Senin 26 Dec 2022 13:30 WIB

Hubungan Sesama Jenis Penyebab Jumlah Kasus HIV di Jabar Melesat

Pemprov Jabar sebut hubungan sesama jenis jadi penyebab jumlah kasus HIV melesat.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Bilal Ramadhan
Sesama jenis/ilustrasi. Pemprov Jabar sebut hubungan sesama jenis jadi penyebab jumlah kasus HIV melesat.
Foto: 123rf.com
Sesama jenis/ilustrasi. Pemprov Jabar sebut hubungan sesama jenis jadi penyebab jumlah kasus HIV melesat.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus berupaya menekan kasus infeksi HIV-AIDS dengan sejumlah langkah mitigasi. Kasus kumulatif HIV di Jabar hingga September 2022 tercatat sebanyak 57.134 kasus, dan kasus kumulatif AIDS sebanyak 12.326 kasus.

Menurut Asisten Pemerintahan, Hukum dan Kesejahteraan Sosial Jabar, Dewi Sartika, kasus tertinggi HIV-AIDS di Jabar saat ini adalah Kota Bandung (726 kasus), disusul Kota Bogor (557 kasus), Kota Bekasi (447 kasus), kemudian Kabupaten Indramayu, dan Kabupaten Bandung. 

"Yang harus menjadi perhatian dari semua kasus tersebut 74 persennya diderita oleh kelompok laki-laki, dan 26 persen kelompok perempuan, dengan penyebab utamanya adalah hubungan sesama jenis, disusul pengguna narkotika," ujar Dewi akhir pekan lalu.

Dewi menjelaskan, mitigasi yang dilakukan pihaknya di antaranya dengan memberikan pendampingan kualitas hidup kepada penderita HIV-AIDS. Serta, penguatan lingkungan yang kondusif melalui kolaborasi Pentahelix sebagai upaya pencegahan. 

Pemprov Jabar, kata dia, mempunyai sejumlah program pencegahan dan penguatan bagi anak-anak penderita HIV-AIDS yang harus diselamatkan masa depannya. 

"Mitigasi dan sejumlah program pencegahan HIV-AIDS terus kita perkuat. Saya harap kita tidak boleh lengah, khususnya terhadap penderita anak-anak karena kalau lengah akan kehilangan generasi emas 2045," papar Dewi.

Saat ini, kata Dewi, pihaknya juga terus menguatkan peran kelembagaan bersama Dinas Kesehatan Jabar dalam mengingatkan dan mencari orang yang terkena HIV-AIDS untuk diberikan pengobatan. 

Berdasarkan kelompok usia, kata dia, hampir 66 persen penderita HIV-AIDS di Jabar berusia produktif, yakni 25-49 tahun, kemudian 18,6 persen usia 20-24 tahun, dan 6,1 persen usia di atas 50 tahun. 

Oleh karena itu, kata dia, peringatan Hari AIDS Sedunia ini menjadi pengingat terhadap fenomena gunung es yang hanya terlihat kecil di atasnya saja. Padahal di bawahnya kasus relatif tinggi yang harus menjadi perhatian semua pihak. 

"Karena itu terus-menerus kita ingatkan, terutama yang sudah terinfeksi agar tetap bersemangat dan rutin berobat. Untuk masyarakat juga teruslah berperilaku hidup sehat dan melakukan komunikasi yang sehat," kata Dewi. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement