut memberikan keleluasan bagi satuan pendidikan dalam menyusun materi pembelajaran di sekolah dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan lokal pada masing-masing daerah.
Foto: ANTARA/Andi Bagasela
Sejumlah murid menyimak materi pelajaran saat proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Santoso Wignyosukarto, melihat Kurikulum Merdeka memiliki keunggulan pada relaksasi mata pelajaran. Di mana, kurikulum tersebut memberikan keleluasan bagi satuan pendidikan dalam menyusun materi pembelajaran di sekolah dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan lokal pada masing-masing daerah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Budi Santoso Wignyosukarto, melihat Kurikulum Merdeka memiliki keunggulan pada relaksasi mata pelajaran. Di mana, kurikulum tersebut memberikan keleluasan bagi satuan pendidikan dalam menyusun materi pembelajaran di sekolah dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kearifan lokal pada masing-masing daerah.

“Dengan relaksasi ini, gurunya jadi lebih kreatif daripada dulu yang materinya seragam seluruh Indonesia. Mereka dapat mengambil pembahasan masalah dari hal-hal lokal, budaya lokal, kearifan lokal, dan mungkin juga bisa kerja sama dengan UMKM yang ada untuk belajar kewirausahaan,” jelas Budi kepada wartawan, Selasa (18/4/2023).

Budi mengatakan, dengan memasukkan permasalahan di lingkungan sekitar dalam pembelajaran, para siswa diharapkan menjadi lebih senang ketika belajar sehingga tertarik mempelajari dan mencintai daerahnya. Untuk itu, sekolah harus memahami apa yang dibutuhkan di daerahnya saat ini dan mendatang dalam menyusun Kurikulum Merdeka.

"Saya pernah ketemu dengan siswa SMP Negeri 5 Yogyakarta mereka senang karena dapat mengembangkan kreativitasnya,” jelas dia.

 

Dia kemudian memberikan contoh, yakni para pendidik bisa mengajak para siswa melihat jenis flora dan fauna yang ada disekitar untuk mempelajari ekosistem kawasan. Kemudian, siswa tersebut diminta untuk meneliti dan mendeskripsikan mengapa flora dan fauna tersebut dapat hidup di daerahnya.

"Ini cara belajar kearifan lokal. Dalam Kurikulum Merdeka mereka diharapkan menjadi ahli-ahli di daerahnya, termasuk memahami budayanya sendiri,” kata Budi.

Meski memberikan kebebasan, Budi meminta kepada Kemendikbudristek untuk melakukan pengawasan kepada satuan pendidikan dalam menyusun Kurikulum Operasional. Menurut dia, jangan sampai dalam penyusunannya keluar dari nilai-nilai kebangsaan, kesatuan bangsa toleransi dan mencintai pembangunan berkelanjutan.

"Tetapi kurikulum inti, mata pelajaran dasar tetap harus diperhatikan,” jelas dia.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Timur, Teguh Sumarno, mengatakan, Kurikulum Merdeka menjadi landasan untuk memberikan kebebasan bagi semua jenjang pendidikan. Kurikulum itu memperbolehkan para guru untuk memberikan mata pelajaran sesuai bakat dan minat siswa.

"Dampak positifnya, dalam posisi kesetaraan, ini menjadi satu konfrontatif bagi anak yang mau maju sekaligus meningkatkan peluang, sekaligus sejauh mana intelegensi mereka pada pelajaran yang disukai,” kata Teguh.

Kemendikbudristek telah menutup pendaftaran implementasi Kurikulum Merdeka untuk tahun ajaran 2023-2024. Tercatat, lebih dari 300 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia telah mendaftar dan antusias untuk segera merasakan manfaat dari keunggulan Kurikulum Merdeka.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement