Ahad 22 Jan 2023 18:57 WIB

3.489 Hektare Tanaman Padi di Kudus Puso Akibat Banjir

Potensi kerugian lahan padi yang puso berkisar Rp 50,1 miliar.

Petani mengoperasikan mesin pompa air di lahan pertanian yang terendam banjir di Desa Setrokalangan, Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2021). Sebanyak 20 mesin pompa air milik petani dan bantuan pemerintah setempat dioperasikan untuk menyedot air yang  menggenangi persawahan itu sebagai upaya meminimalisir tanaman padi yang puso serta percepatan masa tanam padi pascabanjir.
Foto: ANTARA/Yusuf Nugroho
Petani mengoperasikan mesin pompa air di lahan pertanian yang terendam banjir di Desa Setrokalangan, Kaliwungu, Kudus, Jawa Tengah, Selasa (23/2/2021). Sebanyak 20 mesin pompa air milik petani dan bantuan pemerintah setempat dioperasikan untuk menyedot air yang menggenangi persawahan itu sebagai upaya meminimalisir tanaman padi yang puso serta percepatan masa tanam padi pascabanjir.

REPUBLIKA.CO.ID, KUDUS--Banjir yang melanda sejumlah daerah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tidak hanya berdampak pada pemukiman penduduk. Banjir juga berdampak pada lahan tanaman padi seluas 3.489 hektare. Akibatnya, tanaman padi mengalami puso akibat tergenang dalam waktu lama.

"Ribuan hektare lahan tanaman padi yang puso tersebut tergenang banjir hingga tanggal 15 Januari 2023 yang tersebar di sejumlah kecamatan. Mulai dari Kecamatan Jati, Mejobo, Kaliwungu, Jekulo, dan Undaan," kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetya melalui Kasi Tanaman Pangan Arin Nikmah di Kudus, Ahad (22/1/2023).

Baca Juga

Ia mencatat lahan tanaman padi yang tergenang akibat banjir pada awal Januari 2023 mencapai 3.756 hektare, namun yang mengalami gagal panen seluas 3.489 hektare. Sedangkan potensi kerugiannya berkisar Rp 50,1 miliar.

Potensi kerugian tersebut, imbuh dia, dihitung berdasarkan umur tanaman. Untuk tanaman 1-45 hari setelah tanam (HST) nilai kerugian per haktare berkisar Rp 7,5 juta. Sementara itu tanaman padi di atas 45 HST, potensi kerugiannya berkisar Rp 15 juta per hektare.

"Penghitungan potensi kerugian tersebut merupakan rata-rata karena varian umur tanaman padi yang puso bervariasi," ujarnya.

Sementara itu ketinggian genangan banjir yang terjadi juga bervariasi. Ketika genangan berlangsung terlalu lama, batang tanaman padi dipastikan membusuk alias puso.

Dinas Pertanian dan Pangan Kudus juga sudah mengajukan bantuan benih kepada Pemerintah Pusat dan sebagian diajukan klaim asuransinya karena ada yang mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).

Tanaman padi puso yang mengikuti program AUTP seluas 407 hektare, sedangkan yang diusulkan mendapatkan bantuan benih karena dampak perubahan iklim ke Kementerian Pertanian seluas 3.401 hektare.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement