Kamis 03 Nov 2022 07:10 WIB

Bunga Bangkai di Tasikmalaya Bukan Rafflesia Arnoldii

Buga bangkai tersebut biasa disebut suweg oleh masyarakat Sunda.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Ani Nursalikah
Seorang warga menunjukkan bunga bangkai yang tumbuh di halaman belakang pabrik tepung tapioka miliknya di Kampung Kebon Kelapa, Kelurahan Mulyasari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Rabu (2/11/2022). Bunga Bangkai di Tasikmalaya Bukan Rafflesia Arnoldii
Foto: Republika/Bayu Adji P
Seorang warga menunjukkan bunga bangkai yang tumbuh di halaman belakang pabrik tepung tapioka miliknya di Kampung Kebon Kelapa, Kelurahan Mulyasari, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Rabu (2/11/2022). Bunga Bangkai di Tasikmalaya Bukan Rafflesia Arnoldii

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Sebuah tanaman menyerupai bunga bangkai tumbuh di halaman belakang sebuah pabrik tepung tapioka terletak di Kampung Kebon Kelapa, Kecamatan Mulyasari, Kota Tasikmalaya, Rabu (2/11/2022). Tanaman itu tumbuh mekar sejak sepekan ke belakang.

Dosen Pendidikan Biologi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Siliwangi (Unsil) Kota Tasikmalaya Rinaldi Rizal Putra mengatakan tanaman itu bukan merupakan bunga rafflesia atau Rafflesia arnoldii. Menurut dia, bunga itu memiliki Amorphophallus titanum atau biasa disebut suweg oleh masyarakat Sunda.

Baca Juga

"Termasuk dalam golongan bunga bangkai, tapi berbeda dengan Rafflesia arnoldii," kata dia saat dikirimi foto itu oleh Republika, Selasa.

Ia menjelaskan, Rafflesia arnoldii merupakan tanaman dengan ciri khasnya hanya ada di beberapa hutan tertentu. Ia mencontohkan, bunga rafflesia itu terdapat di Bengkulu dan Cagar Alam Pangandaran.

 

Namun, tanaman suweg disebut bisa tumbuh di sembarang tempat atau tidak hanya di hutan. Bahkan, menurut dia, banyak suweg yang ditemukan di wilayah Rancah, Kabupaten Ciamis.

Menurut Rinaldi, bunga bangkai suweg sendiri merupakan tanaman yang tubuhnya terkubur di dalam tanah. Sementara di bagian atas hanya semacam bunga. Bunga itu biasanya mekar hanya tiga atau empat tahun sekali. Namun, untuk beberapa jenis bisa mekar setahun sekali.

Lantaran tanaman suweg itu bukan endemik, ia menilai, tidak bisa disebut langka. "Karena memang di satu tempat banyak tumbuh. Namun sangat fenomenalnya, ukuran bunga yang besar," ujar dia.

Sementara status konservasinya disebut termasuk dalam kategori Least Concern (LC: Risiko Rendah) yaitu kategori dari IUCN untuk spesies yang telah dievaluasi, tapi tidak masuk dalam kategori manapun. Pasalnya, tanaman itu dapat tumbuh di sembarang tempat atau tidak pada lokasi spesifik.

Menurut dia, hanya ada beberapa jenis bunga bangkai yang dilindungi, salah satunya Rafflesia arnoldii. Namun, untuk tanaman suweg belum termasuk flora yang dilindungi.

Sebelumnya, pemilik pabrik itu, Surya Kencana (64 tahun) mengatakan tanaman itu pertama kali muncul pada 2019. Ketika itu, salah seorang karyawannya menemukan tanaman yang mirip bunga bangkai di halaman belakang rumahnya.

"Awalnya kecil. Karyawan saya itu kemudian cari tahu dan setelah itu banyak orang datang," kata dia sambil menunjukkan tanaman itu, Rabu.

Menurut dia, petugas dari dinas terkait pernah melihat kondisi tanaman itu. Berdasarkan keterangan petugas tersebut, tanaman itu merupakan salah satu jenis bunga bangkai.

"Ada dari Kehutanan datang ke sini, benar bunga bangkai," kata Surya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement