Jumat 18 Nov 2022 10:07 WIB

Muhammadiyah, Focal Point Peradaban Indonesia

Fondasi yang diletakkan dalam gerakan Muhammadiyah adalah ruh Islami.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kiri) berjabat tangan dengan Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti usai menyampaikan pidato iftitah pada pembukaan Tanwir Muhammadiyah di Auditorium Muhammad Djazman, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (18/11/2022). Tanwir merupakan salah satu agenda akbar Muhammadiyah di bawah Muktamar. Salah satu agenda Tanwir nanti yakni pemilihan formatur PP Muhammadiyah.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kiri) berjabat tangan dengan Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti usai menyampaikan pidato iftitah pada pembukaan Tanwir Muhammadiyah di Auditorium Muhammad Djazman, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Sukoharjo, Jawa Tengah, Jumat (18/11/2022). Tanwir merupakan salah satu agenda akbar Muhammadiyah di bawah Muktamar. Salah satu agenda Tanwir nanti yakni pemilihan formatur PP Muhammadiyah.

Oleh: Dyah Lyesmaya | Dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Sukabumi dan Anggota Majelis Dikdasmen PD 'Aisyiyah Kota Sukabumi

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah peradaban dibangun oleh komponen-komponen yang bersinergi saling mewarnai. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki kekayaan keberagaman yang saling mengisi. Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai salah satu komponen bangsa ini, merupakan organisasi masyarakat terbesar dan ‘Aisyiyah sebagai organisasi wanita terbesar dunia, menjadi aset penting bangsa Indonesia untuk meletakan pondasi peradaban bangsa Indonesia.

Muhammadiyah telah membuktikan diri sebagai komponen yang istiqomah berkesinambungan membangun dan bertindak demi kemaslahatan bangsa menuju peradaban yang utama. Peradaban yang mempunyai arah kemajuan yang mencerahkan masa depan dalam sistem yang dilandasi nilai luhur keislaman dan kemanusiaan yang universal sebagai rahmatan lil alamin. 

Muktamar sebagai Back Azimuth Gerakan

Muhammadiyah tahun ini mengadakan Muktamar yang ke-48 di Kota Solo, Jawa Tengah, tepatnya di Gedung Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).  Muktamar adalah perhelatan akbar yang dapat dipadankan dengan kata Kongres. Jika dalam organisasi kemasyarakatan lain, kongres identik dengan dinamika dan “drama” suksesi kepemimpinan.

Menariknya, di Muhammadiyah, suksesi adalah hal sangat biasa. “Kepemimpinan di Muhammadiyah ditentukan oleh sistem bukan sinten (orang),” Itu kata Prof Abdul Mu’ti, sekretaris umum PP Muhammadiyah. Kegiatan Muktamar Muhammadiyah adalah silaturahim lima tahunan pemimpin pusat, wilayah, perwakilan organisasi, dan amal usaha (baca:unit bisnis) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan terkait arah pergerakan organisasi yang terhimpun dalam Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (organisasi wanita muhammadiyah).

Muktamar ini berlangsung selama tiga hari mulai dari 18 sampai 19 November 2022. Agenda penting muktamar adalah memberikan pijakan dan momentum penting untuk mewujudkan gerakan dakwah dan tajdid menuju peradaban umat. Tema utama muktamar tahun ini adalah “Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta” dan ‘Aisyiyah mengusung tema “Perempuan Berkemajuan, Mencerahkan Peradaban Bangsa”.

Melalui tema ini, Muhammadiyah ingin memberikan warna (baca:ruh) dan kontribusi setinggi-tingginya untuk bangsa ini agar maju dan dapat berdaya saing di kancah dunia. Hal ini dapat terwujud dengan semakin berkualitasnya Sumber Daya Manusia Indonesia dan sistem organisasi yang semakin sehat dan terarah sehingga menjadi rahmatan lil alamin (bermanfaat dan mencerahkan semesta). 

Alih-alih mengusung calon pemimpin selanjutnya di Muhammadiyah, kegiatan yang menonjol di akar rumput justru dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan menyambut Muktamar. Mulai dari jalan sehat, bakti sosial, lomba ini itu sebagai “penggembira” yang diadakan diberbagai daerah hingga seminar dan simposium yang dilakukan sebagai pembuka diskusi menuju muktamar yang dilakukan di amal usaha perguruan tinggi atau komunitas/majelis Muhammadiyah.

Hal ini mengindikasikan bahwa para pakar dan warga muhammadiyah lebih mementingkan pernyataan pikiran untuk mengambil tindakan bagi bangsa di masa depan. Kebiasaan berkontribusi aktif inilah yang dirawat Muhammadiyah bahkan sebelum bangsa ini didirikan. Sebagai contoh, Iro-Society dan Mira’i Publishing, salah satu komunitas yang diasuh oleh Pro Imam Robandi (Ketua Dewan Professor ITS 2021-2025 dan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat periode 2010-2015) pada 9 November 2022 lalu mengadakan kegiatan simposium kebangsaan bertema Repositioning Gerakan Muhammadiyah untuk Indonesia Modern sebagai ekspresi menyambut muktamar ini.

Pada simposium daring tersebut, ia mengatakan bahwa Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang ikut meletakan dasar dan fondasi negara ini melalui pendidikan yang mencerahkan dan akan terus seperti itu. Hal ini terwujud berkat ruh Muhammadiyah yaitu Alquran Surah Al-Imran ayat 102-104 dan Surah Al-Maun ayat 1-7, yang ditanamkan KH Ahmad Dahlan dalam sanubari warga Muhammadiyah menjadi kualitas warga Muhammadiyah yang berdiferensiasi dan berdaya saing.

Semua aspek amal usaha di lembaga pendidikan meniupkan ruh kualitas menyeru pada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang munkar dengan ikhlas dan terus memberikan bantuan (fastabiqul khairat dan filantropi kemanusiaan). Kualitas inilah yang mengantar Muhammadiyah menjadi organisasi islam terbesar yang mendunia dan teladan bagi organisasi lainnya. Kegiatan yang dimoderatori oleh  Prof Harus Laksana Guntur (Pendiri dan Dewan Pakar PCIM Tokyo 2007-2009) ini diikuti sangat antusias oleh peserta yang berasal dari seluruh penjuru tanah air. Para peserta simposium tampak sudah sangat luwes dalam berdiskusi secara daring meskipun berasal dari berbagai daerah, kalangan, usia, dan latarbelakang pendidikan. 

Sebagian besar peserta simposium ini adalah peserta Kajian Spesial Jumat Malam (KSJM) Iro-Society, yang  sudah terbiasa dengan perubahan dan modernisasi. Hal ini terbukti dengan lahirnya banyak penulis buku, artikel, penyelenggara acara, dan bahkan youtube streamer dari hasil KSJM ini. Ini adalah capaian yang luar bisa, ini adalah reposisi dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia warga Muhammadiyah.

Prof Imam juga menambahkan agar kita dapat merefleksi pergerakan KH.Ahmad Dahlan yang pada saat sebelum kemerdekaan mampu menghimpun kualitas manusia dengan segala keterbatasan dalam membangun bangsa. Harusnya, kita saat ini, dengan bantuan teknologi yang semakin pesat, mampu menjawab tantangan apapun untuk kesejahteraan umat.

Iro-Socety melalui simposium ini adalah jawaban dan ikhtiar menuju moderenisasi peradaban melalui kualitas manusia. Kualitas pribadi yang mampu mereposisi diri untuk bergerak dan bertindak. Analogi Prof Imam mengenai reposisi kebangsaan dengan mengibaratkan kita yang ingin melihat Gunung Kawi dari Kota Surabaya, terhalang oleh Gunung Arjuno. Ada dua cara agar kita dapat melihat Gunung Kawi, memindahkan Gunung Arjuno atau cara pandang kita yang kita alihkan? Memindahkan Gunung Arjuno adalah sulit. Oleh karena itu, Muhammadiyah hadir untuk dapat melatih warganya agar mampu mereposisi diri menghadapi tantangan sesulit apapun.

Muktamar juga adalah salah satu cara Muhammadiyah mereposisi diri. Saat media gathering pada 11 November 2022, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir memastikan, terdapat lima agenda penting muktamar yang akan dibahas. Satu, laporan PP Muhamadiyah 2015-2020 yang memotret pekerjaan yang telah dilakukan persyarikatan sebagai bahan refleksi kepengurusan selanjutnya.

Kedua, membahas program lima tahun kedepan dengan cara bagaimana memperkuat amal usaha/unit bisnis sebagai benteng kemaslahatan umat sesuai dengan tema yang diusung muktamar. KetigaT, membahas Islam Berkemajuan yang berarti menciptakan kedamaian, keadilan dan peradaban utama.

Keempat, membahas isu strategis yang merupakan masalah yang dihadapi umat dalam konteks kebangsaan maupun dunia. kelima, pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah-Aisyiyah beserta kepengurusannya. Navigasi keorganisasian sangat jelas dan terarah di Muhammadiyah. Azimuth (sudut sasaran tujuan) telah ditentukan oleh KH.Ahmad Dahlan melalui ruh Al-Imran dan Al Maun. Muktamar lima tahunan sebagai Back Azimuth (sudut kebalikan) untuk mengontrol apakah perjalanan sesuai dengan arah titik tujuan. 

Pendidikan sebagai Kunci Peradaban

Fondasi yang diletakkan dalam gerakan Muhammadiyah adalah ruh Islami. Ruh yang menjadi sumber inspirasi, motivasi, optimisme, dan menjadi pemantik untuk berbuat kebajikan dan kebaikan. Adapun nilai yang melekat pada organisasi adalah dakwah dan tajdid. Dakwah dalam artian menyebarluaskan nilai islami dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun berbangsa dan bernegara ke seluruh alam.

Tajdid berarti pembaharu, dinamis, dan menghasilkan karya yang lebih baik. Dakwah dan tajdidlah yang menjadikan karakter modern dalam organisasi. Selalu bergerak dinamis, dan adaptif terhadap perubahan menjadikan Muhammadiyah sebagai penggerak dakwah modern. Mental inilah yang dicontohkan pendiri Muhammadiyah sejak awal.

Mental untuk bersabar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dan mental bersungguh-sungguh (ethos) dengan ikhlas membawa perbaikan dan pencerahan untuk sekitar. Dari sinilah peradaban muncul, dari pribadi-pribadi yang mempunyai mental terus memperbaiki diri ke arah yang lebih baik dengan ikhlas.

Bagi pribadi yang memiliki mental pembaharu, peradaban bukan ditunggu melainkan dibuat. Karya yang telah ditorehkan Muhamamdiyah dalam upaya membangun bangsa adalah dengan membangun karakter, budaya, politik, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan melalui amal usaha Muhammadiyah.

Di usia yang ke-110, Tercatat sudah jaringan kelembagaan tersistematis dari pusat, wilayah, daerah, cabang, ranting, yang tersebar di seluruh Indonesia. Ditambah dengan cabang istimewa luar negeri (14 negara di benua Asia, delapan negara di benua Eropa, lima negara di benua Afrika, satu negara di benua Amerika, dan satu negara di benua Australia dengan sembilan sister organisasi diberbagai negara).

Saat ini, Muhammadiyah memiliki 10.830 lembaga pendidikan mulai dari tingkat PAUD/TK, SLB, Pesantren, hingga perguruan tinggi menjadi inkubator keilmuan dan keunggulan. Selain itu, memiliki 119 Rumah Sakit dengan 783 fasilitas kesehatan dan 869 balai sosial menjadi pelayan kesehatan umat.

Muhammadiyah juga memiliki sebanyak 921 lembaga keuangan dan perusahan yang mengutamakan kesejahteraan umat. Saat ini, ada sebanyak 11.473 mesjid dan 8.725 Mushola sebagai tempat konsolidasi dakwah Muhammadiyah. Jumlah yang sangat besar dan spektakuler yang akan berimbas pada kehidupan ummat islam terutama Bangsa Indonesia. Disinilah Muhammadiyah memiliki peran strategis bagi kultur peradaban Indonesia dengan menjadi teladan membangun peradaban terbaik.   

Sebagai organisasi dakwah, Muhammadiyah menggunakan banyak metode untuk menyukseskan agenda dakwah. Dari sekian banyak aset amal usaha Muhammadiyah (hardware) di usia yang seabad lebih tentunya telah melahirkan banyak manusia berkualitas sebagai aset (software) penggerak dakwah. Ini adalah modal yang sangat besar dan kuat untuk berdakwah mewujudkan kemajuan islam.

Sinergi kedua aset ini sejatinya adalah memperkuat dakwah untuk menebarkan Islam sebagai rahmatan lil alamin sehingga terwujud masyarakat islam sejati. Dakwah terbaik agar berdampak pada sekitar adalah dengan teladan. Teladan dapat terwujud melalui kualitas perilaku yang tecermin dari pribadi-pribadi. Kualitas perilaku seseorang adalah hasil sebuah pendidikan yang baik.

Itulah sebabnya dari sekian banyak amal usaha di Muhammadiyah, lembaga pendidikan merupakan amal usaha terbanyak (10.830) yang diupayakan. Muhammadiyah menyadari bahwa dengan pendidikanlah, umat akan berkemajuan. Pendidikan yang didorong untuk menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan umat.

Sejak awal, KH Ahmad Dahlan mempunyai visi dakwah modern melalui moderasi pendidikan. Anak-anak menjadi perhatian utama dan menjadi medan dakwah yang sangat penting. Zaman yang selalu berubah dan kebutuhan anak-anak yang juga berubah dari waktu ke waktu, membutuhkan kualitas pendidik yang mampu beradaptasi tinggi.

Pendidik yang mampu menggerakkan rasa tanggung jawab moral masyarakat dengan menyucikan iman islam yang benar. Berawal dari majelis pengajian Sidratul Muntaha yang menginisiasi sekolah Hogere School kemudian Kweek School Moehammadijah selanjutnya dikenal Madrasah Mualimin Muhammadiyah, sekarang berkembang pesat hingga mencapai angka 10.830 dengan 177 perguruan tinggi di dalamnya.

Selain anak-anak, perempuan dan pemuda mendapatkan perhatian yang berimbang dari persyarikatan. Untuk mereka, didirikan lembaga otonom sendiri diantaranya ‘Aisyiyah (Organisasi Wanita Muhammadiyah), Nasiyiatul Aisyiyah (Putri Muhammadiyah), Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan  Mahasiswa Muhammadiyah, Hizbul Wathan (Barisan Cinta Tanah Air/Kepanduan), dan Tapak Suci Putera (Perguruan Silat). Lembaga-lembaga ini menjadi kawah candradimuka penggodogan kualitas muslim dan muslimah Muhammadiyah. Atmosphare gerakan dakwah modern yang ditopang dengan jejaring yang jelas, kuat dan akuntabel adalah ruang lembab yang akan menumbuhkan “jamur”, menetaskan penerus bangsa yang unggul. Ini adalah kekuatan peradaban yang penting dari Muhammadiyah untuk bangsa ini, sebagai pusat keunggulan pencetak manusia unggul. 

Peradaban Berkemajuan 

Satu orang berkualitas maka dapat menghegemoni jutaan manusia. Kekuatan fisik saja tidak cukup tetapi perlu dibangun prestise akan pentingnya ide. Kualitas terbaik perubahan peradaban utama muncul dari kesadaran ini. Antonio Gramsci mengingatkan kita bahwa semua orang adalah intelektual tetapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual dalam masyarakat. Ini berarti, sinergi amal usaha memerlukan kualitas intelektual pemimpin amal usaha yang mampu menjadi pemantik dan pemanas pergerakan.

Pemimpin yang mampu mengimbangi kecepatan perubahan dan kompetisi yang tinggi. Pemimpin yang ikhlas beramal dan menangkap keresahan umat serta solutif. Di sisi lain, matematikawan Gauss melalui teorinya berkata bahwa sesuatu yang besar akan berdampak pada matrik sebuah sistem. Muhammadiyah, sebagai organisasi besar, mau tidak mau akan mewarnai sistem di luar Muhammadiyah. Modal ideologi Islam yang memiliki basis material (amal usaha) dan didukung oleh intelektual adalah kekuatan Muhammadiyah untuk ikut membangun peradaban modern bangsa ini.

Keunggulan adalah kata kunci utama untuk menggerakkan peradaban berkemajuan. Lebih dari itu, hal yang paling penting adalah kesalehan. Muhammadiyah hadir dan berkomitmen dari awal untuk mencetak keduanya, mencetak manusia dengan keunggulan dan kesalehan. Kesalehan adalah nilai Islam mengenai kepedulian seseorang terhadap kepentingan masyarakat sebagai bagian dari ibadah.

Kesalehan adalah wujud komprehensif (Kaffah) ketakwaan seseorang yang mengakomodasi kepentingan umum, bermanfaat untuk sekitar, empati, dan senatiasa menolong sesama. Bentuk kemajuan dalam pandangan islam adalah kebaikan yang melahirkan keunggulan hidup lahiriyah dan ruhaniyah. Energi ini yang ditularkan oleh KH Ahmad Dahlan kepada bangsa ini.

Ia berpesan “Manusia semua mati (seperti tidur) kecuali para ulama (yang ingat bahaya siksa Allah). Para ulama bingung (mengkhawatirkan dirinya sendiri takut disiksa di neraka) kecuali orang yang telah beramal. Orang yang telah beramal (masih takut disiksa di neraka) kecuali orang yang beramal dengan ikhlas.” 

Muhammadiyah adalah organisasi yang diperhitungkan oleh tingkat dunia. Bahkan ‘Aisyiyah (lembaga otonom Muhamamdiyah) terdaftar sebagai organisasi perempuan terbesar dunia. Ini artinya, kapasitas Muhamamdiyah di mata dunia semakin diperhitungkan. Saat ini, dunia semakin terhubung mudah oleh teknologi komunikasi yang berkembang pesat.  Kita dapat berinteraksi satu sama lain melewati batas geografi dan waktu.

Hal ini menyebabkan kebanyakan orang perlu berkolaborasi dengan orang-orang yang berasal dari budaya yang berbeda. Setiap orang akan terikat secara mendalam dalam berbagai hubungan dan tansaksi global. Kesadaran akan interaksi dan keterhubungan sistem politik, ekologi, budaya, dan ekonomi di dunia menjadikan kita harus berpikir global dalam melangkah.

Kesadaran keberagaman dan saling bergantung adalah modal awal dalam bergaul secara mendunia. Sejatinya, warga Muhammadiyah harus semakin memantapkan diri sebagai warga negara dunia, yang sadar akan realitas pluralitas, budaya global, hidup dan bekerja di dunia yang semakin saling bergantung.    

Seabad lebih Muhamamdiyah membersamai Negara Indonesia yang menuju usia seabad. Bangsa Indonesia dengan segala keragaman terus berpacu agar setara dan unggul di mata dunia. Peran Muhamamdiyah adalah memperkuat amal usaha dan intelektual di dalamnya untuk membangun keunggulan bangsa di kancah internasional.

 Implikasinya, empat isu penting dunia, yaitu kesetaraan, pemeliharaan perdamaian, Hak Asasi Manusia, lingkungan dan pembangunan menjadi agenda dalam sistem dakwah dan tajdid organisasi selanjutnya. Sistem yang mempersiapkan manusia yang mempunyai kompetensi komunikatif, berpikir kritis dan pemecahan masalah, kerjasama dan partisipasi, ketegasan dan toleransi, partisipasi dan resolusi konflik.

Serta istem yang membangun nilai menghormati diri sendiri dan orang lain, kepedulian ekologi, komitmen terhadap perdamaian dan keadilan, berpikiran terbuka, empati dan solidaritas, dan memahami konflik (agama, suku, dan peperangan). Sistem yang menegaskan tekad dan usaha untuk terus menerus menjadikan gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan pencerah dengan misi membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan.

Sistem yang mencetak manusia unggul yang mempunyai akal dan hati yang sehat.  “Sesungguhnya pada setiap pengujung seratus tahun, Allah akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbaharui agama mereka" (HR Abu Dawud No 3740). Apakah orang ini lahir atau dilahirkan oleh Muhammadiyah? Semoga.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement