Ahad 11 Dec 2022 16:16 WIB

Kunjungan Wisatawan ke Banyuwangi Capai 2,5 Juta Jiwa

Jumlah tersebut masih sekitar 50 persen dari kondisi normal sebelum pandemi Covid-19.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Andi Nur Aminah
Wisatawan berada di kaldera Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Taman Wisata Alam (TWA) Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso itu menjadi salah satu destinasi wisata yang terfavorit dikunjungi wisatawan (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Budi Candra Setya
Wisatawan berada di kaldera Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. Taman Wisata Alam (TWA) Ijen yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso itu menjadi salah satu destinasi wisata yang terfavorit dikunjungi wisatawan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANYUWANGI -- Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, M Yanuar Bramuda mengungkapkan, tren kunjungan wisatawan ke sejumlah destinasi wisata yang ada di Bumi Blambangan terus mengalami peningkatan. Jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Banyuwangi sepanjang 2023 mencapai 2,5 juta kunjungan. Meskipun, kata dia, jumlah tersebut masih sekitar 50 persen dari kondisi normal sebelum pandemi Covid-19.

"Total target 2,5 juta kunjungan (wisatawan domestik) sudah tercapai. Target tahun ini kan memang 2,5 juta. Itu masih jauh, sekitar 50 persen dibanding saat normal. Saat normal di angka lima juta untuk domestik," kata pria yang akrab disapa Bram tersebut, Ahad (11/12/2022).

Baca Juga

Bram melanjutkan, untuk jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Banyuwangi sepanjang 2023 sekitar 25 ribu kunjungan. Angka itu masih jauh di bawah kondisi normal. Di mana kunjungan wisatawan mancanegara ke Banyuwangi bisa mencapau 100 ribu kunjungan per tahun. 

Bram melanjutkan, untuk destinasi wisata paling favorit sampai sejauh ini masih Kawah Ijen. "Ijen penyuplai tertinggi dari segmen ini, sehingga Ijen menjadi destinasi utama yang ada di Banyuwangi," ujarnya.

Bram berharap kunjungan wisatawan ke Banyuwangi di tahun depan bisa kembali meningkat. Jika pun tidak bisa menyentuh angka normal, kata dia, setidaknya kunjungan wisatawan ke Banyuwangi sepanjang 2023 diharapkan bisa mencapai 3,5 juta kunjungan. Pihaknya pun terus terus melakukan pembenahan infrastruktur maupun akomodasi di sekitar destinasi wisata.

Bram menyontohkan, program homestay naik kelas yang terus digencarkan untuk mendorong homestay di Banyuwangi berbenah agar membuat pengunjung lebih nyaman saat tinggal di sana. Program ini juga dimaksudkan agar pengunjung yang tidak kebagian hotel, tetap bisa mendapatkan penhinapan yang nyaman.

"Pada saat tertentu, di weekend misalnya, okupansi hotel cukup padat. Maka kita ingin mengalihkan bagaimana wisatawan yang tidak masuk ke hotel pindah ke homestay. Tentunya kuliatasnya, SDM, pelayanannya dinaikan," ujarnya.

Bram menjelaskan, di Banyuwangi terdapat sekitar 600 homestay, namun yang terdaftar baru sekitar 264 unit. Dari jumlah tersebut, yang telah mengikuti program homestay naik kelas sekitar enam unit. Ia menargetkan di tahun depan ada sekitar 20 homestay yang juga bergabung dalam program tersebut.

Analis senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Jawa Timur, Siti Rochmawati mengungkapkan, kinerja sektor pariwisata di wilayah setempat terus menunjukkan tren pemulihan. Pertumbuhan wisatawan mancanegara pada triwulan II 2022 mencapai 167,03 persen (YoY) atau 104,9 persen (Q to Q). Perbaikan kinerja turut tercermin dari pertumbuhan devisa pada triwulan II 2022 yang mencapai 168,05 persen (YoY) atau 97,02 persen secara Q to Q).

"Terdapat kesamaan pendorong perbaikan kinerja wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara, yaitu perbaikan kondisi finansial, syarat perjalanan, serta munculnya berbagai destinasi wisata baru," kata Rochmawati.

Di tengah peningkatan kinerja pariwisata, kata Rochmawati, destinasi utama memiliki ruang peningkatan terkait aspek quality tourism. Menurutnya, hal ini perlu menjadi fokus pengembangan, yang juga perlu dilaksanakan berdasarkan preferensi minat wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara seiring datangnya era new normal.

"Peningkatan lalu lintas atau penumpang transportasi baik udara maupun darat menunjukkan pemulihan yang menjanjikan. Namun terdapat tantangan yang menghadang yaitu terkait jumlah pesawat yang berkurang selama era pandemi, serta kualitas infrastruktur jalan yang berkurang di Jatim," kata Rochmawati.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement